Lawan Trump, Pendiri Huawei Ren Zhengfei Bakal Ciptakan Pasukan Besi

Pendiri Huawei Technologies, Ren Zhengfei, berencana menciptakan ‘pasukan besi’ yang dapat membantu raksasa teknologi China ini menghadapi gencarnya serangan Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  14:15 WIB
Lawan Trump, Pendiri Huawei Ren Zhengfei Bakal Ciptakan Pasukan Besi
Logo perusahaan Huawei terlihat di kantor pusat perusahaan di Shenzhen, Provinsi Guangdong, Cina 17 Juni 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pendiri Huawei Technologies, Ren Zhengfei, berencana menciptakan ‘pasukan besi’ yang dapat membantu raksasa teknologi China ini menghadapi gencarnya serangan Amerika Serikat (AS).

Langkah itu merupakan bagian dari upaya perombakan Huawei yang kira-kira akan berlangsung tiga hingga tahun dan diharapkan dapat pula melindungi dominasi perusahaan dalam generasi nirkabel di masa mendatang.

“Akan ada perubahan-perubahan struktural yang besar saat sanksi-sanksi AS mengancam kelangsungan bisnis smartphone penting perusahaan,” tutur Ren dalam memo internal yang diperoleh oleh Bloomberg dan telah diverifikasikan oleh juru bicara Huawei.

“Bisnis konsumen menghadapi kondisi panjang yang merugikan,” tambahnya.

Huawei tengah bergulat dengan ancaman eksistensial setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump melarangnya membeli teknologi perusahaan-perusahaan AS, mulai dari cip Qualcomm Inc. hingga OS Android produksi Google.

Ren, 74, menganggap perlunya pembenahan internal kini untuk memenuhi kebutuhan di kala pergulatan. Ini artinya, bagian-bagian yang dinilai tidak perlu atau berlebihan akan dihilangkan. Tidak dijelaskan bagaimana restrukturisasi macam ini akan dilancarkan.

“Kami harus menyelesaikan perombakan dalam kondisi yang keras dan sulit, dengan menciptakan pasukan besi tak terkalahkan yang dapat membantu kami mencapai kemenangan,” tulis Ren dalam memo tertanggal 2 Agustus itu.

“Kami benar-benar harus menuntaskan re-organisasi ini dalam tiga hingga lima tahun.”

Ren, seorang mantan insinyur di Tentara Pembebasan Rakyat China, tidak asing dengan bahasa militeristik. Taipan ini pernah menyinggung soal “penarikan strategis” dari pasar tertentu sebagai tanggapan terhadap meningkatnya pengawasan dari pemerintah AS.

Huawei sendiri belum menjelaskan bagaimana larangan Trump akan berdampak pada 190.000 karyawannya di seluruh dunia. Tapi perusahaan telah mulai memberhentikan stafnya yang berbasis di AS, seperti dilaporkan Wall Street Journal.

Larangan itu telah membawa pertumbuhan penjualan yang lebih lambat pada kuartal kedua dibandingkan dengan kuartal pertama tahun ini, terutama pada bisnis konsumen yang mencakup ponsel cerdas dan laptop.

Pada Jumat (9/8/2019), perusahaan ini meluncurkan sistem operasi (OS) sendiri bernama Harmony yang disebut-sebut dapat menggantikan Android.

Namun, Ren mengatakan Huawei membutuhkan lebih banyak waktu untuk membangun ekosistem aplikasi, persyaratan utama agar perangkat lunak yang beroperasi berkembang dalam jangka panjang.

"Dua peluru yang ditembaki kelompok bisnis konsumen kami sayangnya menghantam tangki minyak,” paparnya dalam memo yang sama, tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Di sisi lain, Ren juga berbicara tentang keunggulan Huawei melawan AS dalam teknologi telekomunikasi generasi kelima. Dominasi perusahaan di dunia 5G banyak dipandang menjadi motivasi aksi AS untuk mengendalikannya, karena teknologi ini diperkirakan dapat mendorong ekonomi modern di masa depan.

“AS tidak menggunakan teknologi 5G tercanggih. Ini mungkin membuatnya tertinggal di sektor kecerdasan buatan,” pungkas Ren.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
huawei, Donald Trump

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top