Trump Ancam 'Permainan Perang-perangan' Besar Jika Progres Denuklirisasi Korut Mandek

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan dapat memulai latihan militer bersama yang jauh lebih besar dengan Korea Selatan dan Jepang jika progres atas pembicaraan nuklir Korea Utara mandek.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 30 Agustus 2018  |  07:28 WIB
Trump Ancam 'Permainan Perang-perangan' Besar Jika Progres Denuklirisasi Korut Mandek
Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bertemu empat mata di Pulau Sentosa, Singapura, Selasa (12/6). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan dapat memulai latihan militer bersama yang jauh lebih besar dengan Korea Selatan dan Jepang jika progres atas pembicaraan nuklir Korea Utara mandek.

Trump mengeluarkan peringatan itu dalam serangkaian cuitan di akunTwitter pada Rabu (29/8/2018), yang ia gambarkan sebagai pernyataan Gedung Putih, setelah mengeluhkan tentang China.

Sebelumnya pada Rabu, Trump mengatakan kepada para wartawan Gedung Putih bahwa negosiasi dengan Korea Utara telah berjalan dengan baik, tetapi China membuat realisasinya jauh lebih sulit.

Pernyataan Gedung Putih menegaskan bahwa China menyuplai Korea Utara dengan bantuan yang cukup, termasuk uang, bahan bakar, pupuk, dan berbagai komoditas lainnya.

Komentar itu muncul hanya beberapa hari setelah Trump membatalkan kunjungan ke Korea Utara oleh Menteri Luar Negeri Mike Pompeo. Trump tidak melihat cukup banyak kemajuan dalam pembicaraan yang ditujukan untuk denuklirisasi di Semenanjung Korea.

Dalam serangkaian cuitannya pada Jumat pekan lalu, Trump mengatakan Pompeo kemungkinan akan kembali ke Korea Utara setelah perselisihan perdagangan AS dengan China diselesaikan.

AS diketahui sangat bersandar pada China, yang berbagi perbatasan dengan Korea Utara dan merupakan mitra dagang terbesarnya, untuk membantu menegakkan sanksi lebih keras yang diberlakukan tahun lalu terhadap rezim Kim Jong Un. “China adalah rute ke Korea Utara,” ucap Trump pada Rabu.

Perang dagang antara AS dan China sendiri akan meningkat lebih lanjut setelah pemerintah kedua negara gagal membuat kemajuan dalam diskusi yang berlangsung pekan lalu. Menurut sumber terkait, tidak ada rencana untuk pembicaraan lebih lanjut.

Pemerintahan Trump telah mengenakan tarif pada impor China senilai US$16 miliar dan berencana memberlakukan tarif lebih lanjut untuk impor China senilai US$200 miliar. Sudah jelas pemerintah China menjanjikan akan melakukan pembalasan.

Berbulan-bulan sejak Trump dan Kim Jong-un bertemu di Singapura, AS telah berjuang untuk menunjukkan tanda-tanda kemajuan dalam upaya membuat Korea Utara melucuti program senjata nuklirnya. Namun, di depan Senat AS baru-baru ini, Pompeo mengakui bahwa pemerintah Korut terus memproduksi bahan fisil dan belum menyerahkan persediaan program nuklir dan fasilitasnya.

Dalam sebuah isyarat diplomatik ke Pyongyang pada Juni, Trump menangguhkan apa yang dia sebut 'permainan perang-perangan' dengan Korea Selatan. Ia mengatakan optimistis bahwa Kim Jong-un ingin menuntaskan denuklirisasi.

Namun pada Selasa, Menteri Pertahanan Jim Mattis mengatakan AS tidak berencana untuk menunda lebih banyak latihan militer bersama. Hal ini diungkapkannya di tengah laporan bahwa Korea Utara menolak tuntutan Amerika untuk menyerahkan hulu ledak nuklir.

"Presiden yakin bahwa hubungannya dengan Kim Jong-un terjalin sangat baik dan hangat, dan tidak ada alasan saat ini untuk menghabiskan banyak uang untuk permainan perang gabungan AS-Korea Selatan," kata Gedung Putih dalam pernyataan pada hari Rabu, seperti dikutip Bloomberg.

"Lagi pula, jika ia mau, presiden dapat langsung memulai latihan gabungan lagi dengan Korea Selatan, dan Jepang. Jika dia [Trump] melakukannya, latihan itu akan jauh lebih besar dari sebelumnya."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
korea utara, Donald Trump

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top