Studi: China Bertanggung Jawab Atas Lonjakan Penggunaan Zat Perusak Ozon

China disebut menjadi penyebab atas peningkatan penggunaan zat perusak lapisan ozon (ozone-depleting substances/ODS) ilegal sejak 2013, menurut sebuah studi yang diterbitkan jurnal Nature, Kamis (23/5/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  12:13 WIB
Studi: China Bertanggung Jawab Atas Lonjakan Penggunaan Zat Perusak Ozon
Ilustrasi-Seorang pria melakukan olahraga pagi dengan latar belakang asap pabrik di seberang sungai Songhua di Provinsi Jilin, China (24/2/2013). - Reuters/Stringer

Bisnis.com, JAKARTA – China disebut menjadi penyebab meningkatnya penggunaan zat perusak lapisan ozon atau ozone-depleting substances, ODS, ilegal sejak 2013, menurut sebuah studi yang diterbitkan jurnal Nature, Kamis (23/5/2019).

Studi ini juga menuduh perusahaan-perusahaan dalam negeri melanggar larangan produksi global.

Dilansir Reuters, sekitar 40 hingga 60 persen kenaikan penggunaan trichlorofluoromethane (CFC-11) perusak ozon yang dilarang sejak 2013 dapat terkait dengan aktivitas di provinsi industri Shandong dan Hebei di Cina Utara

Selain itu, studi yang dilakukan peneliti dari Australia's Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation dan University of Bristol ini juga mempelajari data atmosfer dari Korea Selatan dan Jepang.

Mereka memperkirakan emisi CFC-11 dari daratan China bagian timur selama periode 2014-2017 mencapai sekitar 7 juta kilogram per tahun lebih tinggi daripada pada periode 2008-2012.

Kementerian Ekologi dan Lingkungan China belum memberikan komentar mengenai studi ini.

CFC-11, yang pernah digunakan dalam lemari pendingin dan AC, adalah salah satu bahan kimia yang dilarang di bawah Protokol Montreal, sebuah perjanjian untuk melindungi lapisan ozon bumi dengan menghapus semua produksi CFC global pada tahun 2010.

CFC-11 di atmosfer menurun secara substansial, namun sejak 2012 penggunaannya kembali mengalami peningkatan.

China mengesahkan perjanjian tersebut pada tahun 1991 dan mengatakan tahun lalu pihaknya telah menghilangkan sebanyak 280.000 ton kapasitas produksi ODS tahunan dan mempercepat upaya untuk menghapus bahan kimia perusak ozon lainnya.

Tetapi sebuah laporan pada tahun lalu oleh Environmental Investigation Agency (EIA) yang berbasis di London mengklaim puluhan perusahaan di China masih menggunakan CFC-11 dalam produksi busa poliuretan.

"Perjanjian tersebut sangat efektif, namun, masih ada pengguna yang masih menyimpan persediaan lama dan produsen nakal yang menentang perjanjian internasional yang ditandatangani pemerintah mereka tersebut," kata Ian Rae, penasihat teknis untuk Protokol Montreal, seperti dikutip Reuters.

China meluncurkan gerakan inspeksi khusus terhadap 3.000 produsen busa di seluruh negeri tahun lalu dan berjanji akan menghukum setiap pelanggaran perjanjian Montreal.

Mereka mengkklaim pada Maret telah menutup dua tempat produksi yang menghasilkan CFC-11 sebagai bagian dari tindakan tegas tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, ozon

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top