GUNUNG AGUNG MELETUS: Masyarakat Bali Bersikap Tenang. Ini Sebabnya

Letusan yang terjadi di Gunung Agung tidak membuat warga Bali panik. Mereka tetap tenang mengikuti prosedur yang sudah disosialisasikan dalam mitigasi sebelumnya.
Ema Sukarelawanto | 21 November 2017 18:57 WIB
Salah satu lokasi favorit pengambilan gambar Gunung Agung di Kecamatan Sidemen Kabupaten Karangasem. - Bisnis/Feri Kristiyanto

Kabar24.com, DENPASAR -Letusan yang terjadi di Gunung Agung tidak membuat warga Bali panik. Mereka tetap tenang mengikuti prosedur yang sudah disosialisasikan dalam mitigasi sebelumnya.

Meski berita erupsi gunung Agung dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi cepat menyebar melalui media sosial, masyarakat tetap tenang karena belum terdengar sirine maupun tanda bahaya lainnya.

Berdasarkan laporan PVMBG Gunung Agung meletus pada pukul 17:05 WITA, Selasa (21/11/2017). Gunung berapi mengeluarkan asap bertekanan sedang dengan warna kelabu tebal dengan ketinggian maksimum sekitar 700 m di atas puncak.

Abu letusan Gunung Agung bertiup lemah ke arah Timur-Tenggara. Letusan dari Gunung Agung diprediksi masih akan terus berlangsung. Masyarakat di kawasan Gunung Agung diminta agar tetap tenang namun senantiasa mengikuti rekomendasi PVMBG dalam Status Level III (Siaga).

Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri yang dihubungi pukul 18.36 wita mengatakan wilayahnya masih aman. “Di sini masih aman, saya minta masyarakat tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah,” katanya.

Ketika itu Sumatri sedang melakukan rapat di Kantor Bupati Karangasem bersama pimpinan organisasi pemerintah daerah. Ia mengatakan terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Agung dan berkoordinasi dengan lembaga resmi yakni PVMBG.

Ketua Kadin Kabupaten Karangasem Ida Wayan Cakra Wedha Kusuma ketika dihubungi sedang dalam perjalanan kembali dari proyek di Kubu ke Amlapura, Ibu Kota Karangasem.

Pada saat dihubungi Cakra Wedha mengaku sedang dalam mobil di jalan raya yang berada di kawasan rawan bencana. Ketika erupsi pada 1963 daerah itu merupakan jalur lahar. Dia mengatakan tidak ada abu maupun kepanikan warga.

“Ini cuaca mendung, suasana desa tenang tidak ada kepanikan. Tadi sebelum berangkat kami tak merasakan gempa atau bunyi sirine. Nanti kalau ada perkembangan akan saya informasikan,” katanya.

Memang, dia mengaku telah mendapatkan informasi yang beredar di grup WhatsApp yang diikuti sekitar pukul 18.00 wita. Dia berharap kalaupun terjadi bencana bisa dilakukan antisipasi dan penanggulangan sebaik mungkin sesuai mitigasi yang telah dilakukan sebelumnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gunung agung

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top