Ingin Penghasilan Lebih Tinggi di Kalbar? Ini Caranya

Industri komoditas Kalimantan Barat mesti bergerak dari produksi bahan mentah ke produk jadi atau hilirisasi supaya penghasilan pekerja meningkat dari low income menjadi high income.
Yanuarius Viodeogo | 08 Desember 2017 14:06 WIB
Dua orang petani meninjau perkebunan sawit milik mereka. BI Kalbar mengimbau ada proses hilirisasi sawit demi mendongkrak pendapatan. - Antara/Septianda Perdana

Kabar24.com, PONTIANAK - Industri komoditas Kalimantan Barat mesti bergerak dari produksi bahan mentah ke produk jadi atau hilirisasi supaya penghasilan pekerja meningkat dari low income menjadi high income.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kalbar Dwi Suslamanto mengatakan industri hilir menjamin pemberian upah atau penghasilan yang tinggi dibandingkan dengan mereka yang hanya bekerja pada industri memproduksi bahan mentah.

“Kalau hanya mengandalkan CPO [minyak kelapa sawit] dan bauksit, sulit ke high income dan kita akan terjebak dengan pendapatan menengah dalam jangka waktu yang panjang,” kata Dwi.

Sebagai informasi, upah minimum provinsi (UMP) Kalbar pada 2018 nanti menjadi Rp2.046.900 atau naik 8,25 dari tahun lalu yang senilai Rp1.882.900.

Dia menyebutkan sejumlah negara tetangga Indonesia yang berhasil keluar atau lepas dari pendapatan menengah ke tinggi adalah Thailand, Malaysia dan Singapura. Hal itu disebabkan negara-negara tersebut peduli dengan industri hilir serta kualitas manusianya dengan memperhatikan pendidikan para pekerja.

“Nah, yang bekerja di situ [kelapa sawit dan bauksit] rendah gajinya. Jadi SDM harus ditingkatkan dari SD ke SMP setelah itu lebih tinggi lagi supaya gajinya naik. Peran pemerintah kalau sudah banyak lulusan SMP diperbanyak sekolah SMK,” ujarnya.

Cara lain, menurutnya, peran pemerintah tidak terpaku pada satu sektor saja di sekitar masyarakat atau bisa membuka peluang sektor lain seperti contohnya pariwisata untuk menambah lebih penghasilan warga.

Dia memberikan contoh keberhasilan masyarakat di Kabupaten Mempawah, yang hidup di sekitar kawasan pesisir mangrove. Masyarakat di sana, lanjutnya, tidak menunggu waktu musim melaut ketika cuaca buruk.

“Di saat tidak melaut, warga menjadi pemandu wisatawan sehingga masyarakat punya dua pendapatan. Paginya tidak menjadi nelayan bisa mengantar wisatawan, lalu tidak ada wisatawan bisa melaut mencari ikan,” ucap Dwi.

Tag : kalbar
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top