UEA Klaim Penyerangan 4 Tanker Didalangi Pemerintah Negara Tertentu

Dalam laporannya ke Dewan Keamanan (DK) PBB, Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan serangan dilakukan dengan sangat canggih.
Annisa Margrit | 07 Juni 2019 11:26 WIB
Ilustrasi kapal tanker. - ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah Uni Emirat Arab mengklaim serangan terhadap empat tanker di perairannya didalangi oleh state actor alias orang-orang di pemerintahan negara tertentu. 

Hal itu disampaikan Uni Emirat Arab (UEA) kepada Dewan Keamanan (DK) PBB, seperti dilansir BBC, Jumat (7/6/2019). Namun, tidak disebutkan tepatnya siapa yang menjadi pelaku penyerangan tersebut.

Dalam laporannya, Pemerintah UEA mengatakan bahwa serangan itu dilakukan dengan sangat canggih.

"Serangan yang terjadi memerlukan navigasi yang sangat ahli atas kapal cepat yang mampu masuk ke perairan di teritori UEA," papar laporan itu.

Beberapa penyelam menyerang keempat tanker menggunakan ranjau khusus untuk merusak kapal, meski tidak menyebabkan ledakan besar terhadap kapal-kapal pembawa minyak itu.

Serangan terhadap empat tanker itu terjadi di perairan UEA, tepatnya di Fujairah, dekat Selat Hormuz, Minggu (12/5). Dua dari 4 tanker tersebut berbendera Arab Saudi, 1 kapal Norwegia, dan 1 lagi milik UEA.

Pemerintah AS sebelumnya menuding Iran berada di balik serangan tersebut. Penasihat Keamanan AS John Bolton menyatakan jelas bahwa Iran berada di balik peristiwan ini dan menuturkan bahwa serangan itu merupakan bentuk kampanye yang lebih besar untuk melawan AS serta sekutunya.

Namun, hal itu dibantah keras oleh Teheran, yang meminta segera dilakukan penyelidikan atas peristiwa ini.

Hubungan antara AS dan Iran kembali menegang setelah Presiden AS Donald Trump memutuskan keluar dari perjanjian nuklir damai yang melibatkan kedua negara pada 2018. Negeri Paman Sam pun sudah menjatuhkan berbagai sanksi terhadap negara Timur Tengah itu, termasuk sanksi ekonomi dan melarang pembelian minyak dari Iran.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak, uni emirat arab

Sumber : BBC

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top