Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

LTT Padi di Ponorogo Capai 78.000 Ha Lewat Upsus

Luas Tambah Tanam (LTT) padi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur mencapai 78.000 hektare (ha), melampaui target yang ditetapkan yaitu 72.000 ha, lewat program Upaya Khusus (Upsus).
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 16 Januari 2018  |  06:22 WIB
LTT Padi di Ponorogo Capai 78.000 Ha Lewat Upsus
Panen Padi. - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, MALANG - Luas Tambah Tanam (LTT) padi di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur mencapai 78.000 hektare (ha), melampaui target yang ditetapkan yaitu 72.000 ha, lewat program Upaya Khusus (Upsus).

Kepala Dinas Pertanian Kab. Ponorogo Kadistan mengatakan daerah tersebut telah berhasil melampaui target LTT dari total 7 kecamatan yang ada. “Produksi beras kami saat ini sekitar 500.000 ton, sedangkan konsumsi hanya sekitar 196.000 ton-200.000 ton. Jadi, Ponorogo masih surplus beras sekitar 300.000 ribu ton,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (15/1/2018).

Pernyataannya itu disampaikan dalam safari panen padi yang dihadiri oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) M. Syakir dan bertempat di lahan kelompok tani “Tani Makmur” Desa Paringan Kec. Jenangan, Kab. Ponorogo, Sabtu (13/1/2018).

Kadistan menegaskan Upsus padi di Kab. Ponorogo membuahkan hasil yang nyata. Surplus beras di Ponorogo tidak lepas dari dukungan pihak dari TNI dalam hal pengawasaln serta Kementerian Pertanian (Kementan) yang telah memberikan berbagai sarana dan prasarana pertanian.

Ponorogo telah mendapat kucuran dana sebesar Rp27 miliar yang dialokasikan untuk pengadaan pupuk organik cair. Hal ini berdampak nyata terhadap peningkatan produksi sebesar 0,7 ton-1,4 ton/ha.

Syakir menuturkan Kementan telah berupaya mendampingi petani dengan berbagai kebijakan a.l bantuan benih Varietas Unggul Baru (VUB) dan perbaikan jaringan irigasi tersier seluas 3 juta ha. Ketersediaan air juga merupakan faktor utama peningkatan Indeks Pertanaman (IP) padi.

Kadistan menambahkan saat ini telah dikembangkan sumur bor dalam yang diharapkan mampu menyediakan air sepanjang tahun sehingga produksi beras bisa terus berlangsung sepanjang tahun. Produksi beras yang kontinu diharapkan dapat menjaga stabilitas harga di pasaran.

Saat ini, harga berkisar Rp5.500-Rp5.600/kg Gabah Kering Panen (GKP) dengan perontokan manual, sedangkan dengan menggunakan power tresher sebesar Rp5.700-Rp5.800/kg GKP. Harga Gabah Kering Giling (GKG) di lokasi ini dilaporkan berkisar Rp 6.700-Rp6.800/kg.

Sebelum menyambangi Kab. Ponorogo, Balitbangtan Jawa Timur sebelumnya singgah di Kab. Malang, Blitar, dan Tulungagung. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa panen masih berlangsung di berbagai wilayah lumbung padi di provinsi itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

panen padi
Editor : Annisa Margrit
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top