Ini Tips Keselamatan Ketika Hadapi Ancaman Bencana Gempa

Indonesia memiliki potensi bencana gempabumi yang besar. Untuk itu, kesadaran terhadap ancaman bencana gempabumi perlu terus disosialisasikan.
Agne Yasa | 25 April 2019 21:18 WIB
Hadianto Wardjaman, Unsur Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan tips keselamatan menghadapi bencana gempa bumi/JIBI - Bisnis/Agne Yasa

Bisnis.com, BANDUNG – Indonesia memiliki potensi bencana gempabumi yang besar. Untuk itu, kesadaran terhadap ancaman bencana gempabumi perlu terus disosialisasikan.

Hadianto Wardjaman, Unsur Pengarah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang juga pendiri dan pemilik Jakarta Rescue mengatakan setiap insan harus menyadari potensi bencana yang ada di Indonesia dan memetakan ancaman bahayanya apa saja.

"Untuk mengetahuinya bisa [lihat aplikasi] INARisk yang bisa diperkecil ke tingkat wilayah kelurahan," ujar Hadianto, Kamis (25/4/2019).

Dia mencontohkan Jakarta secara umum juga memiliki ancaman megathrust, yaitu adanya beberapa sesar yang bisa menjadi ancaman bencana. BPBD DKI Jakarta bersama pemda juga telah membuat SK Gubernur tentang pengelola gedung bertingkat dengan rambu-rambunya yang bertujuan untuk menyelematkan penghuni gedung.

"Harapan saya semua provinsi, gubernur, BPBD sudah menyadari hal itu, untuk membentuk sebuah ketentuan dimana di wilayahnya ada gedung bertingkat, karena ini sangat rentan," ujarnya.

Kemudian, membentuk satuan unit tanggap darurat mandiri. Hal ini, katanya, karena begitu terjadi bencana, tidak hanya bisa mengandalkan pihak lain.

"Harus orang-orang yang ada di berada di gedung itu sendiri. Bagaimana melakukan penyelamatan," katanya.

Dia menjelaskan dalam situasi gempa, langkah sederhana yang dapat dipraktikkan yaitu melindungi kepala, dagu dan leher dengan kedua tangan.

“Teknik drop, cover, hold on," ujar Hadianto dalam Diklat Teknis Penangulangan Bencana Bagi Wartawan sebagai rangkaian kegiatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2019 yang terpusat di Lembang, Jawa Barat.

Hadianto menjelaskan yang dimaksud drop yaitu merangkaklah sedekat mungkin ke lantai.  Kemudian, cover berarti berlindunglah di bawah meja yang kuat; dan terakhir hold on merujuk pada berpegangan pada salah satu kaki meja.

Hadianto menegaskan bahwa tidak direkomendasikan dengan teknik triangle of life. Menurutnya, teknik ini dapat berujung pada dampak yang buruk.

“BNPB tidak menganjurkan pada teknik  triangle of life," katanya. 
 
Selain itu, teknik lain yang dapat digunakan bertahan hidup ketika konteks bencana gempa adalah jika ada kursi, balikkan kursi sehingga kepala terlindung dan kaki kursi menjadi pelindung.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bnpb, bencana alam

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top