Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gus Mis: Puisi Neno Warisman Menunjukkan Nafsu Politik

Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi, angkat bicara menanggapi polemik yang beredar di masyarakat terkait puisi Neno Warisman dalam acara Malam Munajat 212 sebagai upaya mencampuradukkan masalah agama ke dalam politik.
Herdiyan
Herdiyan - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  04:00 WIB
Jemaah Munajat 212 melaksanakan Salat Magrib di Monas, Jakarta, Kamis (21/2/2019). Kegiatan Munajat 212 dan zikir bersama tersebut bertujuan untuk mempererat persatuan semua elemen bangsa Indonesia. - ANTARA/Rivan Awal Lingga
Jemaah Munajat 212 melaksanakan Salat Magrib di Monas, Jakarta, Kamis (21/2/2019). Kegiatan Munajat 212 dan zikir bersama tersebut bertujuan untuk mempererat persatuan semua elemen bangsa Indonesia. - ANTARA/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA – Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi, angkat bicara menanggapi polemik yang beredar di masyarakat terkait puisi Neno Warisman dalam acara Malam Munajat 212 sebagai upaya mencampuradukkan masalah agama ke dalam politik.

“Puisi Neno Warisman yang dibacakan dalam acara Munajat 212 banyak mendapatkan respons dan kritik dari umat Islam, karena isi puisi tersebut telah membawa agama ke dalam ranah politik, yang dapat memecah belah umat Islam dalam dari polarisasi politik yang semakin tajam,” ujar Gus Mis, panggilan akrab Zuhairi Misrawi, dalam keterangan resminya, Minggu (24/2/2019).

Menurut Ketua Bidang Hubungan Antar-Agama Baitul Muslimin Indonesia itu, bahwa dalam sejarah Islam, isi puisi Neno Warisan sangat berbahaya, karena dapat menjadi petaka (nakbah).

Lebih lanjut Gus Mis menjelaskan, “Hal serupa pernah dilakukan oleh Kaum Khawarij di masa lalu, karena mengatasnamakan Allah untuk sekadar memuaskan nafsu politik.”

“Semua makhluk akan menyembah Allah karena fitrah manusia begitu dekat dengan Tuhannya atau hablum minallah. Maka dari itu, hindarilah cara-cara mempolitisasi Allah ala kaum Khawarij, karena Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang,” tambah Gus Mis.

Calon Anggota Legislatif (Caleg) untuk DPR RI dari PDI Perjuangan ini menilai, seharusnya perhelatan politik lima tahunan diisi dengan adu program, argumen, gagasan dan bukan sebaliknya yang memperluas friksi dan polarisasi dengan membawa-bawa agama.

“Mayoritas muslim di Indonesia adalah mereka yang beragama secara moderat dan toleran. Mereka paham betul antara domain ibadah dan domain politik. Sejatinya ibadah kita kepada Allah hablum minallah justru untuk memperkuat persaudaraan hablum minannas. Puisi Neno Warisman jelas sangat berbahaya, karena merusak hablum minallah sekaligus hablum minannas,” tutup Gus Mis

Sebelumnya, puisi Neno Warisman yang dibacakan saat acara Malam Munajat 212 di kawasan Monas, Jakarta, Kamis (21/2/2019), menuai kontroversi.

Masyarakat Indonesia menilai, puisi Neno telah mendahului ketentuan Tuhan karena menghakimi keagamaan seseorang.

Dalam salah satu bait puisi yang berbunyi “Jangan jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami Karena jika Engkau tidak menangkan Kami khawatir ya Allah Kami khawatir ya Allah Tak ada lagi yang menyembah-Mu”, menyiratkan seolah-olah pada pihak pasangan Capres-Cawapres 01 tidak ada yang beragama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fpi Munajat 212
Editor : Herdiyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top