LAPORAN DARI AUSTRIA: RI Dorong Diplomasi Nuklir untuk Pembangunan Ekonomi

Indonesia terus berkontribusi dalam memperkuat program kerja sama teknis yang dikembangkan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) di bidang pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Andhina Wulandari | 20 September 2018 02:24 WIB
Duta Besar RI untuk Wina Darmansjah Djumala dalam sidang IAEA di Wina, Austria, pada Rabu (19/9/2018). - Istimewa/KBRI Wina

Bisnis.com, WINA – Indonesia terus berkontribusi dalam memperkuat program kerja sama teknis yang dikembangkan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) di bidang pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Program kerja ini, menurut Duta Besar RI Wina/Wakil Tetap RI yang terakreditasi pada IAEA, Darmansjah Djumala, untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG).

“Bantuan dan kerja sama teknis IAEA tidak hanya dimanfaatkan bagi kepentingan rakyat secara nasional, tetapi juga dikembangkan untuk memberi manfaat bagi negara lain, khususnya dalam kerangka kerja sama Selatan-Selatan melalui Practical Arrangement yang ditandatangani pada saat kunjungan Dirjen IAEA Yukiya Amano ke Indonesia pada Februari 2018 lalu,” ujarnya.

Djumala meneluarkan pernyataan itu selaku Ketua Delegasi Indonesia pada Sidang Umum IAEA ke-62 (SU IAEA ke-62) yang berlangsung pada 17 – 21 September 2018 di Wina, Austria.

Dia menjelaskan salah satu contoh konkret keunggulan Indonesia di bidang aplikasi nuklir adalah dalam peningkatan produktivitas ternak.

Teknologi nuklir di bidang ini telah digunakan oleh 74 komunitas peternak di Sekolah Peternakan Rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia atas inisiasi dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dua peternak dari Sumatra Selatan dan Jawa Timur sengaja diundang untuk berbagi pengalamannya mengenai keberhasilan program tersebut kepada negara-negara lain di sela-sela Sidang Umum IAEA.

Selain ternak, teknologi nuklir juga telah dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan produktivitas kedelai, padi, dan sorgum yang saat ini dikembangkan teknologi nuklir untuk pengawetan ikan.

Dalam upaya terus mengamankan kepentingan Indonesia di bidang kerja sama teknis, dan menarik manfaat sebanyak-banyaknya bagi kepentingan rakyat, pada Sidang Umum tersebut, Indonesia menjadi salah satu penyusun (co-drafter) bersama China dan Afrika Selatan dalam merancang resolusi tentang penguatan peran IAEA dalam mendukung negara-negara anggota di bidang pangan dan pertanian.

Indonesia pun secara eksplisit menyebutkan pengalaman dalam pengembangan varietas padi dan kedelai unggul sebagai contoh sukses.

Resolusi ini akan menjadi rujukan untuk pengembangan kerja sama lebih lanjut di kemudian hari yang berdampak lebih luas pada pengembangan sosio-ekonomi masyarakat.

Selain isu teknis, Djumala juga menyentuh isu-isu krusial lain seperti nuklir Iran, nuklir Korea Utara, dan keamanan nuklir dalam pernyataannya.

“Terkait dengan Iran, Indonesia menyerukan agar negara-negara pihak perjanjian Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tetap memegang komitmennya dan mengapresiasi kinerja IAEA dalam melakukan verifikasi dan pemantauan program nuklir Iran secara imparsial dan obyektif,” tegasnya.

Dalam isu Korea Utara, Indonesia menyambut baik hasil diplomasi dan dialog yang dilakukan antara pihak-pihak terkait, terutama Pamunjom Declaration dan hasil Pertemuan Tingkat Tinggi AS-Korut di Singapura, dan mendesak Korut mengambil langkah-langkah konkret untuk denuklirisasi dengan kembali menjadi negara pihak Non-Proliferation Treaty (NPT).

Adapun dalam hal keamanan nuklir, Indonesia menyampaikan apresiasi atas bantuan dan kerja sama dengan IAEA dalam memastikan keamanan penyelenggaraan Asian Games ke-18 dari sisi keamanan bahan-bahan radioaktif.

Tag : nuklir
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top