Annyeong Haseyo! Begini Uniknya Valentine di Korea Selatan

Semakin banyak pemberitaan tentang Korea Selatan akhir-akhir ini, terutama dengan berlangsungnya Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang. Segala hal menarik tentang budaya Korea pun meruap, termasuk bagaimana orang Korea Selatan merayakan Hari Valentine.
Renat Sofie Andriani | 14 Februari 2018 09:30 WIB
Ilustrasi Hari Kasih Sayang - Istimewa

Kabar24.com, JAKARTA – Semakin banyak pemberitaan tentang Korea Selatan akhir-akhir ini, terutama dengan berlangsungnya Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang. Segala hal menarik tentang budaya Korea pun meruap, termasuk bagaimana orang Korea Selatan merayakan Hari Valentine.

Seperti di Amerika Serikat (AS), tanggal 14 Februari juga dirayakan sebagai Hari Valentine (Valentine's Day) di Korea Selatan. Tapi menariknya, di Korsel (juga Jepang dan Taiwan), hanya wanita yang memberi hadiah.

Dilansir bigthink.com, secara tradisional, wanita memberi coklat kepada pria sebagai tanda kasih sayang. Momen ini sebaiknya dimanfaatkan benar-benar oleh kaum wanita di sana dengan seroyal mungkin memanjakan para pria.

Kenapa? Karena sebulan kemudian, pada tanggal 14 Maret, para pria akan membalas pemberian mereka pada momen yang disebut White Day. Tak tanggung-tanggung, setiap pria harus membalas pemberian wanita tiga lipat nilai yang didapat pada Februari. Ini adalah bagian dari 'Rule of Three' yang berlaku di Korsel.

Itu artinya, pria harus menghabiskan uang mereka tiga kali lipat dari apa yang telah dihabiskan seorang wanita untuknya. Tidak hanya permen, tapi juga bunga, boneka binatang, pakaian dalam, bahkan perhiasan.

Bagaimana seorang pria membalas pemberian mereka menandakan apa yang dipikirkannya tentang hubungannya. Jika pria tidak memberi wanitanya hadiah, itu berarti dia berpikir kedudukannya ada di atas si wanita. Tapi jika pria memberi hadiah dengan nilai yang sama dan tidak mematuhi aturan 'Rule of Three', maka hubungan itu berakhir.

Dewasa ini, di Hari Valentine, seorang wanita akan membeli cokelat untuk rekan kerja dan temannya juga, tapi ada perbedaan antara coklat sekadarnya dan murni karena cinta. Jika cokelat, atau permen, adalah buah tangannya sendiri, bisa jadi itu tanda cinta. Tapi pastinya si wanita harus menunggu sampai satu bulan kemudian untuk mendapatkan jawabannya.

Jangan khawatir, jika seseorang tidak menerima hadiah pada Hari Valentine ataupun White Day, Korea Selatan memiliki solusi untuk mengobati hati yang luka.

Momen itu disebut Black Day yang dirayakan setiap tanggal 14 April. Pada hari itu, para lajang berkumpul bersama teman-teman mereka yang juga berstatus lajang, pergi ke restoran Cina-Korea, dan makan mie hitam (jajangmyeon).

Awalnya, Black Day adalah saat bagi para lajang untuk berkumpul dan menghapus lara dengan makanan kesukaan favorit mereka. Ada semacam tekanan di usia 20-an untuk menikah dan mempunyai anak.

Jadi, para lajang di Korsel tidak hanya merasa sedih karena menjadi lajang, tapi juga karena belum memenuhi kewajiban sosial mereka, yang sangat penting dalam budaya Asia Timur. Pada hari itu ada yang mengenakan busana hitam, beberapa wanita bahkan memakai cat kuku hitam.

Namun, seiring berkembangnya zaman, tekanan sosial tradisional tidak lagi dinilai sesuai. Banyak warga Korsel merasa jenuh dengan komersialisme dan hal-hal yang dipaksakan. Black Day pun kemudian dirayakan oleh para lajang untuk meluangkan waktu bersama teman-temannya, memakan makanan sehat, dan memutuskan apa arti menjadi lajang sebenarnya bagi mereka.

Menarik bukan? Bagaimana, Anda tertarik tinggal di Korea Selatan?

Tag : valentine, korea selatan
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top