Roti Jadi Barang Mewah di Zimbabwe

Harga roti di Zimbabwe melonjak hampir dua kali  lipat, Selasa (16/4) waktu setempat. Hal itu menjadi beban tambahan bagi warga yang telah berjuang karena pelemahan mata uang dan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok. 
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 17 April 2019  |  18:42 WIB
Roti Jadi Barang Mewah di Zimbabwe
Kawanan gajah di Zimbabwe - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Harga roti di Zimbabwe melonjak hampir dua kali  lipat, Selasa (16/4) waktu setempat. Hal itu menjadi beban tambahan bagi warga yang telah berjuang karena pelemahan mata uang dan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok. 

Dilansir dari Reuters, Rabu (17/4), roti kini berharga 3,50 dolar RTGS per roti. Jumlah itu naik dari 1,80 pada hari sebelumnya. Demikian menurut harga yang ditampilkan oleh sebagian besar toko yang dikunjungi oleh Reuters di ibu kota, Harare. 

Pada Februari, dihadapkan dengan kekurangan akut dolar AS, Zimbabwe mengenalkan mata uang baru yang disebut dolar Real Time Gross Settlement (RTGS). Sejak saat itu, mata uang itu telah kehilangan nilai, sehingga memaksa perusahaan menaikkan harga. 

Pada Selasa (16/4), dolar RTGS diperdagangkan pada level 3,19 terhadap dolar AS di pasar antar bank. Adapun di pasar gelap diperdagangkan pada level 5 per dolar AS. Artinya sepotong roti berharga sekitar 70 sen AS  setara Rp10.000, di negara dengan pendapatan rata-rata penduduknya sekitar US$4 per hari. 

Menurut lembaga statistik Zimstats, inflasi tahun ke tahun tercatat, melaju ke 66,8% pada Maret lalu. Jumlah itu naik dari 59,39% dari bulan sebelumnya. 

"Roti kini sudah menjadi barang mewah. Berapa banyak orang yang mampu membelinya dengan kenaikan harga seperti ini. Pemerintah perlu melakukan sesuatu sebelum lepas kendali [harga roti],"kata Sarah Chisvo, ibu rumah tangga yang membeli bahan makanan di suparemarket id Harare tengah. 

Roti merupakan makanan pokok paling banyak dikonsumsi masyarakat Zimbabwe, setelah jagung. Pada Januari 2019, kenaikan harga bahan baakar telah menyebabkan protes yang menewaskan beberapa orang setelah tindakan keras dari militer. 

Sementara harga barang-barang kebutuhan dasar terus melonjak, pendapatan masyarakat sebagian besar tetap tidak berubah. Alhasil meningkatkan kemarahan publik terhadap pemerintah Presiden Emmerson Mnangagwa.

Zimbabwe menderita dampak ganda dari kekeringan dan topan yang menghancurkan bagian timur negara itu. Hal itu berarti negara tersebut perlu mengimpor makanan menggunakan dolar yang langka, sehingga akan memberikan tekanan lebih lanjut pada nilai tukar dan harga mata uang lokal. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
soroti berita (28/1)

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup