Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS Tekan China. Desak Pengungkapan Jumlah Korban Tragedi Tiananmen

Amerika Serikat mendesak China membuat penghitungan terbuka menyeluruh dari yang terbunuh, ditahan atau hilang selama tindakan keras terhadap unjuk rasa mahasiswa di lapangan Tiananmen, Beijing, pada 1989.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 04 Juni 2018  |  18:07 WIB
AS Tekan China. Desak Pengungkapan Jumlah Korban Tragedi Tiananmen
Bendera China dikibarkan di lapangan Tiananmen untuk menyambut the Belt and Road Forum atau KTT Jalur Sutra, di Beijing, China, Sabtu (13/5). - Reuters
Bagikan

Bisnis.com, BEIJING - Peringatan tragedi Tiananmen memberi peluang bagi Amerika Serikat untuk menekan pemerintah China.

Amerika Serikat mendesak China membuat penghitungan terbuka menyeluruh dari yang terbunuh, ditahan atau hilang selama tindakan keras terhadap unjuk rasa mahasiswa di lapangan Tiananmen, Beijing, pada 1989, kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo.

Pemerintah China mengirim tank untuk memadamkan unjuk rasa pada 4 Juni 1989 dan tidak pernah mengumumkan korban tewas. Perkiraan kelompok hak asasi manusia dan saksi, jumlah korban itu berkisar dari beberapa ratus hingga beberapa ribu orang.

Tindakan keras di Tiananmen, China, 29 tahun kemudian tetap menjadi titik pertikaian China dengan banyak negara Barat.

Dalam pernyataan pada Minggu, Pompeo mengatakan teringat tentang "kehilangan nyawa orang tidak berdosa secara tragis".

"Seperti yang ditulis Liu Xiaobo dalam pidato Nobel Perdamaian 2010, yang disampaikan tanpa kehadirannya, 'hantu pada 4 Juni belum beristirahat dengan tenang'," kata Pompeo merujuk pada pembangkang China, yang meninggal pada tahun lalu ketika masih dalam tahanan.

"Kami bergabung dengan yang lain di komunitas internasional dalam mendesak pemerintah China untuk membuat perhitungan publik menyeluruh terhadap mereka yang terbunuh, ditahan atau hilang," tambah Pompeo.

Kementerian Luar Negeri China tidak segera menanggapi permintaan untuk memberikan tanggapn dan tidak menyinggung hari tersebut di media pemerintah.

Namun, Hu Xijin, penyunting tabloid nasionalis Global Times menyebut pernyataan Pompeo sebagai "aksi sia-sia" yang mewakili keinginan dunia Barat untuk ikut campur dalam proses politik China.

Partai Komunis China tidak lagi menyebutkan insiden Tiananmen untuk membantu masyarakat China bangkit, yang telah berhasil dilakukan, tambah Hu, menulis dalam bahasa Inggris di Twitter, yang diblokir di China.

Puluhan ribu orang diperkirakan berkumpul di siang hari di Hong Kong untuk memperingati peringatan tahunan itu, satu-satunya tempat di China tempat peringatan publik berskala besar seperti itu terjadi.

Di Lapangan Tiananmen, keamanan tampak ketat seperti biasanya untuk peringatan tahunan, tanpa tanda-tanda protes atau peristiwa peringatan lain.

Paspor orang asing diperiksa oleh polisi China di pos pemeriksaan hampir satu kilometer dari lapangan. Seorang wartawan Reuters diusir dan mengatakan bahwa "kegiatan wawancara" yang tidak disetujui dilarang dilakukan di lapangan pada Senin.

Dalam surat terbuka tahunan mereka, Tiananmen Mothers, yang mewakili keluarga yang meninggal, mengatakan pemerintah bersalah karena tidak menghormati dengan mengabaikan permintaan mereka untuk ganti rugi.

"Aparat kediktatoran proletar yang kuat seperti itu takut pada kita: yang tua, yang sakit, dan yang paling lemah serta paling rentan dari masyarakat kita," kata mereka dalam surat kepada Presiden China Xi Jinping.

Di Taiwan, pulau demokrasi dan berpemerintahan sendiri yang diklaim China sebagai miliknya, mantan presiden Ma Ying-jeou mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penting untuk menghadapi sejarah untuk membantu menyembuhkan luka keluarga.

"Hanya dengan melakukan itu, komunis China dapat dilihat oleh dunia sebagai kekuatan besar, yang nyata," kata tulisan Ma, yang di bawah pemerintahannya, hubungan dengan China meningkat tajam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

as china

Sumber : Antara/Reuters

Editor : Saeno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top