Menteri Lingkungan Hidup Dunia Berkumpul di Indonesia, Ini Targetnya!

Sejumlah negara akan berkumpul pada pertemuan internasional, The 4th Intergovernmental Review Meeting on the Implementation of the Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Land-Based Activities (IGR-4), di Nusa Dua, Bali, pada 31 Oktober—1 November mendatang.
Herdiyan | 29 Oktober 2018 17:23 WIB
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (kiri) menyapa warga yang hadir dalam Festival Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Tingkat Nasional dan Pameran Usaha Kehutanan yang berlangsung di Hutan Pinus, Mangunan, Dlingo, Bantul, Jumat (28/09/2018). - JIBI/Desi Suryanto

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah negara akan berkumpul pada pertemuan internasional, The 4th Intergovernmental Review Meeting on the Implementation of the Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Land-Based Activities (IGR-4), di Nusa Dua, Bali, pada 31 Oktober—1 November mendatang.

IGR-4 merupakan ajang badan dunia PBB bidang lingkungan (UNEP) dan akan dihadiri para menteri lingkungan hidup dari berbagai negara di dunia. Sekitar 89 delegasi negara dengan sekitar 400 pejabat pemerintah dipastikan hadir di Bali mengikuti agenda lima tahunan ini.

Nantinya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia Siti Nurbaya Bakar sebagai Ketua Forum setelah sebelumnya diketuai Filipina akan memimpin berbagai sidang untuk menghasilkan berbagai kesepakatan baru antarnegara. Tema  yang diangkat IGR 4 yakni “Pollution in Ocean and Land Connection”.

Ketua dan tiga wakil ketua akan dipilih sesuai prosedur UNEP pada sidang sesi pertama Rabu (31/10/2018) mendatang.

“Hasil-hasil kesepakatan IGR-4, akan dituangkan dalam deklarasi Bali sebagai dukungan nyata perlindungan dan pelestarian lingkungan laut global, terutama dari masalah sampah plastik,” ungkap Siti dalam rilis pada media, Senin (29/10/2018).

Ada tiga agenda utama dalam IGR4. Pertama, review pelaksanaan Global Programme of Action for the Protection of the Marine Environment from Land-based Activities (GPA) periode 2012-2017 sebagai mandat Manila Declaration.

Kedua, menyusun kebijakan masa depan GPA periode 2018-2022. Ketiga, program kerja GPA periode 2018-2022 yang dilaksanakan melalui Coordination Office.

“Kita akan buktikan komitmen sekaligus kepemimpinan Indonesia dalam IGR 4 ini nantinya mampu menghasilkan kesepakatan positif bagi masa depan dunia, terutama mengatasi masalah polusi laut,” kata Siti.

Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah, setelah pertemuan IGR ke-1 diselenggarakan di Montreal, Kanada pada 2001, IGR ke-2 di Beijing (China) pada 2006, dan IGR ke-3 di Manila, Fillipina pada 2012 dengan hasil berupa Manila Declaration.

Beberapa menteri delegasi IGR4 saat ini sudah berada di Indonesia, di antaranya Menteri Lingkungan Tuvallu Mackenzie Kiritome dan Menteri Lingkungan Hidup Republik Kongo yang juga menjabat sebagai Menteri Pariwisata Arlette Soudan-Nonault.

Menteri Arlette bahkan langsung memanfaatkan waktu sebelum pembukaan IGR 4 dengan mengunjungi Kalimantan Barat untuk melihat langsung langkah-langkah nyata perlindungan gambut di Indonesia.

Selain ke Kalbar, Menteri Arlette bersama pejabat Republik Kongo dan Direktur eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP) Erik Solheim, akan menghadiri soft launching Pusat Gambut Tropis Internasional di Bogor, pada Selasa (30/10/2018).

“Ini juga menjadi bukti apresiasi dunia atas berbagai upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam komitmen perubahan iklim, mewujudkan pembangunan inklusif dan berkelanjutan,” tutur Siti.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lingkungan hidup, menteri lingkungan hidup dan kehutanan

Editor : Herdiyan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top