Indeks Alibaca 2019: Akses Hambat Budaya Baca Anak Indonesia

Berdasarkan Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) 2019, ada korelasi yang kuat antara akses terhadap buku rendah dan budaya membaca di Indonesia.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 22 Juni 2019  |  14:23 WIB
Indeks Alibaca 2019: Akses Hambat Budaya Baca Anak Indonesia
Ilustrasi - Seorang guru pedamping membacakan soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) kepada murid berkebutuhan khusus di SD Inklusi Betet I, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (3/5). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Berdasarkan Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) 2019, ada korelasi yang kuat antara akses terhadap buku yang rendah dan budaya membaca di Indonesia. Indeks yang digagas Pusat Penelitian Kebijakan dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut memetakan 4 dimensi dalam aktivitas literasi dengan menggunakan berbagai data sekunder.

Empat dimensi yang diukur dalam indeks ini antara lain, pertama, kecakapan dengan indikator angka bebas buta aksara dan rata-rata lama sekolah. Kedua, akses yang terdiri atas perpustakaan di berbagai lingkup daerah, seperti perpusatakaan umum, komunitas, sekolah, kabupaten/kota, dan sebagainya. Ketiga, dimensi alternatif yakni penggunaan media selain buku konvensional seperti buku digital. Keempat, dimensi budaya yang bisa diterjemahkan sebagai kebiasaan membaca.

Lukman Solihin, peneliti di Pusat Penelitian Kebijakan dan Kebudayaan menjelaskan, hasil perhitungan memperlihatkan bahwa Indeks Alibaca nasional masuk dalam kategori aktivitas literasi rendah, yaitu berada di angka 37,32.

Nilai tersebut tersusun atas, dimensi kecakapan sebesar 75,92; dimensi akses sebesar 23,09; dimensi alternatid 40,49; dan dimensi budaya sebesar 28,50. Distribusi pada keempat dimensi sekaligus memperlihatkan sumbangan masing-masing dimensi dimana akses dan budaya menyumbang peranan terkecil.

"Ada korelasi antara [dimensi] akses dan [dimensi budaya atau] kebiasaan. Hal itu bisa dilihat dari sebagian besar pegiat lietrasi yang bilang minat baca sangat tinggi, itu potensi yang belum meuwjud menjadi kebiasaan dan budaya," kata Lukman.

Dimensi akses, yang dinilai berkorelasi dan berdampak pada rendahnya budaya membaca, tersusun dari subdimensi akses di sekolah dan subdimensi akses di masyarakat. Akses di sekolah diperoleh dari dua indikator, yaitu perpustakaan sekolah dalam kondisi baik sebesar 24,06 (kategori rendah) dan persentase petugas pengelola perpustakaan sekolah sebesar 14,34 (kategori sangat rendah).

Sedangkan pada subdimensi akses di masyarakat indikator penyumbangnya memiliki poin yang cukup variatif, antara lain keberadaan perpustakaan umum dengan poin 47,09 (kategori sedang); keberadaan perpustakaan komunitas sebesar 13,16 (kategori sangat rendah); serta rumah tangga yang membeli surat kabar dan majalah masing-masing 32,46 (kategori rendah) dan 20,02 (kategori rendah).

Indikator perpustakaan umum tersusun oleh tiga komposit, antara lain (1) keberadaan perpustakaan provinsi, (2) perpustakaan kabupaten/kota, dan (3) perpustakaan desa. Dari ketiga komposit tersebut, perpustakaan provinsi dan perpustakaan kabupaten/kota menyumbang peran besar karena setiap provinsi dan kabupaten/kota saat ini umumnya telah memiliki perpustakaan daerah. Sementara untuk perpustakaan desa masih sangat kurang jumlahnya apabila dibandingkan dengan jumlah desa yang ada.

Lukman mengatakan, dimensi kecakapan secara nasional sudah tinggi, yang berarti pemberantasan buta aksara dan rata-rata lama sekolah sudah baik. Artinya anak-anak Indonesia sebenarnya siap untuk membaca, hanya saja terhalang akses yang kurang terhadap buku dan bahan bacaan, sehingga berdampak pada rendahnya budaya membaca.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pendidikan, literasi

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup