16 Tahun Bom Bali: Bersahabat Dengan Luka 

"Teroris adalah orang jahat, mereka punya keluarga seperti kami, kenapa tidak memikirkan keluarga lainnya," kata Takako Suzuki, seorang ibu renta yang ditinggal pergi sang anak selama-lamanya.
Ni Putu Eka Wiratmini | 12 Oktober 2018 16:45 WIB
Takako Suzuki meletakkan bunga di Monumen Bom Bali untuk mengenang kepergian anak dan menantunya, Jumat (12/10/2018). - Bisnis/Ni Putu Eka Wiratmini

Bisnis.com, LEGIAN -- "Teroris adalah orang jahat, mereka punya keluarga seperti kami, kenapa tidak memikirkan keluarga lainnya," kata Takako Suzuki, seorang ibu renta yang ditinggal pergi sang anak selama-lamanya.

Takako Suzuki adalah satu dari sekian kerabat korban Bom Bali yang hari ini mengunjungi Bali Bombing Monument untuk memperingati tepat 16 tahun peristiwa kelam tersebut. 

Ya, peristiwa Bom Bali boleh berlalu 16 tahun lamanya. Tetapi duka bagi kerabat yang ditinggalkan akan terus terasa. Satu-satunya pilihan adalah berdamai dengan luka tersebut. 

Seperti Takako, yang bisa dia lakukan saat ini adalah mengenang dan memberikan doa untuk anak dan menantunya yang berpulang karena peristiwa kelam itu. 

Takako Suzuki dan Tomihisa Suzuki berdoa di Monumen Bom Bali,Jumat (12/10/2018). / Bisnis-Ni Putu Eka Wiratmini

"Kita [dia dan suaminya] selalu datang ke sini setiap tahun, dulu sebelum meninggal, mereka [anak dan menantunya] selalu datang ke sini [berlibur di Bali]," katanya.

Anak dan menantu Takako adalah adalah dua korban bom Bali dari Jepang. Mereka bernama Kosuke Suzuki (34) dan Yuka Suzuki (33). 

Menurut penuturan Takako, mereka waktu itu sudah ketujuh kalinya berlibur ke Bali untuk melakukan bulan madu. Bali merupakan tempat berlibur favorit mereka.

Sudah tujuh tahun berturut-turut mereka selalu menyempatkan berlibur di Bali. Bahkan, mereka belajar masakan hingga tarian tradisional Bali.

Takako Suzuki dan Tomihisa Suzuki berfoto di depan Monumen Bom Bali: Berdoa dan berdamai dengan luka, Jumat (12/10/2018)./Bisnis-Ni Putu Eka Wiratmini

Naas, tahun ketujuh berlibur di Bali, mereka tertimpa peristiwa kelam, pengeboman sekelompok teroris. Mereka pun meninggal dalam peristiwa itu.

"Mereka [anak dan menantu] bilang suka ke sini, padahal kami tinggal di Malaysia karena suami bekerja di sana, saya waktu itu bilang kamu harus ke Malaysia tapi mereka ingin ke Bali, lalu malah meninggal di sini," katanya sambil meneteskan air mata mengenang anak dan menantunya itu.

Tidak seperti pengunjung lainnya, Takako membawa banyak minuman dan makanan kegemaran anaknya. Dia taruh semua makanan dan minuman itu di atas monumen.

Beberapa kuntum bunga mawar berwana putih juga dia taruh di samping makanan dan minuman tersebut. Setelah itu, dua lilin dan puluhan dupa kecil dia hidupkan. 

Takako Suzuki menangis dalam doanya di  Monumen Bom Bali, Jumat (12/10/2018): Jika nanti saya mati, saya ingin melihat dia, dan dia harus memeluk saya nanti./Bisnis-Ni Putu Eka Wiratmini

Bersama sang suami, Tomihisa Suzuki, dia mendoakan anak dan menantunya. Air mata pun perlahan menetes. 

Dalam doanya, dia mengungkap kerinduan dan ingin bertemu.

"Kita akan mati nantinya, jika nanti saya mati, saya ingin melihat dia, dan dia harus memeluk saya nanti," katanya. 

Saat Takako berdoa, beberapa pengunjung pun mulai berdatangan dan melakukan hal yang sama. Menaruh bunga kemudian berdoa. 

Takako Suzuki menaruh makanan dan minuman kesukaan anaknya di Monumen Bom Bali, Jumat (12/10/2018)/Bisnis-Ni Putu Eka Wiratmini

Kesedihan Takako pun direspons dengan pelukan pengunjung lainnya. Hampir semua yang datang ke sana membawa duka mereka masing-masing. Seperti kerabat lama, mereka saling memeluk dan menguatkan satu sama lain. 

Kesedihan juga nampak dari raut muka Menteri Keuangan Utama Australia Josh Frydenberg  dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Timor Leste, dan Asean Moazzam Malik.

Di sela-sela Annual Meetings IMF-WB 2018 mereka menyempatkan diri mendatangi Monumen Bom Bali untuk memperingati 16 tahun peristiwa tersebut, Jumat (12/10/2018) pagi.

Menteri Keuangan Utama Australia Josh Frydenberg mengatakan kedatangannya ke monumen ini sebagai perwakilan negara untuk mendoakan dan mengenang para korban.

Menurutnya, tragedi Bom Bali merupakan hal yang menyedihkan dan menjadi masa kelam bagi Indonesia maupun Australia serta negara lainnya di dunia. 

Dia menuturkan, pada 2002 atau saat peristiwa Bom Bali I, sebanyak 88 orang Australia menjadi korban bersama 23 korban dari Inggris, 38 dari Indonesia, dan korban dari negara lainnya. 

"Banyak korban dari bom tersebut, baik korban mental dan fisik, sejak hari tragedi itu, 16 tahun lalu Indonesia dan Australia membuat kerja sama dan lebih dekat untuk bekerja membuat peraturan yang menghadang teroris, dan memastikan tidak akan terjadi kejadian ini lagi," katanya, Jumat (12/10/2018).

Menurutnya, terorisme merupakan perjuangan tiada akhir. Semua negara di dunia punya tanggung hawab bersama dalam memerangi terorisme. 

Kata dia, Australia dan Indonesia akan terus bekerja sama untuk memerangi terorisme seperti dalam bentuk pelatihan. 

"Kita baru saja menyelesaikan kerja sama antara Australia dan Indonesia, polisi dan intelijen bekerja lebih dekat dalam masalah terorisme," katanya.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Timor Leste, dan Asean Moazzam Malik mengatakan pihaknya sangat berduka karena kejadian ini. Monumen ini menurutnya menjadi simbol bahwa kejadian 16 tahun lalu tidak lah dilupakan. 

Menurutnya, monumen ini sekaligus mengingatkan masing-masing negara untuk terus memperkuat kerja sama, terutama dalam memerangi ekstrimisme. 

"Sejak Bom Bali, Australia, UK, US, dan negara lain juga Indonesia terus meningkatkan kemampuan antiterorisme, kami meningkatkan fasilitas, apalagi Indonesia masih terus berjuang dalam ancaman terorisme seperti kejadian Bom Surabaya, dan kita akan terus melanjutkan dukungan untuk Indonesia dalam melawan terorisme," katanya.

Terlepas dari semua kepedihan dan duka itu, rupanya Monumen Bom Bali kini tampak lebih semarak dengan kolam air mancur dan lampu hias. 

Sebelumnya, Monumen Bom Bali memang memiliki kolam air mancur namun tidak setinggi seperti yang direnovasi kali ini. Kolam juga dihiasi lampu bawah air yang akan menyala ketika malam hari. Selain itu, di sisi kanan dan kiri juga dipasangi lampu hias. 

Bisa ditebak, ketika malam tiba, Monumen Bom Bali akan lebih berwarna. 

Sekretaris Yayasan Isana Dewata, yang menaungi janda dan anak korban bom bali, Tiolina Martau mengatakan bangga kini Monumen Bom Bali tampak lebih semarak.

Apalagi, sejumlah pejabat tinggi seperti Menteri Keuangan Utama Australia dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Timot Leste, dan Asean juga menyempatkan hadir ke monumen di sela-sela kesibukan mereka dalam Annual Meetings IMF-WB 2018.

"Dengan adanya kegiatan ini monumen jadi lebih terlihat di mata dunia, dan kita harapkan pemerintah kita supaya tetap mau memperhatikan ini," katanya.

Tag : bom bali, terorisme
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top