Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Dikabarkan Larang Terbang Pesawat Boeing 737 MAX

Otoritas China dikabarkan meminta maskapai-maskapai penerbangan domestik untuk sementara menghentikan operasional pesawat jet Boeing 737 MAX.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 11 Maret 2019  |  08:47 WIB
Beoing 737 Max 9 - AirlineReporter
Beoing 737 Max 9 - AirlineReporter

Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas China dikabarkan meminta maskapai-maskapai penerbangan domestik untuk sementara menghentikan operasional pesawat jet Boeing 737 MAX.

Sebagaimana diberitakan Bloomberg, mengutip laporan majalah Caijing di Beijing yang didasarkan pada informasi dari pelaku industri penerbangan negeri tersebut, langkah itu disampaikan menyusul pemberitaan mengenai jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines Boeing 737 MAX 8 pada Minggu (10/3/2019).

Menurut data hingga Januari 2019 dalam situs web resmi Boeing, China Southern Airlines Co. memiliki 16 pesawat model tersebut dan memesan 34 lainnya. Sementara itu, China Eastern Airlines Corp dan Air China Ltd. Masing-masing memiliki 13 dan 14 pesawat model yang sama.

Maskapai penerbangan China lain yang tercatat telah membeli Boeing 737 MAX di antaranya adalah Hainan Airlines Holdings Co. dan Shandong Airlines Co.

Bloomberg sendiri sejauh ini belum berhasil mendapatkan konfirmasi dari kantor administrasi dan keselamatan penerbangan Civil Aviation Administration of China terkait kabar tersebut.

Sementara itu, perwakilan Boeing belum menyampaikan tanggapan apa pun selain mengatakan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan pengiriman tim teknis guna membantu penyelidikan kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines.

Seperti diberitakan, pesawat Ethiopian Airlines Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi ET - AVJ tujuan Nairobi jatuh pada Minggu (10/3/2019) pagi waktu setempat.

Pesawat itu meninggalkan Bandara Bole di Addis Ababa sekitar pukul 8.39 waktu setempat. Namun beberapa menit berselang, menara kontrol kehilangan kontak dengan pesawat tersebut.

Insiden ini memberi pukulan lebih lanjut untuk reputasi Boeing dan berpotensi mengancam kinerja keuangan manufaktur pesawat terbang yang berbasis di Chicago, Amerika Serikat (AS) itu.

Berdasarkan situs web perusahaan, maskapai-maskapai China berkontribusi sekitar 20% dari pengiriman Boeing 737 MAX di seluruh dunia hingga Januari.

Menurut estimasi Bloomberg Intelligence, model pesawat ini berkontribusi hampir sepertiga dari laba operasi perusahaan dan diperkirakan akan menghasilkan pendapatan tahunan senilai sekitar US$30 miliar seiring meningkatnya produksi tahun ini.

Kecelakaan itu menjadi insiden mematikan kedua untuk model Boeing 737 MAX dalam lima bulan terakhir. Pada 29 Oktober 2018, pesawat Lion Air dengan model yang sama jatuh ke Laut Jawa serta menewaskan total 189 penumpang dan awaknya.

Seperti halnya insiden yang dialami Ethiopian Airlines, pesawat Lion Air Boeing 737 MAX 8 jatuh tak lama setelah lepas landas dari Jakarta. Laporan awal menunjukkan bahwa pilot Lion Air berupaya keras mempertahankan kendali setelah mengalami malfungsi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

boeing 737 pesawat jatuh
Editor : Fajar Sidik
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top