Ma'ruf Amin Mengaku Dipilih Jadi Cawapres karena Alasan Ini

Saya tak pernah bercita-cita menjadi cawapres. Keluarga saya menginginkan saya menjadi kiai, tahunya jadi calon wakil presiden.
Lalu Rahadian | 28 Maret 2019 15:13 WIB
Calon Wakil Presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin menyapa warga saat melakukan kunjungan di Ponpes Salafiyah Diponegoro Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (1/3/2019). - ANTARA/Idhad Zakaria

Bisnis.com, JAKARTA - Calon wakil presiden bukanlah cita-cita Ma'ruf Amin. Hal itu diungkapkan Ma'ruf saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Habibiah Mantrijeron, Yogyakarta, Kamis (28/3/2019).

Dalam kunjungannya, cawapres nomor urut 01 itu menyebut tak pernah ingin menjadi cawapres. Ma'ruf mengklaim keluarganya hanya ingin dia menjadi kiai.

"Saya tak pernah bercita-cita menjadi cawapres. Keluarga saya menginginkan saya menjadi kiai, tahunya jadi calon wakil presiden," kata Ma'ruf seperti tertulis dalam keterangan resmi untuk wartawan.

Ma'ruf mengaku tak pernah memasang target tinggi dalam hidup. Hal itu sama seperti saat dia terpilih menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Ma'ruf mengaku tak pernah berniat menduduki posisi Rais Aam. Dia menyebut posisi itu sebagai maqom. Kriteria yang utama adalah, Rais Aam harus ahli dalam hukum Islam agar segala kebijakan sesuai dengan fikih.

Kedua, kata dia, Rais Aam harus seorang organisator agar NU bisa dikelola dengan baik.

"Ketiga harus menggerakkan. Gerakan ulama untuk melindungi, memperbaiki dan melayani umat," katanya.

Dalam pemilihan Rais Aam PBNU di Yogyakarta, kata Ma'ruf, tidak ada yang mau maju. Saat itu pula akhirnya dia ditunjuk secara aklamasi oleh kiai-kiai NU menjadi Rais Aam.

"Tahu-tahu saya diminta jadi Rais Aam. Saya ini Rais Aam karena ada kebutuhan saja. Sekarang juga begitu, dipilih jadi cawapres," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pemilu 2019, Pilpres 2019, Ma'ruf Amin, Kampanye Terbuka

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top