Wilmar Kecam Aksi Berbahaya Greenpeace

Ravin Trapshah, Sustainability Communications Wilmar International menyatakan sangat kecewa terhadap Greenpeace yang masih mengedepankan aksi berbahaya di muka publik ketimbang kerja sama yang bersifat membangun dengan pemangku kepentingan di industri kelapa sawit, termasuk Wilmar.
Fajar Sidik
Fajar Sidik - Bisnis.com 20 November 2018  |  12:46 WIB
Wilmar Kecam Aksi Berbahaya Greenpeace
Wilmar - asosiasigulaindonesia.org

Bisnis.com, JAKARTA - Wilmar International (Wilmar) mengecam aksi Greenpeace yang melakukan aksi berbahaya terhadap kapal tanker di lepas pantai Spanyol menuju Rotterdam pada Sabtu, 17 November 2018.

Ravin Trapshah, Sustainability Communications Wilmar International menyatakan sangat kecewa terhadap Greenpeace yang masih mengedepankan aksi berbahaya di muka publik ketimbang kerja sama yang bersifat membangun dengan pemangku kepentingan di industri kelapa sawit, termasuk Wilmar.

Menurutnya, aksi protes berbahaya yang dilakukan Greenpeace di atas kapal tanker di lepas pantai Spanyol menuju Rotterdam pada Sabtu, 17 November 2018 tidak hanya ditujukan kepada Wilmar, tetapi juga kepada seluruh industri minyak kelapa sawit.

"Aksi yang dilakukan di perairan internasional ini tidak hanya membahayakan kru kapal, tetapi juga para pelaku protes sendiri. Kapal tanker tersebut bukan milik Wilmar, dan hanya sebagian dari total kargo yang diangkut oleh kapal tersebut yang merupakan kargo milik Wilmar," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Bisnis, Selasa (20/11/2018).

Menurut keterangan tertulis dari organisasi lingkungan global itu pada Minggu (18/11/2018) melaporkan bahwa enam aktivis Greenpeace ditahan oleh kapten kapal tanker raksasa Stolt Tenacity saat melakukan aksi damai menaiki kapal kargo sepanjang 185 meter yang mengangkut minyak kelapa sawit mentah milik Wilmar International di Teluk Cadiz di dekat Spanyol.

Ravin menegaskan dengan menyebut minyak kelapa sawit sebagai minyak “kotor”, Greenpeace telah mengabaikan fakta bahwa tidak ada komoditas pertanian lain yang mampu menyaingi kelapa sawit dalam perkembangan dan kontribusinya terhadap keberlanjutan, termasuk untuk pencegahan deforestasi.

Greenpeace juga tidak mau mengakui bahwa minyak kelapa sawit merupakan komoditas minyak nabati yang paling produktif dan serbaguna di dunia, mampu memproduksi lima kali lebih banyak minyak nabati per hektar per tahun dibandingkan dengan minyak nabati lain yang paling produktif yakni rapeseed, dan mampu memproduksi sepuluh kali lipat lebih banyak minyak nabati per hektar per tahun jika dibandingkan dengan kedelai.

Kampanye negatif terhadap industri minyak sawit justru dapat mengakibatkan deforestasi yang lebih besar secara global melalui perluasan lahan komoditas sumber minyak nabati lainnya. Jika dilihat dari sisi sosial-ekonomi, minyak kelapa sawit telah berkontribusi pada pengentasan kemiskinan di negara berkembang dimana mereka ditanam melalui terciptanya lapangan kerja dan infrastruktur, seperti sekolah dan klinik bagi masyarakat di daerah pedalaman.

"Wilmar telah berulang kali mengajak Greenpeace untuk bekerja sama dengan industri minyak sawit dalam mencari solusi pragmatis bagi berbagai tantangan yang masih dihadapi oleh industri kelapa sawit," ungkapnya.

"Kami memiliki sikap yang terbuka dalam menyampaikan rencana aksi kami kedepan dengan Greenpeace. Meski demikian, kami masih melihat Greenpeace terus melakukan bullying dan menakut-nakuti, sementara mereka menolak melakukan tindakan yang bersifat membangun industri minyak kelapa sawit. Kami bertekad untuk meneruskan penguatan rencana kami yang diwujudkan dalam aksi yang dapat diadaptasi oleh industri," sambung Ravin.

Dia menambahkan jika semangat Greenpeace benar-benar murni untuk mewujudkan minyak kelapa sawit yang berkelanjutan, pihaknya mendesak Greenpeace untuk bergabung dan mendukung industri dalam mengambil tindakan dan membuat perbedaaan yang nyata.

Sebagai salah satu pemain besar, Wilmar akan terus menjadi yang terdepan dalam keberlanjutan dan melakukan perannya dalam transformasi industri, termasuk bagi petani yang lebih rentan. Dampak terbesar dari aksi destruktif Greenpeace akan dirasakan oleh petani yang memasok 40% minyak kelapa sawit dunia.

Seringkali kekurangan sumberdaya, petani menghadapi masalah dalam memenuhi standar keberlanjutan. Dengan berkampanye melawan minyak sawit, taktik Greenepace telah merugikan petani terutama saat harga minyak sawit dunia yang rendah.

"Kami juga mendesak negara-negara produsen minyak sawit dan seluruh pemangku kepentingan yang terlibat untuk melakukan aksi kolaborasi bersama-sama, sehingga industri minyak sawit dapat menuju industri yang berkelanjutan."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wilmar

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup