Lampaui Apple, Laba Bersih Saudi Aramco Terbesar di Dunia

Laba yang dikantongi perusahaan minyak nasional Arab Saudi itu bahkan lebih besar dari gabungan laba raksasa teknologi Apple dan raksasa minyak AS, Exxon Mobil. Menurut data Moody's Investors Service, laba bersih Apple tahun lalu mencapai US$59,5 miliar dan Exxon sebesar US$20,8 miliar.
Denis Riantiza Meilanova | 02 April 2019 00:58 WIB
Sebuah pemandangan menunjukkan fasilitas minyak Abqaiq Saudi Aramco di Arab Saudi timur - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA--Dengan laba bersih mencapai US$111,1 miliar atau sekitar Rp1.579 triliun pada 2018, raksasa minyak Saudi Aramco menjadi perusahaan dengan laba terbesar di dunia.

Laba yang dikantongi perusahaan minyak nasional Arab Saudi itu bahkan lebih besar dari gabungan laba raksasa teknologi Apple dan raksasa minyak AS, Exxon Mobil. Menurut data Moody's Investors Service, laba bersih Apple tahun lalu mencapai US$59,5 miliar dan Exxon sebesar US$20,8 miliar.

Mengutip Bloomberg, Senin (1/4/2019), besaran laba Aramco terungkap dari laporan keuangan Aramco yang diungkap ke publik karena rencananya menjual obligasi di pasar internasional. Penerbitan surat berharga itu untuk mengakuisisi 70% saham perusahaan petrokimia, Sabic, senilai sekitar US$69 miliar.

Meski mencetak laba besar, laporan keuangannya menunjukkan Aramco tidak menghasilkan banyak uang tunai per barel seperti perusahaan minyak terkemuka lainnya, seperti Royal Dutch Shell Plc, karena adanya beban pajak yang berat. Menurut Fitch Ratings, Aramco melaporkan aliran dana dari operasi sebesar US$26 per barel ekuivalen minyak tahun lalu. Itu di bawah apa yang dinikmati oleh perusahaan-perusahaan minyak besar, seperti Shell dan Total SA, yang masing-masing menikmati US$38 dan US$31 per barel.

"Dana dari operasi, yang merupakan arus kas operasi sebelum perubahan modal kerja, adalah ukuran terbaik untuk membandingkan profitabilitas perusahaan minyak, karena Ebitda tidak memperhitungkan pajak akun," ujar Dmitry Marinchenko, Direktur Senior Fitch di London.

Ketergantungan Arab Saudi pada Aramco untuk membiayai pengeluaran sosial dan militer, serta gaya hidup mewah dari ratusan pangeran, menempatkan beban berat pada aliran uang tunai Aramco. Perusahaan itu membayar 50 persen dari labanya pada income tax, ditambah skala royalti yang dimulai dari 20 persen dari pendapatan perusahaan dan naik hingga 50 persen dengan harga minyak.

Menurut Moody, pada 2018 Aramco melaporkan arus kas dari operasi sebesar US$121 miliar dan US$35,1 miliar dalam pengeluaran modal, serta membayar US$ 58,2 miliar dalam bentuk dividen kepada pemerintah Saudi.

Sementara itu, kedua lembaga pemeringkat internasional, baik Fitch Ratings dan Moody's Investors Service memberikan Aramco peringkat investasi tertinggi kelima, sama dengan peringkat utang pemerintah Saudi, tetapi lebih rendah dari peringkat perusahaan minyak lainnya, seperti Exxon, Shell, dan Chevron.

Fitch memberikan peringkat A+ untuk Aramco, yakni satu tingkat di bawah AA- untuk Shell dan Total. Sementara Moody memberikan A1, jauh di bawah peringkat Aaa yang diberikan untuk Exxon.

Fitch mengatakan peringkat A+-nya mencerminkan "hubungan kuat" antara perusahaan dan kerajaan Arab Saudi, serta pengaruh negara terhadap Aramco melalui pengaturan tingkat produksi, perpajakan, dan dividen.

Raksasa minyak itu telah mengamanatkan bank-bank untuk mengadakan roadshow menerbitkan obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat mulai 1 April. Perusahaan akan mengadakan pertemuan dengan investor dalam beberapa hari mendatang di kota-kota, antara lain London, New York, Boston, Singapura, Hong Kong, Tokyo, Los Angeles dan Chicago.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saudi aramco

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup