Aturan SVLK Bebani Eksportir Mebel Jateng

Para pelaku industri mebel Jawa Tengah (Jateng) menilai, penerapan Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) dinilai menjadi beban tersendiri bagi para produsen, terutama yang berbasis ekspor.
Yustinus Andri DP | 14 Maret 2018 20:49 WIB
Pekerja menyelesaikan pembuatan kursi rotan untuk acara pernikahan putri Presiden Joko Widodo, Kahiyang Ayu dengan Bobby Nasution, di sentra industri rotan Tangsan, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (2/11). - ANTARA/Maulana Surya

Bisnis.com, SEMARANG—Para pelaku industri mebel Jawa Tengah (Jateng) menilai, penerapan Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) dinilai menjadi beban tersendiri bagi para produsen, terutama yang berbasis ekspor.

Bernardus Arwin, Wakil Ketua Umum Bidang Promosi & Pemasaran Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI),  mengatakan penerapan SLVK selama ini belum memberikan manfaat bagi para eksportir mebel di pasar global. Sebaliknya, aturan itu justru membebani pengusaha mebel berskala kecil.

“Industri kecil menengah di Jateng kebanyakan tidak punya sertifikat SVLK. Akhirnya mereka tidak boleh ekspor. Padahal kalau ingin mempunyai harus membayar cukup mahal per tahunnya,” katanya hari ini Rabu (14/3/2018).

Menurutnya, Kondisi tersebut menekan upaya pelaku industri mebel berskala kecil semakin sulit masuk ke pasar global. Hal itu otomatis membuat pangsa pasar mereka terus tergerus setiap tahunnya, terutama ke pasar Uni Eropa yang menjadikan sertifikat SVLK sebagai syarat utama untuk masuk bagi para importir.

Hal senada pun diakui oleh salah satu eksportir mebel asal Jateng Erie Sasmito. Pemilik UD Permata Furni tersebut mengakui bahwa aturan penggunaan SLVK, membuat para pengusaha berskala kecil beralih profesi selama beberapa tahun terakhir.

“Penerapan SVLK ini membuat oara eksportir kecil  sekarang beralih jadi perajin atau suplier, sementara yang besar-besar justru semakin berkibar. Ini harus jadi perhatian sebenarnya,” ujar Erie.

Dia mengklaim, kendati mengalami pertumbuhan, ekspor produk olahan kayu terutama mebel lebih banyak dikuasai oleh para pengusaha berskala besar. Kebijakan itu membuat dampak dari aktivitas ekspor mebel di Jateng tidak tumbuh secara merata.

Seperti diketahui, berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng ekspor kayu dan barang dari kayu pada 2017 lalu mencapai US$969,72 juta, naik dari 2016 yang mencapai US$969,72 juta.

Erie memperkirakan bahwa permintaan dari dalam maupun luar negeri pada produk mebel pada tahun ini akan mengalami kenaikan dari 2017. Dia memproyeksikan kenaikan permintaan akan mencapai kisaran 7%-10%.

Menurut Erie, mayoritas pelaku industri mebel berbasis ekspor di Jateng pada tahun ini telah melakukan penjajakan ke sejumlah pasar baru, seperti Afrika Selatan. Langkah itu dinilai akan semakin meningkatkan pangsa pasar ekspor mebel di Jateng yang selama ini lebih banyak menuju China, Malaysia dan Singapura. 

Tag : svlk
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top