AS Tuduh Suriah Gunakan Senjata Kimia untuk Serang Idlib

AS saat ini masih mengumpulkan informasi tentang insiden tersebut dan terus mengulang ancamannya terhadap Suriah jika benar adanya penggunaan senjata kimia.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 22 Mei 2019  |  15:46 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Amerika Serikat menuduh Pemerintah Suriah kemungkinan melancarkan serangan menggunakan senjata kimia, termasuk dugaan serangan klorin pada Minggu (19/5/2019) di barat laut Suriah.

Jika terbukti benar, AS mengancam akan mengambil tindakan. “Sayangnya, kami terus melihat tanda-tanda bahwa rezim Assad mungkin memperbarui penggunaan senjata kimia, termasuk dugaan serangan klorin di barat laut Suriah pada pagi hari, 19 Mei,” kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus dikutip dari Reuters, Rabu (22/5/2019).

AS saat ini masih mengumpulkan informasi tentang insiden tersebut dan terus mengulang ancamannya terhadap Suriah jika benar adanya penggunaan senjata kimia.

Ortagus menduga serangan itu adalah bagian dari kampanye kekerasan oleh pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad yang melanggar gencatan senjata di wilayah Idlib.

“Serangan rezim terhadap komunitas di barat laut Suriah harus diakhiri,” katanya.

Pemerintahan Presiden Donald Trump telah dua kali membom Suriah atas dugaan penggunaan senjata kimia oleh Assad, pada April 2017 dan April 2018. Pada September, seorang pejabat senior AS mengatakan ada bukti yang menunjukkan senjata kimia sedang dipersiapkan oleh pasukan pemerintah Suriah di Idlib.

Dalam pernyataan Departemen Luar Negeri AS tersebut, AS menuduh Rusia dan pasukan Assad melakukan ‘disinformasi’ atas serangan senjata kimia. Mereka dituduh menciptakan narasi yang salah dengan menyalahkan pihak lain atas serangan tersebut.

Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya mengatakan, pemerintah Suriah memiliki sejarah menggunakan senjata kimia ketika pertempuran semakin intensif. Namun, pejabat itu tidak mengetahui adanya konfirmasi tentang zat apa yang diduga digunakan, dan mengatakan pemerintah AS masih mengumpulkan informasi.

Atas pernyataan AS ini, pemerintah Suriah belum mengeluarkan komentar.

Sementara itu, pada Maret lalu, media pemerintah Suriah melaporkan terdapat 21 orang menderita gejala tersedak gas beracun setelah pemberontak menembaki sebuah desa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suriah

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top