Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

China Sebut AS Gerogoti Stabilitas Global

Di tengah perang perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) yang berlarut-larut hingga saat ini, China kembali melontarkan komentar tuduhan, kali ini terkait pertahanan dan keamanan global.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  11:18 WIB
Presiden AS Donald Trump (kiri) menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping untuk membahas perdagangan kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). - Reuters/Kevin Lamarque
Presiden AS Donald Trump (kiri) menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping untuk membahas perdagangan kedua negara di sela-sela KTT G20 di Osaka, Jepang, Sabtu (29/6/2019). - Reuters/Kevin Lamarque

Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah perang perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) yang berlarut-larut hingga saat ini, China kembali melontarkan komentar tuduhan, kali ini terkait pertahanan dan keamanan global.

Dilansir Bloomberg, China menuduh AS telah merusak stabilitas global, dalam makalah pertahanan pertamanya sejak Presiden Xi Jinping memulai perombakan militer secara menyeluruh pada tahun 2015.

Makalah yang berjudul "Pertahanan Nasional China di Era Baru”, yang megacu kepada slogan Xi, mengatakan bahwa AS telah memprovokasi persaingan antara negara-negara besar. Laporan tersebut mencatat bahwa sistem keamanan dan ketertiban internasional dirusak oleh tumbuhnya hegemonisme, politik kekuasaan, unilateralisme, dan konflik dan perang regional yang konstan.

Bahasa tersebut mewakili kelanjutan dari laporan sebelumnya, yang berfokus pada upaya untuk meningkatkan kerjasama militer antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia ini.

Xi sedang mempersiapkan untuk merayakan 70 tahun pemerintahan Partai Komunis di Beijing akhir tahun ini di tengah perang dagang dengan AS yang telah memperburuk sejumlah perselisihan termasuk soal pertahanan keamanan antara kedua negara.

Pemerintahan Presiden Donald Trump tahun lalu mengeluarkan laporan yang menuduh China melakukan agresi ekonomi, sebagai lanjutan dari keputusan Pentagon untuk menyebut negara tersebut sebagai "pesaing strategis."

Sementara itu, perselisihan mengenai dukungan militer Washington untuk Taipei muncul kembali ketika AS menyetujui penjualan senjata, mempublikasikan transit angkatan laut yang melalui Selat Taiwan, dan menunjukkan dukungan lain untuk Presiden Taiwan Tsai Ing-wen.

Laporan resmi tersebut menyoroti patroli terbaru oleh kapal perang dan pesawat perang China di sekitar Taiwan, dan mengatakan operasi tersebut seakan memberikan "peringatan keras" kepada para pendukung kemerdekaan, yang mengacu ke Partai Progresif Demokratik Tsai.

Selain itu, makalah tersebut juga mengatakan situasi di Laut Cina Selatan umumnya stabil dan membaik karena negara-negara regional mengelola risiko dan perbedaan pendapat dengan tepat. AS telah menuduh China melakukan militerisasi Laut China Selatan dengan mengerahkan pasukan menuju perairan, sementara China mengatakan peningkatan patroli angkatan laut AS merusak stabilitas.

Pengeluaran militer Cina turun menjadi 1,26 dari total pengeluaran pada tahun 2017, dibandingkan dengan pada 5,43 persen pada tahun 1979.

Selama periode tersebut, China mengalami pertumbuhan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan naik dari kekuatan militer yang relatif lemah menuju negara dengan anggaran militer terbesar kedua di dunia setelah AS.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china xi jinping partai komunis china
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top