Pilpres 2019: Media Sosial dan Pengaruh Dukungan Capres-Cawapres

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia (IPI) Burhanuddin Muhtadi melalui akun twiter miliknya pada Minggu (17/2/2019) mencermati perang tanda pagar atau hashtag yang ada di media sosial, twitter.
Stefanus Arief Setiaji
Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 19 Februari 2019  |  11:30 WIB
Pilpres 2019: Media Sosial dan Pengaruh Dukungan Capres-Cawapres
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kedua kanan) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) berfoto bersama moderator debat Tommy Tjokro (kiri), dan Anisha Dasuki, usai mengikuti debat capres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). - ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Kabar24.com, JAKARTA — Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia (IPI) Burhanuddin Muhtadi melalui akun twiter miliknya pada Minggu (17/2/2019) mencermati perang tanda pagar atau hashtag yang ada di media sosial, twitter.

“Twitter yang dianggap sebagai padang kurusetra dua kubu capres itu hanya diakses segelintir pemilih Indonesia. Perang hashtag itu entah buat apa,” tulisnya dalam akunnya.

Pendapat Burhanuddin itu tentu saja bukan tanpa alasan. Sebagai peneliti, lembaganya sempat melakukan jajak pendapat terkait dengan ‘Media Sosial, Hoaks, dan Sikap Partisan Pilpres 2019’.

Dalam bagian pengantar hasil riset itu yang dikutip dari situs resmi Indikator Politik, lembaga itu menuliskan bahwa berita palsu atau hoaks belakangan menjadi hal yang begitu akrab bagi pemilih di Indonesia.

Menariknya, hoaks “naik kelas” menjadi topik bahasan di media massa hingga menjadi wacana publik. Beredarnya hoaks tak jarang memaksa pihak berwenang untuk turun tangan melakukan intervensi untuk menangkis hoaks. 

Dalam konteks Pilpres 2019, hoaks lebih banyak ‘menyerang’ pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, baik itu Joko widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga S. Uno.

Indikator Politik menulis isu personal lebih mudah membangkitkan emosi dan lebih merugikan pemilih karena keluar dari konteks kebijakan yang seharusnya menjadi fokus perhatian pemilih.

Tujuan hoaks terkait isu personal tidak lain adalah untuk mempengaruhi pemilih agar memilih capres tertentu atau menggoyahkan “keimanan” politik pemilih agar mengalihkan dukungan ke capres lain.  

Dua kubu pendukung capres-cawapres yang ‘berperang’ di media sosial berkukuh bahwa apa yang digelorakan menyangkut kebenaran.

Tak heran, jika hari ini, lini masa twitter ramai dengan tanda pagar #TerimakasihPenjelasannya yang berisi dukungan pada capres-cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf. Di lain sisi, tanda pagar #Capres01Bohong, lalu #CapresPembohongKelautAje yang merupakan bentuk dukungan terhadap capres-cawapres 02 Prabowo-Sandi.

Bagaimana sebenarnya tren pemanfaatan media sosial dalam konteks politik yang terjadi belakangan ini?

Dari survei Indikator Politik yang digelar pada 16—26 Desember 2018, setiap hari hampir 42% responden menyatakan bahwa mereka mengikuti berita politik melalui televisi, internet sebanyak 22%, serta Koran dan radio sebanyak 2%.

Sedangkan yang masih kadang-kadang mengikuti berita politik dengan durasi 3—4 hari seminggu, sebanyak 13% melalui televisi, 6% lewat internet, dan 2% dari Koran maupun radio.

Kelompok yang paling besar apa? Kelompok yang tidak pernah mengikuti mengakses berita politik di radio yang mencapai 90%, koran 82%, dan internet 59%.

“Televisi menjadi media yang paling banyak digunakan publik untuk mencari informasi masalah-masalah politik,” tulis riset itu dikutip Selasa (19/2/2019).

Jika dibedah dari kelompok pengguna internet, pengguna media sosial (Facebook, Instagram, Twitter, Whatsapp, Email, Line, browsing situs berita, dan lainnya) dalam 1 bulan terakhir hampir imbang. Pernah sebanyak 49,8% dan tidak pernah 50,2%.

Indikator Politik lantas menggambarkan, apabila total daftar pemilih tetap di Pemilu 2019 sebanyak 190,77 juta, pengguna internet itu tak kurang dari 95,4 juta.

Lantas media sosial apa saja yang dipakai oleh mereka? Ternyata paling besar diakses setiap hari adalah Whatsapp dengan jumlah mencapai 77%, diikuti Facebook 43%, Youtube 28%, Instagram 23%, Line 5%, dan Twitter 2%, selebihnya di bawah itu.

Maka tidak heran, apabila dalam twit-nya Burhanuddin sempat bertanya-tanya untuk apa tujuan perang tagar di twitter apabila data survei menunjukkan bahwa yang mengakses tidak banyak.

Temuan lain dari Iindikator Politik terkait dengan elektabilitas menunjukan bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf dipilih 52% oleh pengguna internet, sedangkan Prabowo-Sandi 39%. Selisih keduanya 13%.

Jika menggunakan indikator nonpengguna internet, Jokowi-Ma’ruf dipilih 57% sementara itu Prabowo-Sandi 31%. Selisihnya 26%.

“Jokowi-Ma’ruf Amin unggul di kalangan pengguna maupun nonpengguna internet. Namun dukungan kepada Prabowo-Sandi lebih kompetitif pada kelompok pengguna internet,” bunyi riset itu.

Pada bagian temuan terkait tren pemanfaatan media sosial, Indikator Politik menyebut secara umum Jokowi-Ma’ruf Amin unggul pada pengguna medsos.

Dukungan terhadap Prabowo-Sandi lebih besar pada kelompok pengguna Facebook dan Youtube dibanding pada kelompok non-pengguna

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Debat Capres, Pilpres 2019

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top