Mengubah Sekolah di Bawah Karet Menjadi Sekolah Menyenangkan

Setelah melihat langsung bagaimana penataan ruang kelas sekolah yang lokasinya berada di bawah perkebunan karet tersebut, kita akan dibuat takjub.
Nurbaiti
Nurbaiti - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  09:55 WIB
Mengubah Sekolah di Bawah Karet Menjadi Sekolah Menyenangkan
Panggung Mini Literasi di SDN 2 Kalilumpang, Kendal, Jatim - Bisnis/Nurbaiti

Bisnis.com, JAKARTA -  “Alhamdulillah anak-anak kami sekarang kalau sekolah itu selalu semangat dan betah berlama-lama belajar di kelas. Bahkan, ada juga anak kelas 4 yang tidak mau naik ke kelas 5, saking senangnya belajar di kelas mereka yang lama.”

Ungkapan Kasiyanto, orang tua siswa sekaligus Ketua Komite Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Kalilumpang, Kecamatan Patean Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, sekilas terkesan berlebihan.

Tapi, setelah melihat langsung bagaimana penataan ruang kelas sekolah yang lokasinya berada di bawah perkebunan karet tersebut, kita akan dibuat takjub.

Untuk menuju lokasi sekolah dari pusat Pemerintahan Kabupaten Kendal dibutuhkan waktu lebih dari 1 jam. Selain itu, untuk sampai ke sekolah yang terkenal dengan sebutan ‘sekolah di bawah karet’ ini, juga harus melewati jalanan terjal dan menurun.

SDN 2 Kalilumpang, Kendal, Jatim/Bisnis-Nurbaiti

Lokasi sekolah ini memang terbilang jauh, di pelosok dan berada di bawah perkebunan karet. Namun semangat para guru dan orang tua murid untuk menciptakan atmosfer pendidikan yang menyenangkan bagi anak-anak di sana sungguh luar biasa.

Robingah, Kepala SDN 2 Kalilumpang mengungkapkan setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan melalui Program Pintar Tanoto Foundation sejak Septembe 2018, sekolah yang memiliki 104 murid dari kelas 1—6 dan 6 orang guru (3 orang PNS, 2 orang masih kuliah, dan satu orang belum memiliki ijazah pendidikan yang  linier dengan dunia kependidikan) serta 1 guru agama dan 1 penjaga sekolah ini tadinya biasa-biasa saja, tetapi sekarang menjadi luar biasa.

Robingah, Kepala SDN 2 Kalilumpang (1)-Bisnis-Nurbaiti

Dari penataan ruang kelas, lingkungan sekolah, budaya baca para murid, hingga kerja sama dengan komite dan paguyuban kelas, serta transparansi keuangan dan penyampaian berbagai informasi jauh lebih baik dari sebelumnya.

“Sekarang itu untuk urusan pendidikan anak-anak tidak lagi menjadi tugas pengajar di sekolah, tetapi seluruh elemen yang ada ikut terlibat, terutama para orang tua murid,” tutur Robingah.

Pojok Literasi salah satu kelas di SDN 2 Kalilumpang/Bisnis-Nurbaiti

Untuk penyampaian berbagai informasi, Kepala SDN 2 Kalilumpang terbilang maju karena sudah memanfaatkan aplikasi dari telepon pintar.

Demi kelancaran komunikasi, para guru mengajak komite membentuk paguyuban kelas, sehingga masing-masing kelas mempunyai satu pengurus yang beranggotakan para wali murid. Kemudian, semua elemen ini diajak membuat program dengan perencanaan yang matang, kapan serta bagaimana melaksanakannya, didiskusikan bersama melalui grup WhatsApp.

Salah satu kreasi orang tua dan murid di tembok kelas di SDN 2 Kalilumpang/Bisnis-Nurbaiti

Dari pengamatan Bisnis ketika berkunjung ke SDN 2 Kalilumpang, akhir Juli lalu, contoh nyata langsung terlihat begitu memasuki area sekolah. Lingkungan sekolah ditata sedemikian menarik dan menyenangkan bagi anak-anak.

Diawali dengan kegiatan Robingah membawa dan menata bunga-bunga di depan ruangan guru, diikuti dengan gerakan satu wali murid satu bunga, kini lingkungan sekolah tampak asri dengan warna-warni bunga.

“Saking senangnya orang tua, pas anak-anaknya naik kelas, pot-pot sama bunganya juga digotong ke kelas yang baru. Otomatis untuk anak kelas 1, para orang tuanya juga mengikuti bawa satu pot bunga,” kata Robingah sambil tertawa.

Terkait kebersihan lingkungan sekolah ada istilah ‘Alisa Berkreasi (Aku datang, aku lihat sampah, bersihkan, dan berkreasi)’ yang berlaku bagi semua orang yang ada dan datang ke lingkungan sekolah.

Para murid juga diberi kebebasan berkreasi dan berekspresi menciptakan tempat sampah sesuai kreativitas mereka, sehingga menghilangkan kesan kumuh dan bau. Hasil akhirnya, di setiap depan kelas tampak tempat sampah unik dan berwarna-warni.

Sementara itu, untuk pengambilan sampah para murid diberikan tanggung jawab sesuai dengan jadwal piketnya, dimulai dengan Senin sebagai hari pertama masuk sekolah untuk kelas 6.

“Pengambilan dan pembersihan sampah dimulai dari kelas 6. Sebagai kakak tertua, murid kelas 6 juga jadi contoh bagi adik-adiknya, dengan mendampingi dan menegur dengan bahasa yang bagus. Untuk murid kelas kecil karena belum bisa pegang sapu lidi, ngambil sampah pakai lidi. Tak terasa mereka telah membuat bersih lingkungan,” tutur Robingah.

PENATAAN KELAS

Selanjutnya, para ketua paguyuban masing-masing kelas juga menggerakkan wali murid untuk saling berkreasi menata ruang kelas menjadi lebih menarik.

Diawali oleh kelas 4, kelas-kelas lain meniru dan saling berlomba menata kelas. Bahkan para wali murid yang mayoritas bekerja di perkebunan karet ini rela menyulap ruang kelas anak-anaknya tanpa kenal lelah, bahkan dari malam hingga pagi hari.

“Kami berpikir kalau ruangan kelas itu menarik dan menyenangkan, anak-anak akan betah dan semangat belajarnya dengan harapan prestasinya juga bagus,” ungkap Witanto, Ketua paguyuban murid kelas 4, 5, dan 6.

Untuk menyulap ruangan kelas ini, mereka memanfaatkan bahan-bahan yang ada di gudang sekolah. Kalau pun ada biaya tambahan, para wali murid secara spontan dan suka rela mengumpulkan dana sesuai dengan kebutuhan.

Agar kegiatan belajar semakin menyenangkan, posisi meja dan kursi tidak lagi diatur menghadap satu arah ke papan tulis, tetapi dibuat melingkar atau berkelompok saling berhadapan. Tujuannya agar murid bisa saling berdiskusi terkait apa yang dipelajari.

Suasana belajar di SDN 2 Kalilumpang-Bisnis-Nurbaiti

Selain mengecat ulang tembok kelas sesuai tema kelas, para wali murid juga membuat pojok literasi atau pojok baca di setiap kelas agar anak-anak menjadi gemar membaca. Koleksi bukunya merupakan sumbangan para wali murid dari program Saku Anak (Satu buku satu anak), selain dari Tanoto Foundation.

“Kami juga membuat gazebo dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di gudang biar anak-anak semangat untuk mencintai buku,” ujar Witanto.

Demi memantik semangat dan budaya baca para murid, setiap Selasa ditetapkan sebagai Hari Literasi, yang diperuntukkan bagi siapa saja yang ada di sekolah termasuk murid, guru, hingga orang tua murid dan pedagang yang datang untuk membaca buku selama 15 menit.

Menariknya, di area sekolah juga disiapkan panggung mini literasi agar murid bisa belajar tampil dan menceritakan kembali buku yang sudah dibaca di hadapan guru dan teman-temannya.

Siswa dibiasakan untuk gemar membaca/Bisnis-Nurbaiti

Bagi murid kelas kecil yang belum terampil membaca, disiapkan Klinik Baca. Murid yang belum terampil membaca ini akan didampingi guru dan kakak kelas yang sudah lancar membaca.

Di conblock area sekolah juga dibuat gambar berisi deretan huruf-huruf dengan berbagai warna menarik, yang disebut dengan Pijak Kata.

Pijak Kata, untuk meningkatkan minat baca murid di SDN 2 Kalilumpang/Bisnis-Nurbaiti

Dengan segala upaya orang tua dan guru menggiatkan literasi, murid-murid di sekolah ini bahkan sudah memiliki karya dalam bentuk buku dan sudah ber-ISBN.

Terkait dengan program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (Pintar) Pintar, Margaretha Ari, Deputy Head Program Pintar Tanoto Foundation menjelaskan SDN 2 Kalilumpang merupakan salah satu sekolah mitra yang sudah bekerja sama sejak September 2018 lalu.

Bagi sekolah mitra, mulai dari kepala sekolah hingga guru-gurunya mendapatkan pelatihan dan pendampingan dengan modul metode mengajar yang sudah disiapkan Tanoto Foundation.

"Karena tujuannya hanya memberikan contoh saja dan kami enggak mungkin melatih semua sekolah di setiap kabupaten, makanya kami pilih 16 SD dan 8 SMP. Ini diharapkan menularkan ke sekolah-sekolah lainnya. TF [Tanoto Foundation] bertindak sebagai katalis, fasilitator untuk diseminasi, menjangkau lebih banyak [sekolah] lagi,” tuturnya.

SDN 2 Kalilumpang, satu di antara 16 Sekolah Dasar Mitra Tanoto Foundation: Diharapkan menularkan semangat yang sama/Bisnis-Nurbaiti

Ari menambahkan, program Pintar tidak hanya menjangkau SD dan SMP di Kabupaten Kendal melainkan juga Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) ikut dilibatkan.

Tanoto Foundation merupakan lembaga filantropi yang fokus pada permasalahan pendidikan di Indonesia, yakni hasil Pisa Score yang menunjukkan Indonesia masih berada di posisi bawah. Program sampai tingkat pengajaran itu diharapkan dapat merangsang proses kegiatan belajar mengajar yang dinilai lebih efektif untuk menghasilkan murid berkualitas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sekolah, tanoto foundation

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top