Bantu Penanggulangan Gizi Buruk di Papua, Wijaya Karya Bangun Jembatan Gantung

PT Wijaya Karya Tbk melakukan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan gantung untuk penanganan darurat bencana virus campak dan gizi buruk.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 23 Februari 2019  |  11:05 WIB
Bantu Penanggulangan Gizi Buruk di Papua, Wijaya Karya Bangun Jembatan Gantung
Warga menunggu antrean saat berobat di puskesmas Ayam di kampung Bayiwpinam, Distrik Akat, Kabupaten Asmat, Papua, Jumat (26/1). - ANTARA/M Agung Rajasa

Bisnis.com, JAKARTA—PT Wijaya Karya Tbk melakukan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan gantung untuk penanganan darurat bencana virus campak dan gizi buruk.

Pembangunan tersebut dilakukan tepatnya dari ujung timur Indonesia, di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Barat. Daerah tingkat II berbatasan dengan Kabupaten Mimika di sebelah barat dan Kabupaten Mappi serta Kabupaten Boven Digoel di sebelah selatan tersebut, kondisi alamnya didominasi tanah berlumpur dan rawa.

Lokasi hunian berlumpur membuat masyarakat harus membangun rumah-rumah, termasuk jalan penghubung di kabupaten di atas papan berbahan kayu trembesi. Jalan papan itu sudah termakan usia puluhan tahun, tertempa terik sinar matahari dan hujan. Jalan papan itu juga menahan beban dari maraknya penggunaan motor listrik, kemudian mendorong perlunya penyesuaian dan penyempurnaan jalan dengan pengerasan beton.

Dalam keterangan resmi yang diterima pada Sabtu (23/2/2019), evaluasi  kualifikasi,  administrasi  dan teknis, harga serta pembuktian kualifikasi oleh Kementerian  PUPR Direktorat Bina Marga Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional XVIII, WIKA kemudian ditetapkan sebagai pemenang untuk membangun infrastruktur vital di Bumi Asmat dengan skup pekerjaan, pembangunan jalan beton (pile slab) dan jembatan gantung 72 meter dalam kontrak bernomor HK.02.03/PJN – WIL.IV/PPK-IV.3/466.

“Setidaknya, terdapat tiga hal yang menjadi tantangan mendasar yang harus dijawab solutif agar proyek ini dapat selesai sesuai target,” tulis Manajer Proyek Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan, Eko Suranto Putro.

Pertama, kondisi tanah rawa yang dijumpai di hampir seluruh daerah ini, membuat pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi sangat sulit.

Kedua, diperlukannya effort luar biasa untuk mendistribusikan material beton precast sejak diproduksi di PPB WIKA Beton Pasuruan sampai ke area di belahan dalam Asmat yang sangat terpencil.

Ketiga, dalam hubungannya dengan distribusi beton precast dari PPB WTON Pasuruan menuju titik nol lokasi pemasangan dengan memanfaatkan sungai sebagai penghubung. Namun demikian,  ternyata sungai itu memiliki draf atau kedalaman yang rendah dan sangat terpengaruh terpengaruh arus pasang surut, sehingga hanya kapal bermuatan kecil saja yang bisa masuk. 

Solutif dan Kreatif

Apakah WIKA lalu berdiam dan memilih terpaku pasrah? Jawabannya tidak! Manajemen Proyek yang ditopang oleh insinyur-insinyur muda dengan rata-rata usia 25 tahun itu justru men-stimulan lahirnya kreativitas-kreativitas baru di tengah keterbatasan.

Untuk penyediaan air bersih terkait pengecoran beton, misalnya. Manajemen proyek dengan cekatan membuat bak-bak, kolam penampungan air hujan yang tersebar merata di lokasi proyek. Selain itu, sebagai alternatif, tim juga akan melakukan pembelian air bersih di distrik lain menggunakan kapal kayu.

Pengiriman material precast dari PPB WTON Pasuruan menuju Asmat juga bisa dicarikan solusi terbaiknya melalui kerja sama dengan ekspedisi yang kaya asam garam melayani rute Indonesia timur dengan kapal kargo berkapasitas 2.400 ton, langsung menuju Pelabuhan Agats.

Setelah tiba di Agats, material precast dipindahkan terlebih dahulu ke LCT (landing craft tank) yang kemudian masuk ke sungai menuju area pekerjaan. Sebagai catatan, pembongkaran dilakukan tidak menggunakan waktu normal sebagaimana pembongkaran barang pada umumnya. Mengingat dan mempertimbangkan material precast memiliki bobot yang berat, maka untuk memudahkan proses pemindahannya dilakukan saat kondisi sungai pasang yaitu pada rentang  jam 2 dini hari.

Kemudian menjawab bagaimana mekanisme langsir precast dengan bobot yang berat ke area pemasangan di tanah yang lunak. Manajemen Proyek WIKA menerapkan dua metode efektif. 

Pertama, untuk area yang kosong. Pada arena ini, tim WIKA menggunakanexcavator dengan memberi dudukan kayu pada track atau lintasanexcavator itu sendiri.

Kedua, yaitu tim proyek berinisiasi membuat portal baja yang dapat beroperasi pada rel baja (rel dijepit pada tiang yang sudah terpancang).

Pembangunan yang dilakukan di pedalaman Asmat menunjukkan bahwa kiprah WIKA membangun Indonesia adalah nyata adanya. Melalui pembangunan secara merata di daerah tertinggal, terluar dan terdepan seperti di Kabupaten Asmat, WIKA sejatinya menggerakan masyarakat Asmat untuk lebih mandiri, berdaya saing, bersinergi sehingga kelak dapat berdikari.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wijaya karya, asmat, agats

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top