Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cak Nanto Sebut Tabloid Indonesia Barokah Berisi Propaganda Politik

Ketua Umum PP Muhammadiyah Sunanto alias Cak Nanto menilai konten tabloid Indonesia Barokah yang disebar ke masjid-masjid mengarah ke propanda politik. 
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 25 Januari 2019  |  16:18 WIB
Ketua Bawaslu Kota Tangerang Agus Muslim memperlihatkan Tabloid Indonesia Barokah yang diamankan dari sebuah masjid di Kantor Bawaslu Kota Tangerang, Tangerang, Banten, Kamis (24/1/2019). - ANTARA/Muhammad Iqbal
Ketua Bawaslu Kota Tangerang Agus Muslim memperlihatkan Tabloid Indonesia Barokah yang diamankan dari sebuah masjid di Kantor Bawaslu Kota Tangerang, Tangerang, Banten, Kamis (24/1/2019). - ANTARA/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA—Ketua Umum PP Muhammadiyah Sunanto alias Cak Nanto menilai konten tabloid Indonesia Barokah yang disebar ke masjid-masjid mengarah ke propanda politik. 

"Iya, agak menujurus dan menjelaskan salah satu pasangan calon. Atau mengunggulkan salah satu pasangan calon. Saya rasa penting untuk ditelusuri," ujarnya seusai bertemu dengan Wapres RI Jusuf Kalla, Jumat (25/1/2019). 

Dia meminta agar pengurus Muhammadiyah di daerah-daerah tidak menelan mentah-mentah isi konten tabloid Indonesia Barokah. Para jemaah diharapkan bisa mengkaji terlebih dahulu isi yang ada di dalamnya. 

Untuk itu, Cak Nanto meminta agar Kepolisian dan Bawaslu mengusut tuntas siapa sosok di balik tabloid Indonesia Barokah. Menurutnya, kedua pihak tersebut harus dapat memastikan apakah isi media tersebut merupakan bagian dari propaganda atau bentuk kampanye politik. 

Salah satu caranya dengan menelusuri sumber, konten, dan proses pertanggung jawaban dari sebuah media massa. Pasalnya, menurut dia, Indonesia Barokah termasuk dalam media yang belum lama diterbitkan. 

"Saya kira kita dorong saya agar Kepolisian dan Bawaslu untuk menelusuri. Apakah ini sudah memenuhi unsur [pelanggaran] atau tidak. Kami khawatir itu bagian dari propaganda," ucapnya. 

Calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 02 Sandiaga Uno sebelumnya menyebut tabloid itu sebagai bentuk kampanye hitam. Tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno juga menyebut isi tabloid dianggap menyudutkan Prabowo.

Bawaslu sempat bergerak mengusut penyebaran tabloid itu di sejumlah daerah. Namun saat ditelusuri, alamat kantor redaksi tabloid itu palsu. Anggota Bawaslu Ratna Dewi Pettalolo menyebut Bawaslu daerah sudah berkoordinasi dengan takmir masjid agar tidak mengedarkan tabloid tersebut. Meski demikian, dia menilai tabloid itu tidak berunsur kampanye.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pp muhammadiyah
Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top