Gara-gara Pembunuhan Khassogi, Hubungan AS-Saudi Terancam

Kecaman warga AS atas pembunuhan Jamal Khashoggi dinilai akan mengancam hubungan strategis kedua negara.
John Andhi Oktaveri | 01 November 2018 09:52 WIB
Sejumlah aktivis HAM memegang foto jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi dalam unjuk rasa di luar Kedutaan Besar Arab Saudi di Istanbul, Turki, Selasa (9/10). - Reuters/Osman Orsal

Bisnis.com, JAKARTA — Kecaman warga AS atas pembunuhan Jamal Khashoggi dinilai akan mengancam hubungan strategis kedua negara.

Pangeran Turki bin Faisal al Saud, anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi dan mantan menteri intelijen Arab Saudi, menyebut berbagai kecaman yang disampaikan sebagai tindakan penghinaan bagi Arab Saudi.

“Kami menghargai hubungan strategis kami dengan AS dan berharap untuk mempertahankannya. Kami juga berharap AS melakukan hal yang sama," ujarnya dalam sebuah pidato di depan Dewan Nasional Hubungan AS-Arab, seperti dilansir Reuters, Kamis (1/11/2018).

Turki melanjutkan hal ini membuat hubungan AS-Arab Saudi yang sudah terjalin selama 70 tahun terancam. Dia mengatakan intensitas dan kekejaman terkait pembunuhan Khashoggi serta kecaman terhadap Arab Saudi sama-sama tidak adil.

Turki menegaskan Arab Saudi bertekad mengadili orang-orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan kolumnis Washington Post itu dan pihak-pihak yang gagal menegakkan hukum.

Pidato itu disampaikan setelah pada Selasa (30/10), Kepala Kejaksaan Istanbul menyatakan bahwa Khashoggi dicekik di Konsulat Arab Saudi di Turki dalam sebuah pembunuhan berencana, kemudian tubuhnya dimutilasi.

Beberapa anggota parlemen AS sebelumnya menuduh Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) memerintahkan pembunuhan tersebut.  Pemerintah AS juga telah mencabut visa beberapa pejabat Arab Saudi yang diindikasi terlibat dalam pembunuhan ini.
 
Kerja sama AS-Arab Saudi mencakup produksi minyak, perdagangan, penjualan senjata, serta investasi.

Seperti diketahui, Khashoggi hilang setelah masuk ke Konsulat Jenderal Arab Saudi di Istanbul, Turki pada Selasa (2/10). Ketika itu, dia bermaksud mengurus dokumen pernikahan.

Namun, Khashoggi--yang  dikenal sebagai pengkritik kebijakan MBS--tidak kunjung keluar dari gedung tersebut. Muncul dugaan dia diculik dan dibunuh oleh Arab Saudi.

Tuduhan itu dibantah oleh Pemerintah Arab Saudi, yang mengklaim Khashoggi sudah keluar dari konsulat dalam keadaan hidup. Namun, penyangkalan yang berlangsung selama beberapa pekan itu akhirnya dicabut dan Pemerintah Arab Saudi mengakui Khashoggi telah dibunuh.

Meski demikian, MBS diklaim tidak tahu menahu dan tidak terlibat dalam operasi pembunuhan tersebut.

Tag : Jamal Khashoggi
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top