GEMPA JEPANG: 3 Orang dilaporkan Tewas, Kegiatan Pabrik di Osaka dihentikan

Gempa berkekuatan 6,1 skala richter mengguncang Osaka, kota metropolitan terbesar kedua di Jepang, pada Senin (18/6/2018) pagi.
Nirmala Aninda | 18 Juni 2018 12:41 WIB
Ilustrasi gemoa - Antara

Kabar24.com, TOKYO -- Gempa berkekuatan 6,1 skala richter mengguncang Osaka, kota metropolitan terbesar kedua di Jepang, pada Senin (18/6/2018) pagi.

Dilansir melalui Reuters, pejabat setempat dan media nasional NHK menyebutkan bencana tersebut menyebabkan 3 orang tewas, kerusakan pada pipa air serta kegiatan pabrik di kawasan industri Osaka untuk sementara dihentikan.

Tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan usai gempa tersebut. Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan saat ini fokus pihak berwenang adalah untuk menghitung kerusakan dan memprioritaskan keselamatan warga.

Video rekaman menunjukkan saluran air yang pecah dan kebakaran di beberapa rumah setelah gempa menghantam Osaka, tepat sebelum pukul 8 pagi waktu setempat (2300 GMT) saat para warga sedang memulai aktivitas menuju tempat kerja.

Osaka dipilih menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi G20 tahun 2019.

Badan Meteorologi Jepang melaporkan episentrum gempa terletak di utara kota Osaka, kekuatan gempa yang semula dilaporkan 5,9 SR direvisi menjadi 6,1 SR.

Gempa tersebut mengguncang kawasan industri paling penting di Jepang. Panasonic yang berbasis di Osaka mengatakan pihaknya menghentikan produksi di dua pabriknya, satu pabrik memproduksi perangkat penerangan dan satu lagi untuk proyektor.

Daihatsu Motor Co, unit usaha Toyota Motor Corp, mengatakan pihaknya telah menghentikan produksi di pabriknya di Osaka dan Kyoto sambil memeriksa jika ada kerusakan.

Media Jepang termasuk media nasional NHK mengatakan seorang pria berusia 80 tahun dan seorang gadis 9 tahun tewas akibat tertimpa reruntuhan dinding bangunan, sementara pria lain yang berusia sekitar 80 tahun tewas setelah tertimpa rak buku.

Hingga saat ini pemerintah setempat baru mengkonfirmasi dua kematian.

"Kami sedang tidur dan terbagun secara tiba-tiba," ujar Kate Kilpatrick, 19 tahun, seorang warga negara Amerika yang tinggal di sebuah hotel di Osaka ketika gempa berlangsung.

"Kejadian tersebut sangat menakutkan karena ini adalah pertama kalinya saya merasakan gempa. Saya pikir itu adalah mimpi buruk karena saya sangat bingung," katanya. "Dunia rasanya berguncang dengan sangat agresif."

Kilpatrick yang sedang dalam kunjungan perdananya di Jepang mengatakan alarm segera berbunyi di hotel tempat dia menginap dan terdengar seruan agar tamu menghindar dari jendela.

Populasi di prefektur atau provinsi Osaka terdiri dari 8,8 juta jiwa.

Kansai Electric Power melaporkan usai gempa berlangsung tidak ditemukan gangguan pada pembangkit listrik tenaga nuklir di Mihama, Takama dan Ohi yang terletak di utara Osaka.

Lebih dari 170.000 rumah di Osaka dan prefektur Hyogo yang berdekatan dengan titik gempa kehilangan aliran listrik untuk sementara waktu dan akan kembali menyala dalam waktu dua jam.

Sharp Corp mengatakan bahwa pabrik mereka yang berada di Osaka masih beroperasi dengan normal, tetapi pabrik yang dikelola dengan Hon Hai Precision Industry dikatakan berhenti beroperasi dengan alasan pemeriksaan keamanan.

Honda Motor Co mengatakan produksi di Suzuka, di prefektur Mie, dihentikan untuk pemeriksaan tetapi tidak ada masalah yang ditemukan dan operasi kembali normal.

Sebelumnya Jepang dilanda gempa berkekuatan 9 SR yang menghantam kawasan timur laut Jepang pada 11 Maret 2011.

Gempa tersebut memicu tsunami besar yang menewaskan sekitar 18.000 orang dan memicu bencana nuklir terburuk di dunia dalam seperempat abad di pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi yang dioperasikan oleh Tokyo Electric Power.

Tag : osaka, Gempa Jepang
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top