Prancis Tawarkan Diri Jadi Penengah Konflik Turki-Kurdi

Prancis menawarkan diri menjadi penengah konflik di Suriah utara setelah Turki menggelar serangan militer terhadap kelompok milisi Kurdi sejak Januari lalu.
John Andhi Oktaveri | 31 Maret 2018 01:11 WIB
Presiden Prancis Emmanuel Macron - Reuters

Kabar24.com, JAKARTA – Prancis menawarkan diri menjadi penengah konflik di Suriah utara setelah Turki menggelar serangan militer terhadap kelompok milisi Kurdi sejak Januari lalu.

Ankara terlibat pertempuran untuk mengusir kelompok milisi Kurdi, YPG (Unit Perlindungan Rakyat) yang dianggap perpanjangan Partai Pekerja Kurdi (PKK) yang telah dilarang.

Upaya untuk menjadi penengah itu dimulai setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron bertemu para elit masyarakat Kurdi. Kelompok elit itu didominasi Pasukan Demokratik Suriah (SDF), termasuk pimpinan YPG.

Macron menyatakan harapannya untuk dapat menggelar dialog antara pemerintah Turki dan para pimpinan milisi Kurdi sebagaimana dikutip BBC.com, Jumat (30/3).

Melalui kantor kepresidenan, Macron mengatakan dirinya "menghormati pengorbanan dan peran penting" Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dalam perang melawan kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam atau ISIS.

Prancis telah mengalami serangkaian serangan teror mematikan yang diklaim dilakukan oleh ISIS dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu serangan mematikan termasuk serangan di Paris yang menewaskan 130 orang pada 2015.

Pekan lalu, seorang simpatisan ISIS membunuh tiga orang dalam serangan di wilayah Prancis selatan. Salah satu korban tewas adalah perwira polisi setelah bertukar tempat untuk menjadi pengganti seorang sandera.

Mengapa Prancis mendukung SDF? SDF adalah sekutu utama Amerika Serikat dalam perang melawan ISIS dan milisi Kurdi YPG merupakan bagian inti dari kelompok tersebut.

Prancis dan AS telah memberikan bantuan senjata dan pelatihan kepada kelompok milisi itu mendukung pertempuran melawan ISIS.

AS juga mendukung pernyataan YPG bahwa mereka tidak memiliki hubungan organisasi langsung dengan PKK, yang oleh Turki disebut sebagai kelompok teroris.

Macron mengatakan bahwa Prancis akan mendukung "upaya stabilisasi" zona keamanan di wilayah timur laut Suriah demi menghentikan pasokan bantuan kekuatan kepada ISIS.

Para pejabat Kurdi mengatakan Macron telah berkomitmen untuk mengirim lebih banyak pasukan ke wilayah itu. Akan tetapi Paris menolak berkomentar tentang hal tersebut.

Seberapa berbahaya konflik di Suriah utara?

Awal bulan ini Turki mengusir para milisi Kurdi dari kota Afrin. Para aktivis mengklaim 280 warga sipil telah tewas akibat serangan itu, kendati angka itu ditolak oleh Ankara. Sedangkan sekitar seperempat juta warga sipil dilaporkan telah meninggalkan kota tersebut.

Sejak saat itulah, Turki mengancam akan menyerang Kota Manbij yang dikendalikan kelompok SDF. Pada 2 tahun lalu, SDF dengan dukungan pasukan AS mengambil alih wilayah itu dari ISIS.

Turki telah mengeluarkan ultimatum, pada Rabu lalu, yang mengatakan akan melakukan tindakan militer jika para pejuang Kurdi tidak segera hengkang dari wilayah tersebut.

Sumber : BBC

Tag : kurdi
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top