Indonesia-Inggris Gelontorkan Rp37 M Danai 6 Riset, dari Soal DB hingga Infeksi Otak

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Asean, dan Timor Leste Moazzam Malik mengatakan, untuk mewujudkan kerja sama riset di bidang kesehatan ini, pihak Indonesia dan Inggris telah membentuk join working group dan telah mengadakan pertemuan untuk ketiga kalinya pekan lalu.
Denis Riantiza Meilanova | 13 Mei 2019 16:31 WIB
Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Inggris bekerja sama untuk mendanai penelitian di bidang penyakit menular senilai Rp37 miliar.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, sebanyak enam penelitian di bidang penyakit menular akan didanai melalui program Newton Fund antara Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dan Medical Research Council.

"Inggris mendanai Rp32 miliar dan Indonesia menyediakan dana Rp5 miliar. Itu untuk 3 tahun. Harapannya kolaborasi ini bisa menghasilkan terobosan di bidang penyakit menular," ujar Nasir di Kantor Kemenristekdikti, Jakarta, Senin (13/5/2019).

Dia menuturkan, hasil kerja sama ini akan meningkatkan ketahanan dan kesiapan Indonesia dalam menangani penyakit menular yang mematikan, termasuk melalui intervensi kebijakan maupun pengembangan teknologi farmasi dan inovasi alat medis.

Menurutnya, Indonesia masih memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap potensi penyakit menular, seperti tuberkulosis (TBC), HIV, malaria, dan demam berdarah.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Asean, dan Timor Leste Moazzam Malik mengatakan, untuk mewujudkan kerja sama riset di bidang kesehatan ini, pihak Indonesia dan Inggris telah membentuk join working group dan telah mengadakan pertemuan untuk ketiga kalinya pekan lalu.

Rencananya, sebelum akhir tahun ini, join working group akan kembali mengadakan pertemuan untuk memastikan kemajuan nyata dari kerja sama ini.

"Saya kira riset ini tidak hanya akan jadi riset yang disimpan di perpustakaan. Tapi sangat relevan untuk masyarakat Indonesia. Kami akan pastikan riset ini berdampak ke rakyat," kata Moazzam.

Adapun enam riset yang didanai ini telah melalui proses seleksi yang terbuka, transparan, dan kompetitif. Sebanyak 22 proposal yang masuk dinilai oleh tim pengkaji dari Indonesia dan Inggris, 18 proposal yang lolos didiskusikan pada panel meeting pada November 2018, sampai akhirnya tim memutuskan enam proposal yang didanai.

Enam riset yang didanai adalah:

1. "Cathelicidins as Novel Therapeutic Antivirals for Dengue Infection." Riset ini bertujuan menguji apakah molekul cathelicidins yang diproduksi kekebalan tubuh manusia dapat dimodifikasi untuk memerangi demam berdarah.

2. "Pathogen exchange at the human wildlife interface-a comprehensive molecular study on vector-borne disease in rural Sulawesi." Riset ini bertujuan memahami peran interaksi binatang dan manusia dalam penyebaran penyakit menular, seperti malaria.

3. "Feasibility, acceptability, and impact of an innovative, tailored HIV prevention intervention for MSM at high-risk of HIV in Indonesia." Riset ini bertujuan menyelidiki pencegahan HIV.

4. "Using host-response and pathogen genomics to improve diagnostics for tuberculosis in Bandung." Bertujuan untuk mengidentifikasi pasien TBC sejak dini dan meningkatkan pengawasan pada masa pengobatan.

5. "Improving diagnosis of brain infections in Indonesia using novel and established molecular diagnostic tools." Bertujuan menyelidiki pemakaian peralatan molekuler yang dapat meningkatkan diagnosa penderita infeksi otak.

6. "Point of care tests in the diagnosis of chronic and allergic aspergillosis." Bertujuan mengembangkan uji diagnosa yang lebih mudah dan terjangkau.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kesehatan, menristekdikti, kemenristekdikti, penyakit menular

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup