Perilaku Keseharian, Otak Kerap Kalah Cepat Dibandingkan Jempol

Masyarakat tengah dimabuk dan dimudahkan dengan teknologi.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 17 Januari 2019  |  09:08 WIB
Perilaku Keseharian, Otak Kerap Kalah Cepat Dibandingkan Jempol
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nuruddin.

Bisnis.com, MALANG — Penyebaran hoak lebih terkait dengan kecenderungan diri dari penyebarnya sehingga saat memasuki tahun politis, maka kabar bohong itu menjadi sangat politis trennya.

Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nuruddin mengatakan penyebaran hoaks, ternyata bisa dilakukan siapapun, apalagi di tengah kondisi masyarakat tengah dimabuk dan dimudahkan dengan teknologi.

“Mereka kebanyakan menyebar berita, bukan berdasarkan benar-salahnya. Melainkan sesuai dengan kecenderungan dirinya. Otak kita seringkali kalah cepat dari jempol kita. Apalagi di tengah situasi politik saat ini, tidak bisa dipungkiri hoaks menjadi sangat politis,” ungkapnya di Malang, Rabu (16/1/2019).

Menurut dia, media sosial menjadi lahan paling subur penyebaran hoaks, sedangkan di media mainstream hoaks dapat ditekan karena di media tersebut adai sistem kemediaan yang dituntut profesional.

“Mereka punya karyawan, punya pembaca, punya penonton, sehingga kalau menyebar hoaks, ya, mesti hati-hati. Kalau tidak, akan diingatkan oleh aparat hukum. Konsekuensi terberatnya, media itu bakal bubar,” ucapnya.

Hoaks biasanya disebarkan oleh aktor individual. Jika terindikasi akun yang dikelolanya terbukti melakukan aksi penyebaran hoaks, mudah saja, yang lantas dilakukan adalah menghapus akunnya.

Tugas mencerdaskan masyarakat tentang melek media, kata Nurudin, bukan cuma tugas para akademisi seperti dirinya. Pengalaman dirinya, dalam setiap perkuliahan, pergaulan dan diskusi saya selalu menekankan untuk selalu melek media. Melek media itu adalah kita sadar media selalu punya dampak negatif. Kalau sudah sadar, orang cenderung berhati-hati. Inilah yang kita sebut dengan praktik media literasi.

“Beberapa kali kami lakukan kegiatan literasi media ke SMP-SMA yang menurut kami jadi sasaran empuk Hoaks. Meskipun disadari, menangkal penyebaran hoaks itu sangat sulit,” tuturnya.

Minatnya pada kajian media sosial dan media massa pada umumnya mendorong Nurudin untuk menelurkan banyak buku. Buku teranyarnya Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial menyajikan ulasan seputar kemunculan media baru tersebut. Salah satu perkembangan yang menarik untuk dikaji dari media sosial, yakni semakin marak beredarnya berita bohong atau hoaks.

Media sosial telah tumbuh dan sangat menentukan sikap dan perilaku masyarakat milenial. Media tersebut berkembang atau sengaja dikembangkan seolah sebagai agama.

Oleh karenanya, masyarakat cenderung mengaca pada media sosial, layaknya ajaran agama. Padahal sebagian pesan media sosial perlu diyakini sebagai sebuah kebohongan.

Dampak carut-marut pesan media sosial tidak hanya hoaks dimana-mana, tetapi juga suasana saling membenci, mencaci, dan menghujat antar sesama. “Melihat perkembanganya, media sosial nyata telah mengancam disintegrasi bangsa. Media sosial telah menciptakan komunikasi di masyarakat berjalan dengan tidak tulus,” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
komunikasi, Medsos

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top