LAPORAN DARI JEPANG : Bencana Bisa Menjadi Awal dari Kisah Indah

Kecelakaan nuklir akibat gempa bumi di Prefektur Fukushima, Jepang, pada 2011 menghancurkan ribuan bangunan dan menewaskan ribuan penduduk Negeri Sakura.
Yodie Hardiyan | 14 Maret 2019 13:57 WIB
Ilustrasi - Bangunan yang porak-poranda akibat gempa bumi 9 Skala Richter (SR) yang memicu tsunami di Onagawa, Prefektur Miyagi, Jepang, pada 11 Maret 2011. - Bisnis/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Kecelakaan nuklir akibat gempa bumi di Prefektur Fukushima, Jepang, pada 2011 menghancurkan ribuan bangunan dan menewaskan ribuan penduduk. Namun, itu bukan akhir dari sebuah cerita bagi masyarakat setempat.

Setelah peristiwa itu terjadi, pemerintah dan masyarakat berupaya membangun kembali apa yang telah rusak. Mereka merestorasi tempat tinggal dengan membangun rumah bagi penduduk terdampak bencana alam dan nuklir.

Bagi penduduk yang terdampak gempa dan tsunami, pemerintah prefektur menargetkan pembangunan 2.807 unit tempat tinggal yang telah selesai 100%. Bagi penduduk yang dievakuasi dari wilayah bencana nuklir, pemerintah menargetkan 4.890 unit dan telah selesai 96% per November 2018.

Di samping membangun rumah, Pemerintah Prefektur Fukushima juga membangun kembali infrastruktur yang rusak seperti jalan dan jembatan, pelabuhan, pelabuhan ikan, taman dan fasilitas urban, pantai dan sebagainya. Sebagian besar pekerjaan telah selesai. Sebagian lagi akan diselesaikan pada 2020.

Selain itu, pemerintah prefektur juga membangun jaringan jalan baru untuk mendukung daerah yang mengalami kerusakan serius. Jalan baru itu ditargetkan selesai pada 2023 dengan 8 rute yang akan melengkapi rute yang sudah ada.

Di bidang lingkungan, tingkat radiasi udara di Prefektur Fukushima juga diklaim telah menurun signifikan pada saat ini dibandingkan dengan April 2011 atau sebulan setelah gempa bumi yang mengakibatkan kecelakaan nuklir.

Menurut data Pemerintah Prefektur Fukushima, proses dekontaminasi tanah telah selesai sepenuhnya, kecuali di daerah tertentu (difficult-to-return zone). Pemerintah juga mendekontaminasi tanah pertanian melalui sejumlah metode.

Bencana memang sempat memporak-porandakan Jepang. Namun, semangat juang untuk kembali membangun daerah yang rusak dan terkontaminasi radiasi nuklir telah membuahkan hasil yang signifikan.  Di situlah awal sebuah cerita indah dimulai, meninggalkan rasa duka cita yang telah lama tergulung bencana.

Apakah bahan makanan yang diproduksi di Fukushima aman untuk dikonsumsi? Pemerintah Prefektur Fukushima menunjukkan data beras (brown rice) yang diproduksi pada 2018 telah diuji sampelnya sebanyak 6,6 juta ton. Menurut mereka, 0,00% porsi sampel yang melebihi batas aman.

Berbagai data singkat itu menunjukkan bahwa hasil dari upaya tak kenal lelah ditunjukkan oleh Pemerintah Jepang dalam kurun 8 tahun terakhir. Meski ada saja kekuarang di sana-sini, itu menjadi bagian dari sebuah proses perbaikan yang nyata.

Pada 2020, sebuah cerita baru akan tercipta di Fukushima. Deputy Director & Assistant Director International Affairs Division di Pemerintah Prefektur Fukushima Yasunori Oshima menyatakan, pihaknya memiliki berita yang membanggakan mengenai Fukushima.

Fukushima akan menjadi bagian dari pesta olahraga internasional terbesar di dunia yaitu Olimpiade. Seperti diketahui, Tokyo akan menjadi tuan rumah Olimpiade pada 2020 yang akan diikuti seluruh negara di dunia ini.

Di Olimpiade tersebut, pertandingan baseball dan softball akan diselenggarakan di Fukushima. Di sisi lain, pawai obor (torch relay) Olimpiade akan dimulai dari Fukushima pada Maret 2020. “(Kegiatan) ini akan menjadi dorongan besar untuk bekerja keras,” kata Yasunori.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
fukushima, tsunami, gempa bumi

Sumber : Bisnis Indonesia

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup