Bebas dari Penjara Turki, Jurnalis Jerman Bersumpah Perjuangkan Nasib Tahanan

Jurnalis asal Jerman Mesale Tolu akhirnya pulang ke negara kelahirannya. Meski telah dibebaskan dari penjara Turki pada bulan Desember, Tolu dilarang meninggalkan negara itu hingga pekan lalu.
Renat Sofie Andriani | 27 Agustus 2018 07:17 WIB

Kabar24.com, JAKARTA – Jurnalis asal Jerman Mesale Tolu akhirnya pulang ke negara kelahirannya. Meski telah dibebaskan dari penjara Turki pada bulan Desember, Tolu dilarang meninggalkan negara itu hingga pekan lalu.

Minggu (26/8/2018) menjadi saat yang paling dinanti-nantikan oleh jurnalis berusia 34 tahun tersebut untuk kembali menghirup udara tanah airnya. Tetap saja, ia bersumpah untuk terus berjuang bagi rekan-rekannya yang masih terpenjara di Turki.

"Saya mungkin telah pulang, tetapi ratusan rekan, aktivis oposisi, pengacara, mahasiswa – ada sekitar 70.000 mahasiswa di penjara - masih belum bebas,” ucap Tolu kepada awak media di bandara Stuttgart setelah tiba dari Istanbul, seperti dikutip Reuters.

“Jadi saya tidak bisa benar-benar bahagia meninggalkan negara tempat saya dipenjara karena saya tahu tidak ada yang berubah di sana."

Dituduh sebagai bagian dari organisasi teroris dan mempublikasikan propaganda teroris, Tolu adalah salah satu dari puluhan ribu pegawai sipil dan jurnalis yang ditahan setelah upaya untuk menggulingkan Presiden Tayyip Erdogan gagal dilancarkan pada 2016.

Ia menggambarkan bagaimana polisi-polisi bersenjata dan bertopeng menyerbu rumahnya di tengah malam pada bulan April tahun lalu, membangunkan putranya yang sedang tidur, serta berlaku tak pantas saat mereka menggeledah apartemen sebelum menangkapnya.

Suaminya, Suat Corlu, saat ini masih ditahan di penjara Turki karena tuduhan terorisme pascaupaya kudeta. Meski khawatir akan kembali ditangkap, Tolu mengatakan akan kembali ke Turki dan hadir dalam proses pengadilan.

Hubungan antara Jerman dan Turki memburuk setelah Jerman mengecam tindak penangkapan oleh pemerintah Turki terhadap sekitar 50.000 orang, berikut pemberhentian atau pemecatan terhadap 150.000 orang lainnya, termasuk para guru, hakim, dan tentara.

Jerman telah menuntut pembebasan beberapa warga negaranya, sebagian asal Turki, sebagai langkah penting untuk memperbaiki hubungan dengan Turki.

Hubungan kedua negara kemudian berangsur membaik dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah Turki melepaskan jurnalis berdarah Jerman-Turki Deniz Yucel pada Februari.

Tag : turki
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top