Alibaba Kurangi Anggaran Investasinya di AS

Alibaba Group Holding Ltd. bergerak mundur dari posisinya di Silicon Valley. Hal itu menjadi pertanda bahwa tindakan Pemerintahan Trump terkait penyempitan gerak investasi China di Negeri Paman Sam mulai bereaksi.
Dwi Nicken Tari | 28 Juni 2018 19:16 WIB
Alibaba Group - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Alibaba Group Holding Ltd. bergerak mundur dari posisinya di Silicon Valley. Hal itu  menjadi pertanda bahwa tindakan Pemerintahan Trump terkait penyempitan gerak investasi China di Negeri Paman Sam mulai bereaksi.

Lengan ventura raksasa e-commerce asal China itu mengumumkan hanya ada satu investasi segar di AS pada tahun ini, sebesar US$26,4 juta. Pendanaan itu dihimpun untuk mendanai usaha rintisan analisis data yang disebut SQream Technologies yang berada di New York dan Tel Aviv.

Adapun jumlah tersebut sangat kecil dibandingkan dengan ratusan juta dolar AS yang digelontorkan Alibaba kepada perusahaan berprofil tinggi milik AS, sebelumnya seperti Magic Leap, Jet.com, dan Snap Inc.

Pada awal tahun ini, menurut sumber anonim, perusahaan juga kehilangan pembuat keputusan (dealmaker) utamanya untuk AS, Michaeil Zeisser.

Sumber itu melanjutkan, alih-alih mencari pengganti dari luar, Alibaba justru mempromosikan Peter Stern yang sebelumnya pernah menjadi bankir investasi di Credit Suisse.

Adapun pada awal tahun ini, Ant Financial—perusahaan pembayaran dari Alibaba—membatalkan rencananya untuk membeli MoneyGram International setelah CFIUS menghalangi transaksi dengan alasan keamanan nasional.

“Mengingat situasi saat ini, tampaknya investasi apa pun yang mereka [China] lakukan bakal mendapat adangan dari CFIUS,” kata Hans Tung, Managing Partner di GGV Capital, investor awal di Alibaba, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (28/6/2018).

Adapun Alibaba menolak memberikan komentar.

Sejatinya, prioritas Alibaba di AS selama ini adalah untuk membujuk pebisnis di sana supaya menjual ke konsumen China lewat pasar daringnya yang besar alih-alih mengejar konsumen AS dan bersaing dengan Amazon.com Inc.

Hal itu dilakukan dengan membidik perusahaan AS yang berpotensi menguntungkan bisnis Alibaba.  Kemudian, Alibaba akan mempelajari teknologi baru yang perusahaan potensial itu miliki, begitu juga tren dan bisnisnya, untuk dapat melengkapi penawaran bisnis e-ocmmerceAlibaba di Asia.

Sejauh ini, Alibaba telah mengambil sejumlah saham perusahaan AS di e-commerce ritel olahraga (Fanatics), perusahaan gaming (Kabam), aplikasi pengantar pesan (Tango), usaha rintisan transportasi panggilan (Lyft), perusahaan e-commerce (Jet.com), dan Snap.

Baru-baru ini, tujuan investasi Alibaba berubah haluan ke perusahaan yang sudah berada di tahap awal, bukan lagi usaha rintisan, seperti perusahaan penyimpanan data dan perusahaan teknologi pembangunan berbasis lokasi. Hal itu dilakukan untuk membantu membuat bisnis Alibaba menjadi lebih efisien.

Namun, kini Alibaba sekali lagi kembali fokus untuk perkembangan bisnisnya di Asia. Adapun pendiri Alibaba, Jack Ma, masih mengupayakan visi untuk membawa supermarket dan department store China masuk ke abad 21.

Untuk itu, Alibaba telah menuangkan miliaran dolar AS ke dalam sektor ritel trasisional, seperti membeli perusahaan yang sudah ada untuk dijadikan toko tradisional (brick-and-mortar) yang tidak menggunakan tunai.

Untuk menarik konsumen baru di dalam ekonomi yang bertumbuh cepat di Asia Tenggara, Alibaba pun menginvestasikan US$4 miliar ke e-commerce yang berbasis di Singapura Lazada Group dan sebesar US$1,1 miliar untuk Tokopedia di Indonesia.

Adapun Alibaba bukanlah satu-satunya perusahaan China yang menhindari AS dewasa ini. Dalam lima bulan pertama pada tahun ini, berdasarkan Rhodium Group, akuisisi dan investasi China telah turun ke level terendahnya dalam 7 tahun, penurunan sebesar 92%.

Tag : alibaba, perang dagang AS vs China
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top