Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi tidak percaya dengan hasil survei nasional yang selalu mengalahkan jagoannya. Kenyataan di lapangan saat kampanye, antusiasme masyarakat selalu tinggi.
Direktur Kampanye Badan Pemenangan Nasional (BPN) Sugiono mengatakan bahwa tidak masuk akal jika hasil survei kalah tapi masyarakat selalu membludak ketika Prabowo atau Sandi safari politik.
“Saya kira hasil ini bertentangan dengan logika,” katanya di Jakarta, Rabu (10/4/2019).
Sugiono menjelaskan bahwa alasan timnya tidak memercayai survei nasional karena pada pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun lalu hasilnya jauh meleset.
Pada pilkada tahun lalu di Jakarta contohnya. Hasil survei beberapa lembaga survei menempatkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada kisaran 47 persen. Akan tetapi hasil hitung resmi adalah 57,9 persen.
Jawa Barat demikian. Pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu memiliki elektabilitas di bawah 10 persen. Saat penghitungan resmi, mereka memperoleh 28,7 persen.
Sementara Jawa Tengah pasangan Sudirman Said-Ida Fauziah memiliki popularitas antara 13-22 persen. Hasilnya, mereka dapat 41,2 persen.
Kini, hasil beberapa lembaga merilis Prabowo-Sandi kalah terpaut sekitar 10 persen. Padahal, berdasarkan kajian internal, pasangan nomor urut 02 ini berada pada 62 persen sementara lawannya 32 persen.
“Namun kita juga harus jaga bahwa suara rakyat yang kita tangkap bisa dijaga dan apa yang jadi amanat, jadi janji kampanye yang akan kita tunaikan,” jelas Sugiono.