Namanya Disebut Megawati di Kongres V PDIP, Apa Keistimewaan Ahok?

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sudah bergabung dengan PDI Perjuangan sejak awal 2019.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 09 Agustus 2019  |  12:45 WIB
Namanya Disebut Megawati di Kongres V PDIP, Apa Keistimewaan Ahok?
Mantan Gubernur DKI Jakarta yang juga kader PDI Perjuangan (PDIP) Basuki Tjahaja Purnama (kedua kanan) mengikuti pembukaan Kongres V PDIP di Sanur, Bali, Kamis (8/8/2019). - ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

Bisnis.com, DENPASAR -- "Ahok, Ahok, Ahok!"

Teriakan itu keluar dari mulut sejumlah orang di Ruang Agung Hotel Grand Inna Beach, Sanur, Bali, Kamis (8/8/2019).

Sesaat sebelum acara pembukaan Kongres Nasional V PDI Perjuangan (PDIP) di ruangan itu dimulai, teriakan nama panggilan Basuki Tjahaja Purnama itu terdengar jelas. Bukan tanpa alasan nama eks Gubernur DKI Jakarta itu diteriakkan.

Ahok memang hadir di Pembukaan Kongres V PDIP. Statusnya sebagai kader PDIP sejak awal 2019, membuat Ahok wajar datang ke forum musyawarah tertinggi di partainya.

Kehadiran Ahok di Kongres V PDIP juga sudah dikonfirmasi sebelum acara dimulai oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP periode 2015-2020 Hasto Kristiyanto.

Momen kehadirannya di Kongres V PDIP menjadi spesial karena ini adalah pertama kalinya Ahok tampil di muka publik mengenakan seragam kebesaran partai pemenang Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 ini. Sebelumnya, saat mendaftar sebagai kader di DPD PDIP Bali, Ahok belum mengenakan seragam PDIP.

Sorotan terhadap Ahok tak berhenti di situ. Pada sambutan di Pembukaan Kongres V, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri juga mengungkit kehadiran mantan Bupati Belitung Timur ini.

Nama Ahok disebut Mega di antara nama para tamu undanganlainnya di pembukaan Kongres V PDIP. Awalnya, Mega menyebut nama Ahok dengan singkatan BCP.

Bukan tanpa sebab Mega menyebut Ahok dengan akronim BCP. Usai dirinya bebas dari penjara akhir Januari 2019, Ahok memang tak mau lagi dipanggil dengan nama kecilnya itu. Dia meminta dirinya dipanggil BTP.

Mega mengaku heran dengan perubahan nama panggilan Ahok. Menurutnya, ketika berbicara Pancasila, nilai gotong-royong yang menjadi dasar falsafah negara, nama panggilan seseorang mestinya tak mendapat penolakan.

Jika seorang Warga Negara Indonesia (WNI) memiliki nama Aseng, Ahok, maupun Badu, maka seharusnya hal itu tak dipermasalahkan.

"Saya bilang wong namanya begitu, masa tidak boleh. [Makanya] Tadi saya hapal namanya, Basuki Cahaya Purnama. Saya panggil, 'Pak Purnama apa kabar?'," lanjutnya, disambut tawa peserta Kongres V.

Makna Kehadiran Ahok bagi PDIP
Menurut Wakil Sekjen PDIP periode 2015-2020 Eriko Sotarduga, ada maksud di balik penyebutan nama Ahok di pidato sambutan Mega, kemarin.

Mega disebut hendak menunjukkan bahwa dia tak melupakan Ahok meski saat ini, dia tak lagi memegang jabatan politik. Selepas dari penjara, Ahok memutuskan tak terjun ke dunia politik selain bergabung dengan PDIP. 

"Dalam hal ini, Ibu mau mengingatkan, di tengah esensi berbagai perbedaan, di tengah sekarang problem radikalisme, politik identitas, kita tidak boleh mengabaikan yang namanya prinsip kita saling menghargai, bertoleransi, menghormati," ujarnya, Jumat (9/8). 

Mega juga dianggap ingin mengingatkan bahwa bangsa Indonesia tak terbentuk karena adanya mayoritas atau minoritas. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia harus saling menghormati dan menghargai tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, dan golongan. 

Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2017, isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) sempat merebak luas. Isu pun melibatkan Ahok, yang ketika itu menjadi calon gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.
 
Ahok bahkan menjadi tersangka dan tahanan atas kasus penistaan agama. Kasus itu pada akhirnya memicu sejumlah aksi yang digelar di ibu kota, yang beberapa di antaranya dikenal dengan nama Aksi 411 serta 212.
 
"Ahok itu, yang disebut BTP, BCP, adalah bagian dari PDI Perjuangan dan kami tidak pernah meninggalkan beliau, tidak pernah mau mengatakan bahwa karena ada hal seperti itu dia bukan bagian kami. Nah, itu yang ingin ditunjukkan ketua umum kami," terang Eriko.
 
Dalam pidato politiknya, Mega sempat menyinggung bahayanya isu radikalisme dan disintegrasi yang muncul pada Pemilu 2019. Isu tersebut dianggapnya tak boleh didiamkan.
 
Mega menegaskan kader PDIP harus meresapi pesan Presiden pertama RI Soekarno bahwa toleransi dan demokrasi adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan dalam berpolitik. Jika intoleransi digunakan dalam Pemilu, maka demokrasi Pancasila akan musnah.

Kader PDIP juga diingatkan agar waspada dan mencegah maraknya isu intoleransi pada Pilkada 2020.
 
Meski mengakui pesan-pesan terselubung yang disampaikan Megawati dalam pidato politiknya, Eriko menyebut PDIP belum berniat menganggu keputusan Ahok yang ingin rehat dari dunia politik.
 
"Beliau itu sekarang mau cari makan. Itu yang saya tahu, serius. Bahwa beliau mau menjadi profesional, mencari rezeki dulu. Apakah beliau ada rencana politik? Belum ada. Karena saya dampingi beliau waktu bertemu dengan Ibu Mega, tidak ada," ungkapnya.

Eriko meminta publik untuk menghargai keinginan Ahok saat ini, yakni menata kehidupan pribadi dan keluarganya terlebih dulu. 

"Biarlah kita berikan kesempatan beliau, PDI Perjuangan memberi kesempatan pada beliau untuk menata kehidupannya dulu. Soal nanti politik atau apa, nanti lah. Tanyakanlah pada beliau dan tentunya PDI Perjuangan ini kan sudah bersama-sama beliau dan tentunya akan konsisten seperti itu," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pdip, ahok

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top