Pengunjuk Rasa Sambut Kedatangan Donald Trump ke Filipina

Kedatangan Donald Trump ke Filipina disambut aksi unjuk rasa bahkan sebelum Presiden Amerika Serikat itu tiba.
Saeno | 12 November 2017 15:59 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Ibu Negara Amerika Serikat, Melania Trump, menaiki Air Force One saat mereka berangkat menuju Seoul dari Pangkalan Angkatan Udara Amerika Serikat Yokota berlokasi di Fussa, pinggiran kota Tokyo, Jepang, Selasa (7/11/2017). - Reuters

Kabar24.com, MANILA - Kedatangan Donald Trump ke Filipina disambut aksi unjuk rasa bahkan sebelum Presiden Amerika Serikat itu tiba.

Polisi antihuru hara menggunakan mobil water canon untuk mencegah ratusan pengunjuk rasa mencapai kedutaan besar AS di Manila, Minggu (12/11/2017).

Peristiwa ini terjadi hanya beberapa jam sebelum kedatangan Trump di Filipina untuk menghadiri pertemuan puncak dengan pemimpin negara-negara di Asean dan mengakhiri lawatannya di Asia.

Membawa plakat bertuliskan "Dump Trump" dan "Turunlah bersama Imperialisme AS", pengunjuk rasa itu dihadang polisi dengan peralatan antihuru hara berupa tameng dan pentungan. Massa kemudian disemprot air dari mesin pemadam kebakaran.

"Trump adalah CEO pemerintah imperialis AS," kata mahasiswa berusia 18 tahun Alexis Danday setelah para pemrotes tercerai berai oleh tembakan water canon.

"Kami tahu dia ada di sini untuk mendorong perjanjian yang tidak adil antara Filipina dan AS, " kecamnya.

Trump diperkirakan tiba di Filipina sekitar pukul 5 sore untuk melakukan pertemuan dengan para pemimpin negara Asean dan negara-negara Asia Timur lainnya, yang baru saja menyelesaikan pertemuan puncak Asia Pasifik dan kunjungan bilateral di Vietna

Sebelumnya di Hanoi, pada hari Minggu, Trump mengatakan bahwa dia siap untuk menengahi sengketa di Laut China Selatan, di mana empat negara Asean dan Taiwan menyodorkan klaim China atas jalur tersebut.

"Jika saya dapat membantu menengahi atau melakukan arbitrase, tolong beritahu saya," kata Trump pada sebuah pertemuan dengan Presiden Vietnam, Tran Dai Quang. "Saya adalah mediator dan arbitrator yang sangat baik."

Pada Agustus, para menteri luar negeri Asia Tenggara dan China mengadopsi kerangka negosiasi untuk kode etik di Laut Cina Selatan, sebuah langkah yang mereka anggap sebagai sebuah langkah maju. Di sisi lain, para kritikus menilai hal itu sebagai taktik mengulur waktu bagi China untuk mengkonsolidasikan kekuatannya.

Kerangka kerja tersebut berupaya memajukan Deklarasi Perilaku (DOC) 2002 di Laut China Selatan, yang sebagian besar telah diabaikan oleh negara-negara yang mengajukan klaim, khususnya China, yang telah membangun tujuh pulau buatan di perairan yang disengketakan, tiga di antaranya dilengkapi dengan landasan pacu, rudal permukaan-ke-udara dan radar.

Kerangka kerja tersebut akan disahkan oleh China dan 10 negara Asean di Manila, Senin, ujar seorang diplomat dari salah satu negara Asean.

Trump akan bertemu Presiden Filipina Rodrigo Duterte di Manila, untuk memperkuat hubungan yang tegang dan merespons antusiasmenya Duterte membangung hubungan yang lebih baik dengan Rusia dan China.

Selain Trump, Perdana Menteri China Li Keqiang, Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev dan pemimpin dari Jepang, Kanada, Korea Selatan, India, Australia, Selandia Baru juga diagendakan hadir.

Sumber : Reuters

Tag : Donald Trump
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top