Jika Perang Dagang Makin Panas, China Diminta Batasi Akses Perusahaan Finansial AS

Sebuah kelompok pelobi yang mewakili bank global dan manajer aset, meminta pemerintah China lebih fokus pada program reformasi ekonomi. China juga disarankan membatasi akses bagi perusahaan finansial AS jika perang dagang kembali memanas dan merembet ke sektor finansial.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 13 Juni 2019  |  18:48 WIB
Jika Perang Dagang Makin Panas, China Diminta Batasi Akses Perusahaan Finansial AS
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Sebuah kelompok pelobi yang mewakili bank global dan manajer aset, meminta pemerintah China lebih fokus pada program reformasi ekonomi. China juga disarankan membatasi akses bagi perusahaan finansial AS jika perang dagang kembali memanas dan merembet ke sektor finansial.

Asosiasi Industri & Pasar Keuangan Sekuritas Asia (ASIFMA) juga mendesak Beijing untuk mempercepat pembukaan pasar keuangan guna menarik modal asing yang sangat dibutuhkan untuk membantu perlambatan ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan.

"China benar-benar perlu membuka pasar untuk kepentingan mereka sendiri dan menciptakan akses yang transparan, adil, tidak diskriminatif ke pasar domestik," kata CEO ASIFMA Mark Austen, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (13/6/2019).

Austen menambahkan dirinya belum memiliki bukti apakah pemerintah China lebih menyukai perusahaan non-AS, ketimbang firma yang berbasis di Amerika Serikat.

Pada Maret, raksasa perbankan AS JP Morgan memenangkan persetujuan regulator dari China untuk mengambil kendali mayoritas atas usaha patungan (join venture) sekuritasnya.

Wewenang ini menempatkan JP Morgan sejajar dengan saingannya seperti Swiss UBS dan HSBC yang berkantor pusat di London, yang sudah lebih dulu memiliki hak tersebut.

Berdasarkan laporan Reuters bulan lalu, JP Morgan juga hampir menjadi perusahaan asing pertama yang memiliki mayoritas bisnis reksadananya di China.

Ketegangan antara Washington dan Beijing telah meningkat tajam sejak negosiasi perdagangan menghadapi kebuntuan bulan lalu, ditambah lagi dengan aksi balas membalas tarif yang lebih tinggi antarkedua negara.

Tidak lama berselang, Amerika Serikat memperkeruh keadaan dengan merilis daftar hitam yang menjerat raksasa telekomunikasi China Huawei Technologies.

Di tengah kekhawatiran sengketa perdagangan dapat memengaruhi sektor industri lain seperti hasil tambang langka hingga pasar modal, China pada Selasa (11/6), berjanji akan memberikan respons keras jika Trump bersikeras menambah beban dengan penerapan tarif terhadap sisa impor.

Pejabat pemerintah China telah berjanji untuk melanjutkan reformasi sektor finansial negara.

"Kami akan membuka akses pada sektor perbankan, asuransi, sekuritas, dan trust China," kata Guo Shuqing, Kepala Komisi Pengaturan Perbankan dan Asuransi China (CBIRC), di forum keuangan di Shanghai. 

Dia juga mengatakan bahwa pemerintah menyambut manajer aset global berpengalaman, bersama dengan pemain domestik, untuk meningkatkan modal yuan, dan berinvestasi di pasar sekuritas berdenominasi yuan.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada hari Kamis, ASIFMA mengeluh bahwa China lamban dalam memberikan izin operasi lokal kepada lembaga pemeringkat Fitch, dan perusahaan pembayaran kartu bank asal AS, seperti Visa dan Mastercard, tetapi Austen tidak melihat keterkaitan antara kasus-kasus ini dengan meningkatnya ketegangan perdagangan.

"Kami tentu melihat pada titik ini tidak ada bukti eskalasi yang sangat signifikan dalam memperlambat perusahaan AS masuk ke pasar China, untuk menguntungkan perusahaan non-AS atau non-China lainnya," kata Austen.

Dalam laporannya, ASIFMA mendesak China untuk mempercepat reformasi pasar modal, melonggarkan aturan kepemilikan asing, dan menciptakan tingkat persaingan yang baik antara perusahaan domestik dan asing.

China dinilai perlu meningkatkan level transformasi menuju ekonomi yang didorong oleh konsumsi dan memangkas ketergantungannya pada ekspor.

Untuk itu, harus ada peningkatan permintaan domestik yang nyata bagi China untuk mengembangkan pasar modal sendiri dan memungkinkan investasi asing mengalir masuk, dengan bantuan dari perusahaan asing beroperasi di Tiongkok untuk membantu pengembangan tersebut.

ASIFMA juga mendesak China untuk melonggarkan kendali terhadap pergerakan modal, bahkan ketika perang perdagangan memicu kekhawatiran tentang arus modal keluar dan depresiasi yuan.

"China telah berubah menjadi sensitif terhadap arus modal keluar sejak 2015-2016, dan dengan meningkatnya ketegangan perdagangan, mereka akan menjadi lebih sensitif dalam jangka pendek. Tapi pembatasan aliran keluar akan mencegah masuknya modal asing," kata Austen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top