Soros Danai Perusahaan Investasi Berbasis Kasus Gugatan Konsumen

Perusahaan Soros mendanai sebuah perusahaan yang membuat portofolio investasi dari kasus-kasus gugatan hukum yang muncul karena cedera pribadi.
Renat Sofie Andriani | 28 Juni 2018 15:54 WIB
George Soros - www.georgesoros.com

Bisnis.com, JAKARTA – Tua-tua keladi, semakin tua semakin jadi. Pepatah ini tampaknya layak disematkan pada miliarder superkaya dunia, George Soros. Magnet bisnis berusia 87 tahun ini telah menemukan cara baru untuk membuat pundi-pundinya kian mengalir.

Firma manajemen investasi Soros Fund Management memasuki suatu cabang keuangan litigasi yang dimasuki oleh sedikit pengelola investasi global (hedge funds). Sebagi informasi, litigasi adalah proses menyelesaikan perselisihan hukum di pengadilan di mana setiap pihak yang bersengketa mendapatkan kesempatan untuk mengajukan gugatan dan bantahan.

Menurut pengarsipan Mei, perusahaan milik keluarganya itu mendanai sebuah perusahaan yang membuat portofolio investasi dari kasus-kasus gugatan hukum yang muncul karena cedera pribadi.

Ini merupakan perkembangan terakhir pada pasar pendanaan litigasi, yang telah mengundang kritik karena memonetisasi dan mendorong budaya gugatan di Amerika Serikat (AS).

Perusahaan milik Soros secara finansial mendukung Mighty Group yang memonetisasi kasus gugatan hukum. Pendekatan yang dilakukan Mighty Group membuka pintu untuk pengembangan potensi lain, yakni sekuritisasi perkiraan hasil gugatan hukum oleh individu untuk dijual kepada investor-investor lain.

Return 20%

Wall Street melihat masa depan pada litigasi komersial, yang menyediakan pembiayaan untuk gugatan-gugatan perusahaan besar bernilai jutaan bahkan miliaran dolar AS untuk dipertaruhkan.

Soros berfokus pada sisi konsumen, di mana penggugat menerima uang muka senilai US$2.000 rata-rata untuk klaim hukum yang biasanya terkait dengan kecelakaan mobil dan konstruksi. Uang muka digunakan untuk menutupi pengeluaran pribadi, seperti tagihan medis dan sewa.

Soros, bersama dengan Apollo Capital Management, berada di antara pengelola dana pertama yang terjun ke dalam ceruk pasar pendanaan yang datang dari kasus-kasus gugatan hukum.

Perusahaan ini menawarkan return yang stabil dan dapat diprediksi, yang secara historis memiliki rata-rata sekitar 20% per tahun dengan risiko relatif rendah, menurut Adrian Chopin, managing director di perusahaan keuangan hukum Bench Walk Advisors.

“Semua orang mencari imbal hasil, dan orang-orang juga mencari aset yang tidak berkorelasi dengan ekuitas utama dan pasar utang,” kata Christopher Gillock, managing director di Colonnade Advisors dikutip dari Bloomberg. “Pendanaan litigasi termasuk dalam kategori itu.”

Joshua Schwadron, co-founder Mighty, menolak berkomentar tentang para investor perusahaan. Michael Vachon, juru bicara Soros Fund Management, juga tidak bersedia menyampaikan pendapatnya.

Risiko Politik

Berbagai investasi datang dengan risiko dari sisi spektrum politik. Kamar Dagang AS dan industri asuransi mengritik pembiayaan litigasi karena menyumbat ruang pengadilan dengan tuntutan hukum yang sembrono serta meningkatkan biaya settlement.

Para regulator, di lain pihak, telah mengambil sisi konsumen, dengan mengendalikan uang muka serta memberi mereka pinjaman yang tunduk pada undang-undang riba.

Di sisi lain, para pendukung industri mengatakan bahwa pendanaan membantu orang-orang memenangkan pembayaran yang pantas, alih-alih settlement dengan biaya di bawah tekanan atas tagihan medis atau kehilangan penghasilan dari pekerjaan. Selain itu, penggugat tidak perlu membayarkan kembali uang muka jika mereka kalah dari kasusnya.

“Perusahaan-perusahaan pendanaan ini memungkinkan orang-orang yang terluka karena kecelakaan untuk dapat bertahan cukup lama untuk mendapatkan pembayaran,” kata Joel Magerman, chief executive officer Bryant Park Capital.

Perusahaan pendanaan tidak selalu mendapatkan pembayaran penuh karena klaim-klaim lain, seperti biaya pengacara, memiliki prioritas.

“Risiko kekurangan pembayaran membuat sulit untuk menggabungkannya dengan sekuritas, kata Eric Schuller, presiden Alliance for Responsible Consumer Legal Funding, sebuah kelompok perdagangan industri. Berbeda dengan uang muka, sebagian besar sekuritisasi didukung oleh barang-barang nyata seperti rumah atau mobil.

Investasi Apollo

Pada bulan Maret, Mighty, yang awalnya merupakan penyedia perangkat lunak, mengumumkan telah menghimpun lebih US$100 juta dari investor institusi utama untuk membantu perusahaan-perusahaan keuangan litigasi mengakses modal.

Pengarsipan Mei menunjukkan bahwa afiliasi Soros setuju untuk memberi pembiayaan untuk Mighty, yang juga dapat digunakan untuk mendukung biaya darurat pengacara dan tagihan medis yang dijadwalkan untuk dibayarkan ketika kasus diselesaikan.

Langkah Soros ke pendanaan hukum konsumen agak mirip dengan investasi lain yang dilakukan perusahaan milik keluarganya tahun lalu. Perusahaan berpartisipasi dalam kesepakatan bersama untuk membeli pinjaman sebesar US$5 miliar dari Prosper Marketplace, suatu pelopor dalam hal pinjaman peer-to-peer.

Meskipun bentuk pendanaan litigasi ini dimulai pada pertengahan tahun 1990-an, sebagian besar hedge funds telah menjauhinya karena uang muka dan perusahaan yang mengeluarkannya sangat kecil.

Hanya pemain-pemain terbesar yang mampu memperoleh pembiayaan dari perusahaan-perusahaan investasi besar. Contohnya saja, Apollo Capital milik investor AS Leon Black, yang melalui afiliasinya MidCap Financial, mendukung Golden Pear Funding dari New York, salah satu penyedia terbesar untuk uang muka.

Magerman berpendapat akan ada lebih banyak investor yang terjun ke dalam pasar ini. “Ini adalah kelas aset berceruk kecil. Ada banyak uang tambahan yang bisa masuk,” ujar Magerman.

 

Tag : george soros
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top