Bank Sentral China Siapkan Langkah Komprehensif Hadapi Perang Dagang

Bank Sentral China, Peoples Bank of China (PBOC), mengimbau investor agar tetap tenang dan berjanji untuk menggunakan kebijakan moneter secara komprehensif.
Dwi Nicken Tari | 20 Juni 2018 11:44 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Sentral China, People’s Bank of China (PBOC), mengimbau investor agar tetap tenang dan berjanji untuk menggunakan kebijakan moneter “secara komprehensif”.

Pasalnya, tensi perdagangan yang semakin meningkat dengan Amerika Serikat telah menenggelamkan benchmark indeks saham Negeri Panda.

Gubernur PBOC Yi Gang menyampaikan di dalam wawancara bersama Shanghai Securities News yang diunggah ke laman resmi bank sentral, para pembuat kebijakan telah mempersiapkan diri untuk kejutan dari luar dan investor harus mengambil pandangan yang rasional.

Adapun Indeks Shanghai Komposit sempat terjatuh hingga 3,8% pada perdagangan Selasa (19/6/2018), ke bawah level 3.000. Sebelumnya level ini pernah tersentuh pada gejolak pasar pada 2015 dan 2016.

“Kami akan mengamati, mempersiapkan kebijakan relevan, dan secara komprehensif menggunakan segala bentuk perangkat kebijakan moneter,” kata Yi seperti dikutip Bloomberg, Rabu (20/6/2018).

Dia menambahkan, penyebab terjadinya gejolak pasar sebagian besar disebabkan oleh sentimen dan bahwa China memiliki ruang untuk menghadapi friksi perdagangan.

Adapun pada Senin (18/6/2018), Presiden AS Donald Trump telah mengancam untuk mengenakan tarif tambahan terhadap US$200 miliar ekspor China , langkah yang semakin menegangkan hubungan dagang AS-China.

Untuk itu, PBOC pun menyuntikkan 200 miliar yuan (US$31 milar) ke dalam perekonomian China pada Selasa (19/6/2018) lewat fasilitas pinjaman jangka menengah. Jika ditambahkan dengan pendanaan yang telah dialirkan pada awal bulan ini, dana bersih yang telah diberikan PBOC mencapai 403,5 miiar yuan hingga Juni, terbanyak secara bulanan sejak Desember 2016.

Adapun tambahan dana ini muncul setelah pernyataan pada Senin (18/6/2018), bahwa bank sentral akan menangani  “laju dan intensitas” dari kampanye deleveraging ekonomi yang masih berlangsung.

Hal itu mengindikasikan bahwa ada beberapa kelonggaran yang akan diberikan ke dalam kebijakan seperti yang disyaratkan. Selain itu, bank sentral juga telah membentuk tim risiko keuangan global untuk memantau risiko eksternal dan domestik.

“Bank sentral mungkin akan melonggarkan sentimen pasar sebelum perang dagang antara China dan AS semakin intensif dan menghindari terlalu banyak kepanikan di dalam pasar,” kata David Qu, ekonom di Australia&New Zealand Banking Group Ltd., Shanghai.

Dia mengingatkan, kebijakan moneter juga  berada di bawah tekanan untuk pengambilan langkah, khususnya di dalam menghadapi peningkatan default obligasi dan kesulitan keuangan korporat.

Oleh karena itu, meningkatnya prospek perang dagang turut menyulitkan usaha para pembuat kebijakan untuk mengetatkan utang di dalam ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut, khususnya dengan tanda-tanda bahwa pertumbuhan ekonomi terlihat melambat.  Data pada Mei untuk output industri, penjualan ritel, dan investasi semuanya berada di bawah perkiraan ekonom.

Media nasional China, termasuk People’s Daily juga turut berusaha untuk menenangkan pasar. Sebuah artikel dua halaman dari surat kabar Partai Komunis itu mengatakan bahwa fundamental ekonomi China belum lagi berubah kendati ada perubahan di dalam lingkungan eksternal dan domestik. Mereka mengingatkan bahwa kebijakan fiskal pemerintah merupakan penopang pertumbuhan.

Sebagai tambahan, komentar yang dituliskan oleh Niu Juanjuan di dalam Financial News yang dijalankan PBOC juga menyatakan bank sentral diharapkan untuk meningkatkan dukungan moneter yang ditargetkan dan menjadi lebih fleksibel untuk menghadapi ketidakpastian.

 

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top