Ahok Bebas, Djarot Kisahkan Perubahan Sahabatnya di Penjara

Djarot Saiful Hidayat mengatakan sifat Ahok berubah total selama menjalani masa tahanan di Mako Brimob. Ahok yang dikenal tegas, galak, dan tak mampu menahan emosi justru banyak melakukan perenungan.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 23 Januari 2019  |  13:48 WIB
Ahok Bebas, Djarot Kisahkan Perubahan Sahabatnya di Penjara
Djarot Saiful Hidayat (kiri) dan Basuki Tjahaja Purnama. - Antara/Hafidz Mubarak

Bisnis.com, JAKARTA -- Tak ada kawan ataupun lawan yang abadi dalam politik. Yang ada hanyalah kepentingan.

Adagium tersebut sering diucapkan oleh politisi maupun pengamat untuk menggambarkan inkonsistensi dalam dunia politik praktis di Indonesia. Ketika politisi A sedang berada di puncak kekuasaan, tiba-tiba banyak pihak berbondong-bondong berada di belakangnya.

Namun, situasi berubah 180 derajat tak kala politisi A terjerat kasus hukum. Orang-orang yang tadinya berada di belakangnya lantas pergi dan memasang topeng berbeda.

Tetapi, pepatah politik tersebut sepertinya tak berlaku untuk Djarot Saiful Hidayat dan Basuki Tjahaja Purnama. Keduanya berpasangan menjadi Wakil Gubernur dan Gubernur DKI Jakarta periode 2014-2017.

Gara-gara kasus penistaan agama, "sejoli" ini harus dipisahkan. Ahok mendekam di rumah Tahanan Mako Brimob, sedangkan Djarot menggantikan posisinya menduduki kursi DKI 1 hingga akhir masa jabatan.

Basuki Tjahaja Purnama (kiri) dan Djarot Saiful Hidayat (kanan) ketika dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rabu (17/12/2014)./Antara

Meski telah terpisah, Djarot ternyata tak pernah absen untuk menjenguk Ahok di "rumah barunya". Mantan Walikota Blitar tersebut mengaku bukan sekadar menganggap Ahok sebagai pasangan politik, tetapi sahabat karib.

Bahkan, intensitas Djarot mendatangi Mako Brimob bertambah mendekati 24 Januari 2019, tanggal yang telah ditetapkan sebagai waktu bebasnya Ahok.

"Saya sering ke sana menjelang dia bebas. Saya tahu psikologis seseorang yang tadinya punya banyak kesibukan terus dikurung. Selama 21 bulan [Ahok] tidak pernah neko-neko, bahkan nginjek aspal pun dia belum pernah," ungkapnya ketika ditemui di kawasan Kemang, Selasa (22/1/2019) malam.

Menurut Djarot, sifat sahabatnya tersebut berubah total selama menjalani masa tahanan di Mako Brimob. Ahok yang dikenal tegas, galak, dan tak mampu menahan emosi justru banyak melakukan perenungan.

Di dalam kamar yang sempit, ayah tiga anak tersebut lebih banyak membaca buku, menulis, berdoa, berolah raga, dan menerima tamu. Kepadanya, Ahok menuturkan menargetkan menulis langsung dengan tangan setidaknya 2-3 halaman kertas HVS, bukan menggunakan laptop.

Tulisan tangan berisi keseharian dan pemikiran tersebut nantinya akan dikumpulkan menjadi sebuah buku yang bakal diterbitkan di kemudian hari.

"Semuanya tulis tangan. Enggak boleh pake laptop, piye toh laptop [di penjara]? Kamu tahu Ahok orangnya kayak apa? Dia strict banget enggak mau melanggar aturan," ujar Djarot.

Selain membaca dan menulis, Ahok ternyata menemukan hobi baru di dalam penjara, yaitu main musik. Djarot mengatakan di waktu luangnya, Ahok sering iseng bernyanyi atau "nge-jam" dengan orang-orang yang ada di lingkungan sel Mako Brimob, misalnya sesama tahanan atau polisi yang bertugas sebagai penjaga.

Dari hanya iseng-iseng nyanyi, mereka ternyata merasa cocok satu sama lain dan akhirnya terus berlatih dengan serius meski tidak memiliki peralatan lengkap layaknya studio band. Grup musik tersebut diberi nama "BTP" yang merupakan singkatan dari Band Teman Penjara.

Djarot mengatakan sempat melihat Ahok dan BTP latihan beberapa kali. Terpancar raut kebahagiaan kala melihat sahabatnya tersebut bernyanyi dengan raut gembira.

Ketika ditanya apa posisi Ahok di BTP, Djarot menjawab vokalis. Padahal, dalam beberapa kesempatan nada suara Ahok terdengar sumbang kala menyanyi.

"Memang jelek [suara Ahok]. Justru itu daya tariknya. Sekarang sudah mendingan, bisa sinkron dengan suara musik. Enggak fals-fals amat lah," ucap Djarot sambil tertawa.

Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama./ANTARA-Ubaidillah

Di Balik Nama BTP
Djarot mengaku sempat bertanya kepada sahabatnya apakah ada yang ditakutkan jika nanti keluar dari penjara. Ahok menjawab tidak ada.

Djarot pun menganggap memang tidak ada hal yang perlu ditakuti oleh mantan Bupati Belitung timur tersebut.

Karena ucapannya di Pulau Seribu dua tahun lalu, Ahok dianggap bersalah menistakan agama Islam. Meski sempat menjadi polemik, Ahok sudah meminta maaf kepada seluruh umat Muslim se-Indonesia.

Ahok disebut sudah menerima keputusan bahwa dirinya bersalah dengan menjalani vonis hakim dua tahun tanpa mengajukan banding. Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan bahwa Ahok tak lari dari masalah yang menjeratnya.

"Dia enggak cengeng, enggak lari dari masalah. Gentleman itu, sidang tiap minggu datang. Semua sudah dia lakukan. Stigma penista agama itu melekat lho, tapi dia terima sebagai proses pembelajaran," jelasnya.

Kepada Djarot, Ahok menyampaikan dirinya bersyukur karena ditahan di Mako Brimob. Sebab, jika Tuhan tidak sayang maka tetap diberikan kekuasaan sebagai Gubernur dan hasilnya tak baik.

Di tahanan, Ahok diberi kesempatan untuk banyak belajar dan merenung. Hal itu yang membuat dia ingin kembali sebagai BTP alias Basuki Tjahaja Purnama.

Dalam surat yang diunggah di akun Instagram resminya @BasukiBTP, Ahok meminta agar dia dipanggil BTP setelah bebas. Menurut Djarot, panggilan Ahok sudah terlanjur mengesankan sosok arogan, sombong, tukanh marah-marah, dan kasar.

"Dia ingin kembali ke jati dirinya sebagai BTP. Bukan Ahok lagi," imbuhnya.

Berlabuh ke PDIP?
Meski penuh kontroversi, apapun sikap Ahok tetap menjadi daya tarik masyarat, baik penggemar fanatik maupun pembencinya. Pertanyaan yang pasti muncul tak lain terkait sikap politik BTP setelah ini.

Apakah dia benar-benar menarik diri dari dunia politik atau justru berlabuh ke satu partai yang selama ini mendukungnya habis-habisan, yaitu PDI Perjuangan (PDIP).

Ahok disebut pernah mengutarakan niat untuk bergabung dengan partai banteng ketika masa awal-awal menjalani tahanan di Mako Brimob. Djarot, yang saat ini duduk sebagai Ketua DPP PDIP Bidang Organisasi, menyambutnya dengan tangan terbuka.

"Ada rencana [masuk PDIP], tapi kapannya cepat atau lambat saya enggak tahu. Minimal sudah ada keinginan bergabung," ucapnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, kedekatan Ahok dengan PDIP sudah terjalin kala dia berpasangan dengan Joko Widodo saat Pilgub DKI 2012. Bahkan, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri mendukung penuh Ahok saat tak punya partai dengan Djarot di Pilkada DKI 2017, meskipun harus kalah dari Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Djarot menyebut PDIP sebagai partai terbuka dan menerima siapa saja untuk bergabung, tanpa memandang suku, agama, ata ras. Yang penting, orang tersebut memiliki idealisme menjunjung tinggi Pancasila, UUD 45, dan Bhinneka Tunggal Ika. Termasuk, mantan narapidana seperti Ahok.

Dia menuturkan Ahok sebenarnya sudah memberi kode kuat dalam suratnya beberapa hari lalu. Dalam dua lembar kertas yang dipenuhi tulisan tangannya, Ahok meminta agar masyarakat tidak golput saat Pilpres 2019 dan memilih partai politik yang mengedepankan idealisme Pancasila.

Bukan itu saja, dia juga mengutip pidato Presiden Soekarno pada 30 September 1965 yang ditulis dalam buku berjudul "Revolusi Belum Selesai".

"Apa yang Presiden Sukarno sampaikan, aku harap juga diterima menjadi pikiran dan harapan aku kepada seluruh Ahokers di manapun domisili saudara," tulis Ahok yang diunggah di akun Instagramnya, Kamis (17/1).

Dalam pidatonya seperti ditulis Ahok, Sukarno berkata bahwa Pancasila adalah jiwa kita. Pancasila juga disebut menjadi jiwa Angkatan Bersenjata Republik Indonesia--kini TNI.

"Dan selama Angkatan Bersenjata Republik Indonesia berjiwa Pancasila, Insyaallah akan tetap kuat, tetap kuat dan sentosa. Engkau adalah penegak daripada Pancasila. Dan setialah kepada Pancasila itu, pegang teguh kepada Pancasila, membela Pancasila, bahkan sebagaimana kukatakan lagi tadi, saudara-saudara laksana panggilan yang aku dapat daripada alasan untuk memegang teguh kepada Pancasila ini," tulisnya.

Ahok lantas menutup tulisannya dengan dua baris paragraf berisi motivasi kepada para Ahokers.

"Majulah demi kebenaran, perikemanusiaan dan keadilan. Ingatlah sejarah dan tujuan para proklamator dirikan negeri. MERDEKA!"

Jika tulisan itu mengandung isyarat, kapan Ahok akan bergabung dengan PDIP? Djarot dengan santai menuturkan mungkin tidak terjadi saat ini. Apalagi, PDIP sedang fokus memenangkan Pilpres dan Pileg pada 17 April 2019.

Karangan bunga untuk Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat di Balai Kota Jakarta, Rabu (11/10/2017)./Bisnis.com-Nirmala Anindya

Ahok justru dinilai akan menghabiskan masa-masa awal bebas dari tahanan untuk berlibur dan berkumpul dengan keluarga. Hal yang tak pernah dia lakukan selama memimpin DKI Jakarta.

"Dia bilang ke saya mau liat bunga sakura bermekaran di Jepang. Habis itu mau ke Bali dan mungkin pulang kampung ke Belitung. Biar aja istilahnya Bulir: Butuh Liburan," ucap Djarot.

Apapun keputusan Ahok, sang sahabat meminta semua pihak mendukung dan memaaafkan kesalahan yang telah terjadi. Jika boleh mengutip lirik ciptaan vokalis Queen Freddie Mercury dalam salah satu lagunya, mungkin BTP akan bernyanyi dengan lantang:

"Don't stop me now, cause i'm having a good time. I don't wanna stop at all."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ahok, fokus

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top