DEBAT PILPRES 2019, "Dinikmati Sebagai Tontonan Saja"

Masyarakat disarankan tidak terbawa emosi yang tidak sehat saat menonton debat Pilpres yang disiarkan stasiun telvisi pada Kamis (17/1/2018) dan hendaknya menikmati acara tersebut sebagai sebuah tontonan saja.
Choirul Anam | 17 Januari 2019 14:12 WIB
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nurudin. - Ist

Bisnis.com, MALANG — Masyarakat disarankan tidak terbawa emosi yang tidak sehat saat menonton debat Pilpres yang disiarkan stasiun telvisi pada Kamis (17/1/2018) dan hendaknya menikmati acara tersebut sebagai sebuah tontonan saja.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nurudin mengatakan masyarakat harus memahami debat itu bagian dari proses yang harus dilakui karena aturan KPU. Pemirsa lebih baik menikmati untuk menilai sejauh mana kualitas kandidat. Semua kandidat punya kelebihan dan kekurangan.

“Kualitas kandidat juga tidak hanya semata-mata bisa diukur dari debat. Jadi itu hanya salah satu tolok ukur saja,” katanya di Malang, Kamis (17/1/2019).

Kisi-kisi yang diberikan sebelum debat, kata dia, memang bisa membantu kandidat untuk menyiapkan jawaban. Ini tentu menguntungkan.

Hanya saja debat dengan sebelumnya diberikan kisi-kisi maka masyarakat tidak bisa melihat kualitas kandidat secara spontan. Sementara itu, berkaitan dengan persoalan kebijakan kenegaraan suatu saat presiden dan wakil presiden terpilih akan dihadapkan pada pertanyaan spontan.

“Di sinilah akan dilihat dari kualitas pejabat itu,” ucapnya.

Debat dengan spontan bisa menjadi salah satu cara mengukur kualitas kandidat pula. Debat dengan kisi-kisi, apalagi dengan pertanyaan yang sudah disiapkan, maka debat sering hanya menjadi seremonial semata dan tidak begitu menarik.

Nurudin yang kolumnis dan trainer penulisan ini juga meminta masyarakat tidak mudah percaya pada informasi yang diterimanya di era sekarang. Semua informasi simpang siur silih berganti.

Informasi yang muncul, apalagi lewat medsos, sering bukan kejadian sebenarna tetapi memang disebar untuk tujuan tertentu. Tentu saja untuk memenangkan pertarungan.

Masyarakat sering merasa berita yang diterimanya harus terburu-buru disebarkan. Mereka menyebar bukan berdasar apakah informasi itu benar tetapi hanya berdasar kecenderungan dirinya.

Jika info yang diterima itu sesuai kecenderungan dirinya, maka akan disebar, sebaliknya, jika tidak sesuai dengan kecenderungan politiknya, maka tidak akan disebar.

“Jempol kita sering lebih cepat bergerak dari otak kita,” kata penulis 18 judul buku tentang komunikasi dan penulisan ini.

Tag : komunikasi, Pilpres 2019
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top