Hukum Mati Gay Dikritik, Sultan Brunei Perpanjang Moratorium Hukuman Mati

Setelah dihujani kritik dari masyarakat internasional, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah memutuskan untuk memperpanjang moratorium hukuman mati atas pemberlakuan undang-undang hukum pidana Syariah.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 06 Mei 2019  |  08:55 WIB
Hukum Mati Gay Dikritik, Sultan Brunei Perpanjang Moratorium Hukuman Mati
Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah mengikuti pertemuan ASEAN Leaders Gathering di Hotel Sofitel, Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018). - ANTARA/Afriadi Hikmal

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah dihujani kritik dari masyarakat internasional, Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah memutuskan untuk memperpanjang moratorium hukuman mati atas pemberlakuan undang-undang hukum pidana Syariah.

Brunei pada 3 April lalu efektif memberlakukan undang-undang pidana syariah yang menghukum mati gay, pelaku sodomi, pezinah, dan pemerkosa dengan dirajam atau dilempari batu.

"Saya menyadari bahwa banyak pertanyaan dan salah paham dengan pelaksanaan undang-undang pidana syariah. Begitupun, kami percaya bahwa setelah ini dijernihkan, pahala hukum akan terbukti," kata Sultan Brunei beberapa saat menjelang Ramadan, seperti dikutip dari Channel News Asia, Minggu (5/5/2019).

Sultan Brunei memastikan moratorium hukuman mati untuk kasus-kasus common law selama 2 tahun terakhir akan diberlakukan untuk kasus-kasus yang ditangani undang-undang hukum pidana syariah, termasuk akan memperluas remisi, atau pengurangan masa hukuman.

Kantor Sultan juga merilis pidato Sultan Brunei yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Ini hal tidak biasa terjadi.

Hukum common law dan hukum syariah bertujuan memastikan perdamaian dan harmoni di negara ini.

Penerapan undang-undang pidana syariah, menurut seorang peserta membuat PBB di Jenewa mengeluarkan kecaman.

Sejumlah organisasi HAM dan para artis dunia yang dipimpin George Clooney dan Elton John mengajak boikot hotel yang dimiliki Sultan Brunei Hasanal Bolkiah dan keluarganya, termasuk Hotel Dorchester di London, Inggris serta Hotel Beverly Hills di Los Angeles, Amerika Serikat. Sejumlah perusahaan perjalanan turis telah berhenti mempromosikan Brunei Darussalam sebagai tujuan turis.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hukuman mati, brunei darussalam, LGBT

Sumber : Tempo

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup