Bupati Malang Perintahkan Sekolah Tutup Akses Radikalisme

Bupati Malang Rendra Kresna menginstruksikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat serta seluruh kepala sekolah di wilayah itu menutup seluruh akses dan bibit-bibit radikalisme dari segala lini, termasuk di lingkungan sekolah.
Newswire | 17 Mei 2018 09:11 WIB
Ilustrasi - Seorang guru pedamping membacakan soal Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) kepada murid berkebutuhan khusus di SD Inklusi Betet I, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (3/5). - Antara

Bisnis.com, MALANG - Berbagai celah bisa dimasuki bibit-bibit radikalisme yang mendorong terjadinya aksi terorisme. Pencegahan dini dengan menutup peluang persemaian paham itu salah satunya dengan mencegah institusi pendidikan dimasuki pandangan radikal.

Bupati Malang Rendra Kresna menginstruksikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat serta seluruh kepala sekolah di wilayah itu menutup akses radikalisme dari segala lini, termasuk di lingkungan sekolah.

"Banyak jalan untuk mencegah tumbuhnya paham radikal, termasuk yang saat ini mulai menyasar anak-anak usia sekolah, banyak informasi yang mereka dapatkan dari media sosial (medsos) maupun pendidikan yang diterima di sekolah serta lingkungannya," kata Rendra Kresna di Malang, Jawa Timur, Kamis (17/5/3018).

Rendra menginstruksikan semua pihak yang peduli dengan pendidikan dan anak-anak yang bakal menjadi generasi penerus bangsa, untuk melakukan pembinaan. Diharapkan pembinaan itu bisa menjadi tameng bagi pelajar dalam menangkal paham radikal.

Ia mencontohkan, kasus teror di Surabaya dan Sidoarjo, pelaku bom bunuh diri bukan hanya orang dewasa melainkan juga anak-anak. Bahkan yang mengagetkan, anak yang selamat dalam bom bunuh diri ketika ditanya Wali Kota Surabaya, bercita-cita mati syahid.

Kondisi ini, kata Rendra, memperlihatkan anak usia sekolah sangat rentan menjadi korban bujuk rayu teroris. Apalagi, lanjutnya, informasi menyesatkan di medsos bisa diakses dari telepon seluler mereka.

Berdasarkan kondisi tersebut, kata Rendra, dirinya menginstruksikan Kepala Disdik setempat untuk melakukan pembekalan dan pengawasan berkelanjutan kepada seluruh sekolah. Pengawasan bisa dilakukan guru yang didorong untuk lebih aktif. Guru tidak hanya bertanggung jawab di sekolah, melainkan juga di luar sekolah, apalagi yang berkaitan dengan paham radikal.

Guru, lanjutnya, dituntut lebih memahami muridnya sehingga bisa melakukan deteksi dini apalagi jika terjadi sesuatu yang aneh pada siswa.

"Guru jangan hanya berfungsi di sekolah. Kalau sudah di luar sekolah tidak mau tahu, akhirnya yang terjadi, kasus di Bululawang terkait penyekapan anak oleh ibunya sendiri karena stres. Harusnya guru yang tahu anak tersebut tidak masuk sekolah sampai berbulan-bulan mendatangi rumahnya, kenapa dan ada apa," tuturnya.

Rendra berharap untuk pembekalan siswa di sekolah, Disdik bisa bersinergi dengan elemen lainnya agar materi penguatan dalam menangkal berbagai paham radikal lebih lengkap dan banyak elemen yang terlibat.

Menanggapi instruksi Bupati Malang tersebut, Kepala Disdik Kabupaten Malang M Hidayat menyatakan siap. Dirinya beserta seluruh elemen di Disdik, akan melakukan koordinasi serta aksi ke berbagai sekolah yang ada di Kabupaten Malang.

"Selama ini kami juga sudah menjalankan tugas pembinaan kepada siswa, namun yang sekarang akan sedikit berbeda karena berkaitan dengan upaya menangkal siswa-siswi dari paham radikal. Ini memang penting dan mendesak agar siswa terhindar dari informasi yang menyesatkan maupun ajaran radikal," ujarnya.

Sumber : Antara

Tag : bom, terorisme
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top