China Lirik Ekspansi Bisnis di Eropa Timur

Perdana Menteri China Li Keqiang akan menawarkan perluasan hubungan bisnis dengan pemimpin Eropa Tengah dan Timur sambil berusaha meyakinkan Uni Eropa bahwa Beijing tidak berusaha untuk membelah hubungan antar negara UE pada konferensi yang dilaksanakan di Sofia, Bulgaria, pada Sabtu (7/7/2018).
Nirmala Aninda | 07 Juli 2018 11:40 WIB
Perdana Menteri China Li Keqiang - Reuters

Bisnis.com, SOFIA - Perdana Menteri China Li Keqiang akan menawarkan perluasan hubungan bisnis dengan pemimpin Eropa Tengah dan Timur sambil berusaha meyakinkan Uni Eropa bahwa Beijing tidak berusaha untuk membelah hubungan antar negara UE pada konferensi yang dilaksanakan di Sofia, Bulgaria, pada Sabtu (7/7/2018).

Konferensi tingkat tinggi China-CEE (China dan 16 negara Eropa Tengah dan Timur) yang berlangsung untuk ke tujuh kalinya bersinggungan dengan perang dagang yang semakin meningkat antara China dan Amerika Serikat.

Dilansir Reuters,  Li juga akan mencoba untuk menghilangkan keraguan sejumlah negara anggota China-CCE terhadap nilai dari pertemuan tingkat tinggi tersebut.

China telah menjanjikan dana miliaran untuk proyek pembangunan di kawasan tersebut sebagai bagian dari startegi Belt and Road untuk mengukir pasar ekspor baru, kesepakatan ini mendapatkan pengawasan yang tinggi.

Li sangat berhati-hati dalam menekankan dukungan China terhadap integrasi dan aturan terkait perdagangan dan pengadaan barang sebab Beijing membutuhkan dukungan Uni Eropa dalam perang dagangnya dengan Presiden AS Donald Trump.

"Kerja sama 16+1 sama sekali bukan platform geo-politik. Beberapa orang mungkin mengatakan kerjasama semacam ini dapat memisahkan Uni Eropa, tetapi itu tidak benar," ujar Li pada konferensi pers dengan Perdana Menteri Bulgaria Boyko Borissov pada Jumat (6/7/2018).

"Kami berharap bahwa melalui kerjasama ini kami akan meningkatkan pengembangan semua negara yang terlibat dan membantu mereka lebih terintegrasi dalam proses integrasi Eropa," kata Li yang akan bertolak ke Jerman usai KTT di Bulgaria.

Hindari Isu Mengusik Eropa Barat

Analis mengatakan Li akan mencoba untuk menghindari isu yang mungkin mengusik negara Eropa Barat, termasuk Komisi Eropa di Brussels yang menjunjung tinggi aturan umum yang mendukung pasar tunggal Uni Eropa.

"Saya pikir bahwa Perdana Menteri Li Keqiang kali ini akan bersikap low profile terhadap isu-isu yang mungkin sensitif bagi Uni Eropa," ujar Francois Godement, Direktur Program Asia dan China di Dewan Eropa tentang Hubungan Luar Negeri.

Lebih dari 250 perusahan China dan 700 pengusaha dari Eropa Tengah dan Timur diperkirakan hadir pada forum ekonomi bersama guna mencari kesepakatan dalam perdagangan, teknologi, infrastruktur, pertanian dan pariwisata.

Bulgaria berharap KTT ini akan membantu mengamankan dana yang sangat dibutuhkan untuk membangun jalan-jalan baru, jalan raya dan infrastruktur lainnya di Eropa Timur, wilayah yang masih tertinggal dari negara-negara kaya belahan Barat Eropa dari segi pembangunan dan pendapatan.

"Kami tidak bertujuan untuk membelah Uni Eropa. Sebaliknya kami bertujuan untuk membantu Eropa Timur dan Balkan yang tertinggal agar dapat menyusul," kata Borissov.

Sofia berencana dapat mengikat dana dari China untuk proyek jalan raya dan kereta api guna menghubungkan pelabuhan di Laut Aegea di Yunani Utara dan Laut Hitam di Bulgaria, Rumania dan Serbia.

China telah menyatakan minatnya terhadap rencana tersebut dan juga menegaskan bahwa pihaknya bersedia mendukung proyek pembangkit listrik tenaga nuklir Belene di Belarusia. Bulan lalu, Hungaria menyelesaikan konstruksi jalur kereta api Budapest - Belgrade, salah satu proyek infrastruktur terbesar yang didukung China di wilayah tersebut.

Negara-negara yang termasuk dalam KTT ini antara lain negara anggota Uni Eropa seperti Bulgaria, Kroasia, Republik Ceko, Estonia, Hongaria, Latvia, Lithuania, Polandia, Rumania, Slovakia dan Slovenia.

Serta negara non Uni Eropa yakni Albania, Bosnia dan Herzegovina, Makedonia, Montenegro dan Serbia. Dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut perwakilan dari Uni Eropa dan Yunani juga akan hadir.

Tag : uni eropa, china
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top