Bangun Masyarakat Sadar Wakaf, Bisnis.com Raih Apresiasi Badan Wakaf Indonesia

Badan Wakaf Indonesia (BWI) memberikan apresiasi pada media massa, Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU), serta Nazhir Wakaf yang dinilai berkontribusi memajukan wakaf nasional.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 14 Mei 2019  |  15:48 WIB
Bangun Masyarakat Sadar Wakaf, Bisnis.com Raih Apresiasi Badan Wakaf Indonesia
Ketua Badan Pelaksana BWI Mohammad Nuh tengah menyerahkan apresiasi pada Wapemred Bisnis Indonesia Chamdan Purwoko kiri dan Wapemred Republika Nur Hasan Murtiaji kanan atas kontribusi membuat masyarakat sadar wakaf di Indonesia - Bisnis/Aziz R

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Wakaf Indonesia (BWI) memberikan apresiasi pada media massa, Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU), serta Nazhir Wakaf yang dinilai berkontribusi memajukan wakaf nasional.

Ketua Badan Pelaksana BWI Mohammad Nuh menyerahkan apresiasi ini dalam acara Media Gathering dan Bincang Wakaf Produktif, Mercure Hotel Gatot Subroto, Selasa (14/5/2019).

"Kita berusaha terus meningkatkan jumlah wakif [pemberi wakaf] melalui literasi dan kesadaran. Jadi kawan-kawan media punya peran luar biasa untuk itu," ungkap pria yang pernah menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2009-2014.

Bisnis.com menjadi salah satu media massa yang dinilai berpartisipasi dan berdedikasi memberitakan perwakafan nasional untuk percepatan pembangunan masyarakat sadar wakaf, di samping Republika dan Tribunnews.com.

Sementara itu, LKS-PWU yang dianggap berpartisipasi, mampu bekerjasama, dan mendukung BWI dalam memajukan perwakafan nasional, yakni BNI Syariah, CIMB Niaga Syariah, BJB Syariah, Bank Syariah Mandiri, Bank Mega Syariah, Bank DKI Syariah.

Sedangkan para nazhir wakaf atau pengelola wakaf yang diberikan apresiasi yaitu Yayasan Dompet Dhuafa Republika dan Mandiri Amal Insani Foundation.

Dalam bincang wakaf ini, selain berterima kasih atas peran para tamu, M Nuh menjelaskan beberapa program BWI, misalnya wakaf yang produktif, serta wakaf linked sukuk yang bekerjasama dengan Bank Indonesia dan OJK.

Menurutnya, paradigma masyarakat bahwa wakaf itu sama seperti infaq dan sedekah perlu dikikis perlahan. Sebab, wakaf merupakan gabungan antara sosial dan entrepreneur.

"Kalau infaq dan sedekah itu analoginya kamu dikasih ayam, boleh dipotong atau diapakan saja. Tapi kalau wakaf, ayam itu tidak boleh langsung dipotong. Harus jadi produktif dari telurnya, sampai bisa jadi ternak. Itu wakaf," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wakaf

Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top