Laba Toyota di Pasar China Naik Tipis

Laba kuartalan Toyota Motor Corp. naik tipis berkat pertumbuhan permintaan mobil model bread-and-butter dari pembeli China yang mampu mengimbangi penjualan di Amerika Utara yang lebih rendah.
Nirmala Aninda | 06 Februari 2019 21:08 WIB
Toyota - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Laba kuartalan Toyota Motor Corp. naik tipis berkat pertumbuhan permintaan mobil model bread-and-butter dari pembeli China yang mampu mengimbangi penjualan di Amerika Utara yang lebih rendah.

Menurut Refinitiv, Toyota membukukan laba operasional sebesar 676,1 miliar yen pada kuartal III/2018 atau tumbuh 0,4% secara tahunan, meskipun sedikit di bawah estimasi rata-rata sekitar 680,8 miliar yen.

Pada saat yang sama saham perusahaan sedikit menurun karena pemangkasan prospek pendapatan bersih tahunan. Toyota memangkas prediksi laba bersih setahun penuh sekitar 19% menjadi 1,87 triliun yen.

Perusahaan tidak merinci investasi mana saja yang merugi. Toyota yang tercatat sebagai pemegang saham pengendali di Subaru Corp. dan Akebono Brake Industry. Keduanya mencatatkan penurunan saham pada 2018 masing-masing sebesar 30% dan 40%.

Produsen mobil terbesar di Jepang tersebut mempertahankan proyeksi laba operasional sepanjang 2018 tanpa perubahan sebesar 2,4 triliun yen atau sebesar US$22 miliar.

Toyota mencatatkan penjualan di kawasan Asia sebanyak 464.000 unit pada kuartal III/2018 atau tumbuh 15% secara tahunan. Permintaan dari China untuk mobil murah-meriah, Corolla dan Levin terus tumbuh hingga akhir 2018.

 “Ketika satu daerah berkinerja buruk, daerah lain dapat mengimbangi kelemahan itu. Demikian juga, ketika beberapa model kendaraan berkinerja buruk, model-model lain dapat mengimbangi,” Wakil Presiden Eksekutif Shigeki Tomoyama  mengatakan kepada wartawan, seperti dikutip melalui Reuters, Rabu (6/2).

 Popularitas merek mewah, Lexus, juga membantu perusahaan melawan pelambatan ekonomi yang lebih luas di pasar mobil terbesar dunia, yakni China.

Penjualan global Toyota naik 2,8% menjadi 2,71 juta unit dengan Asia menebus kekurangan di Amerika Utara, di mana penjualannya turun 7,5% menjadi 680.000 unit.

Pada hari yang sama, saham Toyota turun sebanyak 1,5%, namun kembali pulih dan berakhir turun 0,7%.

Penjualan Toyota di AS terpukul akibat perlambatan penjualan terhadap model sedan marquee seperti Corolla dan Camry, perusahaan juga menerapkan potongan harga yang tajam untuk meningkatkan penjualan selama dua tahun terakhir karena permintaan secara keseluruhan tidak bergerak.

Sebaliknya, Corolla, Levin dan Camry adalah tiga model dengan angka penjualan terbaik di China pada 2018.

Performa penjualan sedan tersebut mengalahkan yang model mobil ukuran besar seperti crossover SUV RAV4, sejalan dengan konsumen yang menahan pengeluaranl di tengah perlambatan ekonomi dan perang dagang Sino-AS.

Di China saja, Toyota menjual 1,47 juta unit kendaraan atau tumbuh 14% secara tahunan pada 2018. Perusahaan menargetkan penjualan dapat tumbuh hingga 1,6 juta unit tahun ini, meskipun produsen kendaraan lain sedang bersiap untuk menghadapi tahun yang sulit di China.

Penjualan mobil di China tahun lalu terkontraksi untuk pertama kalinya sejak 1990 akibat penghapusan pajak pembelian mobil yang lebih kecil dan perang dagang.

Ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut mengalami perlambatan pertumbuhan terparah pada tahun 2018 selama 3 dekade terakhir. Fase pertumbuhan tahun ini diperkirakan akan semakin melemah.

Tetapi produsen mobil Jepang, seperti Toyota, Honda dan Nissan, berharap dapat memanfaatkan kondisi politik antara Tokyo dan Beijing yang mulai membaik di tengah perang dagang antara AS-China yang membebani pesaing mereka, salah satunya Ford.

Tag : pasar china, toyota motor corp
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top