Korupsi KTP-e: Inilah Sandi yang Digunakan Partai di DPR

Saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi KTP-Elektronik mengonfirmasi adanya penggunaan kata sandi dari jenis-jenis minuman keras (miras) untuk berbagai partai di DPR.
Martin Sihombing | 12 Maret 2018 17:31 WIB
Massa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Untuk Darurat Anggaran Republik Indonesia (Garuda RI) melakukan aksi unjuk rasa menuntut penuntasan kasus korupsi e-KTP di Solo, Jawa Tengah, Kamis (23/3). - Antara/Mohammad Ayudha

Bisnis.com, JAKARTA -  Saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi KTP-Elektronik mengonfirmasi adanya penggunaan kata sandi dari jenis-jenis minuman keras (miras) untuk berbagai partai di DPR.

"Pengiriman uang ketiga, saya diminta kirim ke rumah dan ada sisa uang kurang lebih 1 juta dolar AS. Waktu penerimaan uang yang terakhir itu, Pak Irvanto menulis di selembar kertas, dia bilang ini buat senanyan dan mengganti dengan kode-kode biru dan kuning dengan nama minuman," kata Muhammad Nur alias Ahmad dalam sidang di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (12/3/2018).

Ahmad menjadi saksi untuk mantan Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) yang didakwa menerima US$7,3 juta dan jam tangan Richard Mille senilai US$135 ribu dari proyek KTP-Elektronik. "Saya ingat namanya McGuire, Black Label, Chivas Regal," ungkap Ahmad.

Ahmad menjelaslan kode merah untuk Senayan itu diistilahkan dengan minuman merek "McGuire", kode biru disandikan dengan "Vodka" dan kode kuning menjadi "Chivas Regal".

"Saya melihat dia menulis, agak sekilas dia bilang sih pokoknya merah dengan 'McGuire', kuning dengan 'Chivas Regal', biru dengan 'Vodka', ditulis kertas selembar, tapi saya tidak lihat ada pembagian, cuma kode-kode saja," tambah Ahmad.

"Ada yang Black Label?" tanya jaksa penuntut umum KPK.

"Lupa Pak," jawab Ahmad.

Ahmad mengaku atas jasanya mengambil dan mengantar uang dolar itu ia diberikan imbalan motor.

"Ini tiga kali terima uang dari Iwan Barala (manager money changer), lalu dapat motor Tiger, seharga Rp20 juta," ungkap Ahmad.

Dalam dakwaan Setnov disebutkan Setnov menerima uang US$7,3 juta  melalui Made Oka Masagung (rekan Setnov dan juga pemilik OEM Investmen Pte.LTd dan Delta Energy Pte.Lte yang berada di Singapura) seluruhnya US$3,8 juta melalui rekening OCBC Center branch atas nama OEM Investmen Pte Ltd sejumlah US$1,8 juta  dan melalui rekening Delta Energy Pte Ltd di bank DBS Singapura sejumlah US$2 juta Setnov juga menerima uang dari mantan direktur PT Murakabi Sejahtera Irvanto Hendra Pambudi Cahyo (keponakannya) tanggal 19 Januari - Februari 2012 seluruhnya berjumlah US$3,5 juta.

Irvanto ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dan ditahan sejak 9 Maret 2018.

Sumber : ANTARA

Tag : korupsi e-ktp
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top