Setop Impor Minyak dari Iran, Rusia Paling Diuntungkan

Vladimir Putin dan Rusia mungkin menjadi pihak yang paling diuntungkan atas kebijakan Donald Trump terhadap ekspor minyak Iran.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 24 April 2019  |  13:48 WIB
Setop Impor Minyak dari Iran, Rusia Paling Diuntungkan
Presiden Rusia Vladimir Putin - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Vladimir Putin dan Rusia mungkin menjadi pihak yang paling diuntungkan atas kebijakan Donald Trump terhadap ekspor minyak Iran.

Mengutip CNN, Rabu (24/4/2019), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan mengakhiri keringanan sanksi bagi negara-negara yang mengimpor minyak Iran. Sebelumnya, AS memberlakukan pengecualian kepada negara sekutu dan mitranya terhadap larangan impor minyak Iran.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya Trump untuk menekan Iran agar menghentikan pendanaan terhadap teroris dan mengekang aktivitas nuklirnya.

"Tujuan kami adalah membuat negara-negara berhenti mengimpor minyak Iran sepenuhnya," kata Pompeo pada Senin (22/4/).

"November lalu, kami memberikan pengecualian dari sanksi kami ke tujuh negara dan Taiwan. Kami melakukan ini untuk memberikan sekutu dan mitra kami [kesempatan] untuk menyapih diri dari minyak Iran, dan untuk memastikan pasar minyak yang dipasok dengan baik. Hari ini saya mengumumkan bahwa kami tidak akan lagi memberikan pengecualian," lanjutnya.

Dengan diakhirinya keringanan sanksi, pemerintahan Trump menyatakan bahwa AS tidak akan lagi mengizinkan China, Jepang, Korea Selatan, dan lima negara lainnya untuk membeli minyak dari Iran.

Dalam beberapa menit setelah pengumuman tersebut harga minyak mentah mulai melonjak. Menurut David Andelman, kolumnis CNN, kenaikan harga minyak tersebut merupakan keuntungan bagi Rusia sebagai salah satu pemasok minyak terbesar di dunia.

Dengan ekspor minyak yang mencapai 60 persen  dari total ekspor barang dagangan Rusia dan 30 persen dari PDB, setiap kenaikan dolar harga minyak akan segera diterjemahkan ke dalam peningkatan dramatis dalam posisi keuangan Rusia. Meski tidak cukup membantu, keuntungan itu dapat menutupi kerugian beberapa dampak dari sanksi AS dan Eropa Barat terhadap Rusia atas pencaplokan Crimea dari Ukraina.

Rusia memproduksi sekitar 11 juta barel minyak per hari. Setiap kenaikan dolar dalam harga per barel minyak mentah menambah setidaknya US$4 miliar pada ekonomi Rusia tiap tahunnya. Selain itu, Rusia mengalami surplus anggaran tahun lalu yang mendekati 3% dari PDB, lebih tinggi dari perkiraan, seperti yang disebutkan Menteri Ekonomi Rusia Maxim Oreshkin kepada Financial Times pada Desember lalu. Itu adalah surplus anggaran tahunan pertama sejak 2011.

Sementara itu di sisi lain, kenaikan harga minyak yang dapat meningkatkan ekonomi Rusia itu, akan membebani sekutu-sekutu AS dan Eropa Barat yang mengonsumsi sekitar 13 juta barel minyak per hari.

Selain itu, ada ancaman nyata lainnya terhadap pasokan minyak Eropa, terutama akibat dari kerusuhan yang sedang berlangsung di Libya, tepat di seberang Laut Tengah. Daerah tersebut telah memompa sekitar 1,2 juta barel minyak, sehari sebelum kerusuhan terakhir dan sebagian besar ditujukan ke Eropa.

Ada kekhawatiran bahwa kerusuhan tersebut dapat mengurangi setengah pasokan minyak yang dihasilkan wilayah tersebut yang berpotensi membuat harga minyak semakin naik. Ujung-ujungnya hal tersebut akan memberikan angin segar bagi perekonomian Rusia.

Setidaknya Rusia dan China, yang menjadi korban utama tindakan embargo Trump, telah mempersiapkan kondisi saat ini selama bertahun-tahun. Pada Januari 2018, jalur pipa minyak Rusia-China yang kedua resmi beroperasi.

Jalur pipa ini meningkatkan kapasitas Rusia untuk memenuhi kebutuhan minyak China yang berkembang pesat. Biayanya juga lebih murah daripada pengiriman dengan perjalanan laut yang panjang dengan kapal tanker super mahal dari Iran ke pelabuhan minyak China terdekat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rusia, Donald Trump

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top